16 (sekolah)

3.5K 250 11
                                        

Sekolah bernama Sekolah Ciputra merupakan sekolah berbasis internasional yang menawarkan program pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas, menggunakan kurikulum International Baccalaureate (IB). Lokasinya berada di Puri Widya Kencana, Citraland, Surabaya."

Sekolah ini menyediakan berbagai fasilitas, seperti ruang kelas dengan WiFi, laboratorium komputer dan sains, Learning Resource Centre untuk meningkatkan kemampuan bahasa juga terdapat koleksi buku, majalah, dan permainan edukasi, ruang kesenian, lapangan olahraga dilengkapi gym dan kolam renang, serta ruang kesehatan."

Di kelas Argo nampak mendengarkan setiap penjelasan guru. Dia mencatat setiap poin penting apa yang disampaikan oleh sang guru. Di sekolah Argo tidak mengikuti semacam eskul dia lebih suka belajar saja tidak lebih.

Waktu terus berjalan hingga bel istirahat berbunyi Argo tetap duduk di kursinya. Kursi kelas yang memang diperuntukkan hanya untuk satu siswa saja. Bahkan di kelas Argo hanya ada sekitar dua puluh orang saja.

Bantingan pintu amat keras membuyarkan lamunan Argo disana ada sosok sang adik bersama kedua sahabatnya. Rimba menyengir kearah sang abang.

"Halo kak!" sapa sahabat Rimba.

Bocah seumuran Rimba dengan ciri fisik berkulit sawo matang, rambut hitam legam, mata belo, dan lesung pipi ketika di kedua pipinya. Dia bernama Bagas Gumilar.

Satu lagi bocah berwarna chinese. Rambut bermodel cepak rapih ala tentara, bermata sipit, kulit putih bersih dan senyuman yang dipadukan dengan gingsulnya. Namanya Guan Lin atau biasa dipanggil Aan oleh Rimba karena sulit menyebutkan namanya.

"Hai juga," sahut Argo.

"Yuk jajan!" ajak Rimba.

Sang adik yang tidak sabaran menarik tangan Argo melewati kedua sahabatnya begitu saja. Mereka diam saja terbiasa akan tingkah Rimba.

Di kantin semua jajan telah tersedia lengkap. Hanya tinggal pilih saja apa yang diinginkan. Rimba mengkode kedua sahabatnya agar membelikan sesuatu.

Bocah yang sebentar lagi akan beranjak remaja termenung memikirkan tentang rentetan kejadian di masa lalu di kehidupan pertamanya dulu. Dia menyusun semua skenario di dalam pikiran agar telah diketahui oleh sama sekali.

Dimulai dari kemunduran Fano sang adik untuk memulai sekolah dan tentang pengawal pribadi adiknya. Argo susun rencana di dalam otaknya secara rapih bahkan tanpa celah agar musuh di masa depan tidak masuk dalam lingkaran keluarganya.

Tak lama ada makanan berupa steak sapi dan jus mangga. Pesanan mereka sama tidak ada bedanya sama sekali. Mereka berdoa sebentar menurut kepercayaan masing-masing. Selesai berdoa mereka menyantap makanan dengan tenang.

"Oh iya kak!" panggil Bagas.

"Ada apa?" tanya Argo.

"Tumben banget tidak pindah tingkatan," ujar Bagas.

"Bener tuh. Biasanya kakak baru semester satu udah loncat kelas," timpal Guan.

"Bosan," sahut Argo.

"Lha jadi kakak enak lho. Jenius mudah pindah tingkatan begitu saja," ujar Bagas.

"Sebuah kelebihan akan berdampak juga," ujar Argo.

"Benar juga sih. Karena sering pindah tingkatan kakak tidak punya teman dekat saat ini," ujar Guan.

"Mereka mungkin merasa tidak percaya diri berdekatan dengan kakak," ujar Bagas.

"Kenapa perlu merasa tidak percaya diri?" bingung Rimba tidak mengerti.

"Kakakmu sangat jenius lho. Itu salah satu hal yang membuat mereka merasa iri terhadap kakak kamu," sahut Guan.

"Memang kalau jenius kenapa?" tanya Rimba masih tidak mengerti.

"Bukan apa-apa," sahut Argo.

"Besok aku akan liburan ke rumah nenek di kampung halaman bunda," ujar Bagas.

"Nenek?" beo Rimba.

"Memang kau tidak tahu?" tanya Guan.

"Aku tidak punya nenek. Aku hanya punya dua kakek saja," jawab Rimba.

"Oh berarti nenekmu sudah meninggal semua," ujar Bagas.

"Meninggal itu apa?" tanya Rimba tidak mengerti.

"Kak adikmu ini polos atau bodoh sih?" tanya Guan kepada sang kakak Argo.

"Aku tidak bodoh!" kesal Rimba tidak terima ucapan sahabatnya.

Akhirnya mereka bertengkar sementara Argo menonton saja tidak mau memisahkan. Bagi Argo biarkan saja tindakan Rimba asal tidak ada bahaya.

'Bug' seorang siswa berseragam sama seperti Argo memukul bagian belakang Rimba. Argo membalasnya dengan membalas tindakan orang tersebut.

"Ck kau lagi!" kesal orang tersebut.

"Rimba Dan Jovetic adik pertamaku. Kau berniat membully hah?!" kesal Argo menarik kerah baju siswa yang tingginya hanya sebatas dagunya saja.

"Ck jangan pikir dengan kau lebih tinggi dariku kau bisa seenaknya!" kesalnya.

Argo tidak peduli dia memukul wajah sang lawan. Mereka berdua berkelahi di satu sisi Rimba diam saja malah duduk santai bersama kedua sahabatnya. Rimba percaya bahwa sang kakak akan menang melawannya.

Suara teriakan seorang guru menghentikan aksi berkelahi mereka. Sudut bibir Argo mengeluarkan sedikit darah dan Argo memegang bahunya yang mengeluarkan darah sedikit. Lawan Argo babak belur akibat ulah Argo menghajarnya tanpa ampun.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Rabu 14 Februari 2024

Hehehe selamat merayakan hari kasih sayang dan selamat juga kita telah memiliki presiden baru dan wakil presiden yang baru.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang