79 (argo tantrum)

1.7K 158 15
                                        

Suasana di kantin sangat berisik. Setiap siswa atau siswi terlihat saling berdesakan mengantri makanan. Di sisi lain ada Argo yang tenang, ia tengah memperhatikan dimana Arik memesan makanan.

Jujur Argo mulai mempercayai Arik. Mungkin apabila Arik bertingkah keterlaluan, maka dirinya akan bertindak lebih.

Sejauh ini Arik terlihat sangat ceria, dibalik sisi kekurangan kasih sayang dari ayahnya sendiri. Arik sudah dua bulan mulai belajar bela diri. Ia memang berencana akan menjadikan Arik sebagai orang kepercayaannya di masa depan.

Pelukan di leher menyadarkan lamunan Argo. Terlihat ada sosok sang adik tersenyum lebar ke arahnya.

Rimba menopang dagunya dengan bahu sang abang. "Abang!" rengek Rimba.

"Ada apa?" tanya Argo mengelus rambut Rimba.

Rimba tidak menjawab ia lebih memilih duduk di pangkuan Argo. "Masa tadi pagi papa mengatakan hal aneh sih," gerutu Rimba.

Bibir Rimba maju beberapa senti. Gurat kesal terlihat jelas, entah perkataan apa yang diucapkan sang ayah. "Papa bilang aku mau punya adik perempuan coba!" kesal Rimba.

"Abang akan berbicara dengan papa. Jadi jangan pikirkan ucapan papa sama sekali," ujar Argo.

"Baiklah," ujar Rimba.

"Kebiasaan lu!" kesal Bagas.

"Setiap jam istirahat nyamperin abang mulu," ujar Guan.

"Biarin!" pekik Rimba.

"Wah adik kelasku yang manis," ujar Arik.

Wajah Bagas dan Guan kesal akan ucapan Arik. Kedua tangan Arik membawa nampan berisi makanan. Rimba mengambil makan siang sang abang.

Mengambil satu sendok batagor pesanan sang abang. "Abang buka mulutnya," ujar Rimba.

Argo menurut saja membiarkan Rimba menyuapi dia. Bahkan Rimba kadangkala makan juga, tingkah Rimba memang random sekali.

Selesai makan Argo menatap wajah sang adik. "Berantem lagi kamu?" tanya Argo menyentuh sudut bibir Rimba yang sedikit sobek.

"Ish." Rimba menepis tangan sang abang. "Jangan ditekan!" kesal Rimba.

"Biasa bang. Anak baru meledek Rimba," ujar Bagas.

"Adikmu preman sekali," komentar Arik.

"Tidak masalah," sahut Argo.

"Aku bukan preman tahu! Aku membela diri saja!" pekik Rimba.

Sejak tadi Argo memang sedikit kesulitan, akan tingkah aktif Rimba. Ia tidak keberatan, bahkan Rimba lebih rusuh dibandingkan Fano.

Satu jam berlalu sangat cepat. Rimba turun dari pangkuan Argo. Ia dengan semangat kembali ke kelas bersama Bagas dan Guan.

Sepanjang koridor kelas ada beberapa bisikin tertuju kepada Argo. Seolah angin lalu bagi Argo sendiri. Bagi dia terpenting tidak mengusik ketenangan masih malas mengurusi. Beda lagi dengan Rimba. Rimba sumbu pendek, ia akan menghajar setiap orang yang membicarakan tentang dirinya.

Jangan heran Rimba itu sering diomelin kedua orangtuanya. Walaupun begitu Rimba tetap saja melakukan kenakalan kembali.

Pelajaran kimia merupakan hal yang menarik bagi Argo. Ia tengah menulis sangat serius setiap baris kata di papan tulis.

Tak lama sang guru berhenti menulis. Beberapa murid sedikit kaget, mereka tahu bahwa akan menjadi sesi pertanyaan sebentar lagi.

Sang guru mengambil buku absen siswa. "Argo!" panggil sang guru.

Argo berdiri dari tempat duduk. Sang guru sedikit terdiam akan tumbuh tinggi Argo. Memang Argo lebih muda diantara yang lain. Anehnya dia cukup tinggi untuk anak seusianya.

"Jelaskan tentang Unsur dan sebutkan salah satu jenis Unsur," ujar sang guru.

"Baiklah," ujar Argo.

Argo menarik napas sebentar. Ia menghafal sebentar tulisan di papan tulis. Daya ingat Argo cukup kuat, makanya ia langganan membawa piala olimpiade.

"Unsur adalah zat murni yang tidak dapat diurai menjadi zat-zat yang lebih sederhana melalui reaksi kimia. Setiap unsur memiliki karakteristik unik yang ditentukan oleh jumlah proton dalam inti atomnya. Unsur merupakan zat tunggal yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat yang lebih sederhana dengan reaksi kimia biasa. Unsur merupakan zat dasar dari semua materi."

"Salah satu jenis Unsur adalah Unsur Logam."

"Unsur Logam adalah Unsur-unsur yang cenderung bersifat logam, baik secara fisik maupun kimia."

"Contoh: Besi (Fe), aluminium (Al), dan tembaga (Cu)."

"Unsur logam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

"Memiliki sifat mengkilap."

"Mudah ditempa."

"Penghantar listrik dan panas yang baik."

"Bersifat padat pada suhu kamar."

"Itu saja bu guru," ujar Argo.

Remaja itu kembali duduk. Teman sekelas Argo terbiasa akan nada dingin Argo, bahkan mereka sulit mendekati sosok Argo.

Hanya Arik yang mampu mendekati Argo hingga sekarang. Kebanyakan dari mereka mendekati Argo demi mencari untung saja.

Tak terasa bel pulang berbunyi. Argo pulang bersama Rimba dijemput oleh Edward. Menurut penuturan Edward sang ayah sangat sibuk.

Tidak masalah bagi mereka berdua. Tiba di rumah Rimba berlari kearah kamar sang adik. Beda lagi dengan Argo. Selesai berganti baju ia menghampiri Edward. Sedikit menarik kemeja Edward.

"Papa berada di markas mana?" tanya Argo.

"Mengurus tikus kecil. Dan ada sedikit urusan tentang panti asuhan," jawab Edward.

"Bawa aku ke tempat papa sekarang," ujar Argo.

"Kau belum makan Argo," ujar Edward.

"Sayang kita makan dulu," ujar Lusi menepuk kepala Argo.

"Aku perlu membicarakan hal serius kepada papa terlebih dahulu," ujar Argo menatap wajah Lusi.

Lusi sedikit berjongkok di depan sang anak. "Makan dulu bang. Mengenai papa nanti dia juga pulang kok," ujar Lusi mengelus rambut Argo.

Wajah Argo seketika cemberut. Buyar sudah tatapan dingin Argo, beberapa menit yang lalu. Edward bahkan kaget, akan raut Argo yang bisa berubah sangat cepat.

"Mama!" rengek Argo.

Lusi menarik hidung mancung sang anak. "Mama izinkan pergi ke markas asal abang makan dulu," ujar Lusi.

"Abang tidak mau makan tahu!" pekik Argo.

Kedua kaki Argo bahkan dihentakkan beberapa kali. Sisi kekanak-kanakan ia muncul. Lihat saja wajah Argo menatap kesal sang ibu.

"Mama bilangin om dokter lho!" ancam Lusi.

Argo langsung berjalan kearah dapur. Cukup keras langkah kaki Argo, akibat dia marah diancam sang ibu. Lusi tertawa akan tingkah lucu sang sulung.

Memang Argo sedikit sulit makan. Jadi perlu sedikit pemaksaan agar ia mau makan.

Benar saja. Di dapur Argo tengah makan. Namun mulut Argo menggerutu saja sejak tadi.

Lusi mengelus rambut sang anak. "Musuh mengincarmu bang," ujar Lusi.

"Tidak peduli!" ketus Argo.

Nada ketus Argo mengundang tawa Lusi semakin keras. Jujur Lusi sedikit terhibur akan tingkah menggemaskan Argo.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Selasa 23 Juli 2024

Besok diusahakan akan lebih banyak lagi ya

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang