Di sebuah ruangan serba hitam, ada sosok anak remaja tengah terkepung oleh puluhan orang dewasa. Dia memperhatikan keadaan sekitar mencari titik buta diantara kerumunan orang tersebut.
Awalnya dia hanya mengintai saja ternyata ketahuan. Tidak ada pilihan lain untuk bertarung agar bisa lolos dari sini. Mereka tertawa keras menakuti sosok yang lebih kecil dari mereka semua. Tanpa mereka tahu bahwa Argo tidak takut sama sekali.
"Namamu siapa bocah?" tanya salah satu pria.
Remaja itu adalah Argo. Dia nekat tanpa persiapan masuk sendiri ke markas musuh. Dia iseng saja mengikuti langkah kaki musuh berakhir disini.
Sedikit menaikkan topeng sosok Argo menatap remeh kearah musuh. "Bocah keajaiban bernama Ar. Sosok yang akan menghabisi bos kalian di masa depan," jawab Argo santai.
Mendengar nama sang bos disebut mereka kompak mengarahkan pistol kearah Argo. Lirikan mata elang Argo menatap semua pistol yang akan menembak dia. Beberapa detik sebelum peluru dilepaskan Argo menendang salah satu pria kearah samping.
Suara tembakan saling bersahutan. Ulah Argo berhasil melumpuhkan mereka semua. Mereka tidak siap untuk menghadapi musuh seperti dia.
Darah segar mengenang di bawah kaki Argo. Sudah dipastikan mereka mati sebentar lagi. Argo menunduk mengambil sedikit darah di lantai untuk dia cium sejenak.
Telunjuk Argo yang berlumuran darah berada tepat di hidungnya. Dia menghirup aroma amis darah. Raut wajah Argo datar saja, terkesan menikmati sensasi aneh bagi orang lain.
Dia menuliskan sebuah pesan di salah pria yang terkapar menggunakan darah. Selesai melakukan hal tersebut dia keluar dari tempat gelap tersebut.
"Kau seperti biasa sulit ditebak nak," ujar sang ayah.
Stevan duduk di kap mobil sendirian. Sang tangan kanan berada di luar kota untuk mengurusi tikus kecil. Argo berlari untuk memeluk tubuh sang ayah.
"Seru!" pekik Argo senang.
"Kita masuk!" ajak Stevan kepada sang anak.
Mereka berdua masuk tak lupa Stevan mengganti nomor plat mobil sebelum pergi. Dia yakin seorang musuh akan mengintai keberadaannya.
Di mobil Argo duduk di kursi tengah. Dia berbaring disana bahkan memeluk guling berbentuk pisang. "Papa!" panggil Argo.
"Kenapa nak?" tanya Stevan.
"Abang boleh membunuh dalang dibalik adek diculik ya," sahut Argo.
"Itu memang perbuatan kamu. Kau lupa bahwa alter egomu yang melakukannya," terang Stevan mengingatkan sang anak.
"Abang lupa," ucap Argo polos.
"Bunuh berapa tadi?" tanya Stevan.
"Sekitar dua puluh orang," jawab Argo santai.
"Para mafia akan semakin mengincar kamu nak," ujar Stevan.
"Aku tahu kok!" pekik Argo.
"Kamu sma di luar negeri saja. Biar musuh tidak mudah menemukanmu," saran Stevan.
"Enggak!" protes Argo.
"Bang!" panggil Stevan.
Argo yang kesal menarik rambut sang ayah cukup kuat. Stevan menghentikan mobil sejenak di pinggir jalan. Belakangan ini Argo sedikit bar-bar dan sangat sulit diatur.
Hormon pubertas Argo meningkat tajam. Setiap tindakan Argo sulit dicegah. Menurut Stevan tingkah laku Argo setiap hari semakin sulit dikontrol.
Perlahan tapi pasti suara Argo berubah juga. "Abang dengarkan papa," ujar Stevan kepada sang anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
