82 (mimpi aneh)

1.4K 137 16
                                        

Suara alunan melodi musik rock mengalun di kamar seorang remaja. Beda lagi dengan sang remaja yang nampak termenung.

Tatapan mata Argo menatap lurus kearah jendela kamarnya. Sejak pulang dari misi. Argo yang telah berganti baju, memilih menopang dagu menggunakan lututnya.

Pemikiran Argo meliar kemana-mana. Ingatan masa di kehidupan lama sedang berputar sejenak. Ia berusaha untuk tidak meringis kesakitan.

Suara pintu tidak disadari oleh Argo. Elusan di tangan mengkagetkan Argo. Ternyata ada sosok sang ibu. Argo memilih diam saja.

"Ayo makan malam abang!" ajak Lusi.

"Tidak laper," sahut Argo.

Gejolak percampuran ingatan semakin membuat Argo pusing. Setiap ingatan buruk dan baik bersatu sama lain. Suara teriakan, tangisan, dan suara ambulan terdengar jelas dalam pikiran Argo.

"Abang!" ajak Lusi.

"Makan duluan saja. Abang akan menyusul," ujar Argo.

Lusi mengerti. Ia membiarkan sang sulung untuk turun sendiri saja. Setelah mendengar pintu kembali tertutup. Argo berdiri untuk membaringkan tubuhnya di kasur.

Menutup sebelah matanya menggunakan pergelangan tangan. Argo menatap lekat tangan kiri dia sejenak. "Ingatan menyebalkan," gerutu Argo.

"Lu gak ada niatan buat beritahu papa dan mama?" tanya Henry.

"Malas berbicara. Lebih baik aku beristirahat saja," sahut Argo santai.

Dengan pelan Argo menutup kedua matanya. Ia benar-benar beristirahat. Di dalam mimpi sebuah kejadian membuatnya kebingungan.

Disana semua anggota besar tengah menangis. Ia mencari keberadaan keluarganya. Mereka tidak ada sama sekali disini.

Sang om bahkan menangis cukup kencang. Ia kenal bahwa Marcus bukan tipikal orang yang mudah menangis.

Baru saja akan menghampiri salah satu peti mati. Dia sudah dibangunkan oleh panggilan seseorang.

"Abang kalau demam jangan diam saja?!" omel Stevan.

"Hah?!" kaget Argo.

Argo baru saja akan bangun ditahan oleh Stevan. "Diam diatas kasurmu. Kalau tidak papa tidak izinkan dirimu membunuh lagi!" ancam Stevan.

Argo menurut saja akan ucapan ayahnya. "Abang ada tugas dari guru, papa. Kalau tidak mengerjakan abang akan mendapatkan nilai nol di pelajaran guru tersebut," ujar Argo.

"Papa akan berbicara dengan gurumu itu. Seenaknya saja membuat putra papa sakit begini!" gerutu Stevan.

"Kok papa kayak mama sih?" heran Argo.

"Mama kamu menangis tuh. Dia bilang kamu gak sayang sama mama. Karena memendam rasa sakit sendirian," ujar Stevan.

"Awalnya aku pikir bisa menghandle ini," ujar Argo.

"Ingatan kenangan buruk kembali?" tanya Stevan.

Argo mengganggukkan kepala. Sentilan di kening di dapatkan Argo dari sang ayah. "Sudah papa katakan! Kau jujur atas rasa sakitmu abang!" omel Stevan.

"Jangan marah terus napa!" kesal Argo.

"Mau papa gendong?" tawar Stevan.

"MAU BANGET!" pekik Argo bersemangat.

Stevan menggendong ala koala. Ia menepuk sejenak kepala Argo. "Kedua adikmu khawatir lho," ujar Stevan.

Baru saja dibicarakan kedua adik Argo muncul. "Abang!" pekik mereka berdua.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang