Di sebuah kamar milik sepasang suami istri tengah terjadi perang. Bukan sembarang perang tapi sang istri tengah melemparkan pisau ke arah sang suami. Dengan lihai sang suami Stevan menghindari setiap pisau yang mengarah kepadanya. Dari kejauhan ada ketiga bersaudara tengah menatap pertengkaran kedua orangtuanya.
Bahkan Rimba memakan pop corn yang sengaja diambil Argo untuk menemani mereka. Fano bahkan melongo melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Bagi Argo dan Rimba ini bukan pertama kalinya jadi tidak heran mereka nampak menikmati saja. Berbeda dengan Fano yang memang tidak pernah melihat kedua orangtuanya bertengkar.
Pasangan Stevan dan Lusi memang sangat jarang bertengkar namun sekalinya terjadi maka jangan heran lemparan pisau akan melayang setiap menitnya. Para pekerja sejak tadi saja tidak berani melewati kamar sang majikan. Mereka lebih memilih menjauh daripada terkena lemparan pisau nyasar.
Anehnya Argo maupun Rimba juga memiliki refleks sebagus sang ayah juga. Fano juga berhasil menghindari beberapa pisau sementara sisanya dibantu ke dua kakaknya.
"Papa sama mama lama banget berantemnya," keluh Fano.
"Adek lapar?" tanya Argo yang mengerti wajah melas sang bungsu.
"Iya. Perut adek berbunyi terus sejak tadi tahu," keluh Fano.
"Kakak juga laper," keluh Rimba.
Wajah memelas mereka membuat Argo tertawa. Ayolah dia suka ekspresi menggemaskan kedua adiknya.
Dia beranjak dari tempat duduk untuk ke dapur diikuti oleh kedua adiknya di belakang. Ketika berjalan saja mereka perlu menghindari lemparan.
Di dapur seorang pelayan tua menghampiri Argo. "Tuan muda semua menginginkan sesuatu?" tanya sang pelayan.
"Tolong buatkan makanan untuk kami ya bi," ujar Argo.
"Makanan sederhana saja bi tidak perlu mewah," ujar Rimba.
"Terpenting enak," timpal Fano.
Mereka sejak dini diajarkan untuk bersyukur mengenai makanan. Jadi apapun makanan yang tersedia di atas meja makan tidak dipermasalahkan oleh mereka bertiga.
Setelah menyampaikan hal tersebut Argo duduk di lantai dapur tak lama kedua adiknya malah duduk masing-masing di sebelah paha kanan dan kirinya. "Bang kayaknya ini udah tiga jam deh. Papa sama mama ribut," ujar Rimba.
"Papa kasihan lho bang belum makan," ujar Fano.
"Abang tidak mau terkena dampak marah," sahut Argo.
"Mama seram sih kalau marah," ujar Rimba.
Argo memeluk kedua adiknya sangat erat. Wangi sampo mereka berdua membuat dia sedikit tenang.
"Yo para jagoan papa!" sapa seorang pria.
Ketiga anak kecil itu menatap kearah depan disana ada sosok sang ayah. Bisa dikatakan keadaan dia kurang baik. Sebuah pisau menancap di bahu Stevan darah saja masih mengalir tanpa henti.
"Sebentar kakak ambil kotak P3K dulu!" pekik Rimba.
Sang anak tengah berdiri untuk mencari kotak pertolongan pertama bagi luka. Sementara Fano menangis membuat Argo sedikit kaget akan reaksi sang adik.
"Papa baik-baik saja nak," ujar Stevan mengelus rambut Fano.
Balita imut itu menghapus air mata di hidungnya. Mata bulat Fano tetap saja menangis kearah sang ayah. "Adek takut papa tidur lama seperti abang waktu itu!" tangis Fano.
"Hehehe tenang saja. Papa kan hebat tidak mungkin jatuh semudah itu," ujar Stevan menghibur sang anak.
"Papa mau makan bersama kami?" tawar Argo kepada sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Ficción GeneralArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
