67 (beli es krim)

1.6K 136 12
                                        

Sejak beberapa hari lalu sang sulung tidak mau jauh dari sang ayah sama sekali. Bahkan tidak biasanya Argo mau mandi bersama dengan Stevan.

Seperti beberapa menit lalu Stevan baru saja mandi bersama sang sulung yang sekarang asyik memainkan telinga dia.

"Abang kenapa nak?" tanya Stevan khawatir.

"Abang tidak suka jadi dewasa," keluh Argo kepada sang sulung.

"Nikmati masa remajamu ya. Kalau abang memerlukan bantuan beritahu papa atau mama saja ya," ujar Stevan.

"Kakak sama adek dimana?" tanya Argo.

"Mereka paling juga belum bangun," jawab Stevan.

"Tidak masalah abang homeschooling?" tanya Argo memastikan.

"Tidak apa-apa. Asal kamu suka saja dengan keputusanmu itu," jawab Stevan.

"Entahlah abang bingung," ujar Argo.

"Kita pakai baju dulu kasihan burungnya kedinginan," ujar Stevan.

Mendengar ucapan Stevan barusan membuat kedua pipi Argo memerah. Remaja itu turun dari gendongan Stevan mau memakai baju di kamarnya.

Tingkah sang anak membuat Stevan terkekeh geli. Dia dengan segera memakai kemeja hitam dan celana bahan hitam.

Suara nada dering hp dari sang tangan kanan dengan segera diangkat oleh Stevan.

Edward : lu ada dimana?

Stevan : rumah

Edward : lu bilang mau nyerang markas si kampret hari ini!

Stevan : nanti aja sih besok

Edward : untung lu temen gua

Stevan : argo manja lagi! Aku yakin dia gak bakalan mau jauh dariku

Edward : bawa aja sih ikut penyerangan

Stevan : mau lihat dia obrak-abrik organ manusia?

Edward : gak makasih. Anak lu kayak bukan manusia kalau gitu

Di sisi Edward dia merinding membayangkan dimana minggu lalu Argo dengan santai memainkan organ manusia.

Stevan : mengenai serangan lebih baik dini hari saja. Aku akan berbicara dulu dengan istriku

Edward : baiklah

Sambungan telepon terputus begitu saja oleh Edward. Stevan tidak masalah dia keluar kamar setelah dirasa rapih.

Di ruang tamu Argo tengah bermain bersama kedua adiknya. Mereka menyusun berbagai balok untuk disusun membentuk sebuah bangunan.

Sang bungsu bahkan sangat bersemangat hingga tumpukan balok tersebut ambruk disebabkan terlalu tinggi. Fano cemberut melihat hasil karyanya jatuh begitu saja.

"Kita susun ulang. Untuk kali ini jangan terlalu tinggi okey," nasihat Argo.

"Oke abang!" pekik Fano bersemangat.

Argo mengelus rambut sang adik. Mereka berdua bangun saat Argo menghampiri kamar Rimba. Adik pertamanya itu membawa sang bungsu ke kamar agar bisa tidur bersama.

"Abang sekarang suka sekali dekat dengan papa," keluh Rimba.

"Kan biasanya abang tidak begitu juga," sahut Argo.

"Tahu tuh! Adek cemburu tahu!" pekik Fano.

"Yah sudah abang tidak mau deket sama papa lagi," ujar Argo.

Wajah Argo seketika mendung remaja berusia dua belas tahun mengerti. Belakangan ini sikap dia terpengaruh oleh keinginan sisi remajanya yaitu ingin diperhatikan oleh kedua orangtuanya.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang