Sejak pulang dari tadi Argo tidak lepas sama sekali dari sang ayah. Lusi saja sampai memeriksa kening Argo memastikan bahwa Argo tidak demam.
Pagi ini saat Stevan akan pamit bekerja ditahan oleh Argo. Remaja itu memeluk tubuh Stevan sangat erat. Mereka yang berada disana keheranan akan tingkah tidak biasa Argo.
"Abang ayolah! Papa akan melakukan pekerjaan kotor," ujar Stevan melepaskan pelukan sang anak.
Namun Argo kembali memeluk Stevan sangat erat. "Abang ikut!" rengek Argo.
"Nak bersama mama dan kedua adikmu saja ya," ujar Lusi membujuk sang sulung.
"Gak mau!" pekik Argo.
Fano menyikut sang kakak dia sedikit heran akan tingkah sang abang. "Abang kenapa lagi sih?" tanya Fano kepada Rimba.
"Entahlah kakak tidak tahu," jawab Rimba.
"Aku baru tahu Argo ternyata sangat manja begitu," ujar Arik sedikit kaget akan tingkah laku Argo.
"Biasanya abang begitu apabila menginginkan makanan manis," ujar Rimba.
"Ternyata di rumah sifat Argo sangat berbeda dibandingkan di sekolah," ujar Arik.
"Ya sudah lebih baik kita main bersama ikan piranha aku saja," ujar Fano.
"Nanti main bersama harimau kakak ya," ujar Rimba.
"Okey deh," sahut Fano.
"Kenapa cara bermain kalian berbeda dengan kebanyakan anak lain sih?!" heran Arik.
"Keluarga aku diincar banyak musuh, jadi papa dan mama mendidik aku menjadi orang pemberani," jawab Fano.
"Arik jangan terlalu kaget ya. Semua anak tante memang begitu terlihat dewasa walaupun masih kecil," ujar Lusi memberitahu hal tersebut kepada Arik.
Rimba yang tidak sabaran menggendong Fano, dan menarik tangan Arik untuk ke halaman belakang dimana kolam ikan piranha berada.
Di sisi Argo remaja itu tetap tidak mau melepaskan pelukan dari sang ayah. "Nak masa depan mungkin saja telah berubah tidak seperti yang kau tahu," ujar Stevan kepada sang anak.
"Abang tidak mau lihat papa tidur panjang tahu!" pekik Argo.
Stevan melirik kearah Lusi. "Gendong saja abang dia tipikal anak yang sangat keras kepala," ujar Lusi.
Stevan menuruti ucapan Lusi. Sang sulung yang mendapatkan respon tersebut memeluk leher sang ayah. "Dalam masa yang abang lewati dulu ada musuh yang mengincar papa," ujar Argo.
"Tenang saja. Papa itu bukan orang lemah tahu," ujar Stevan.
Tidak ada jawaban dari Argo. Remaja itu malah menatap wajah tegas sang ayah. Stevan mencium kening sang ayah yang terdiam sejenak akibat kelakuan dia. "Kita bermain saja hari ini," ujar Stevan.
"Mau memutilasi siapa?" tanya Argo bersemangat.
"Bermain seperti anak kecil pada umumnya," jawab Stevan.
"Aku tidak mau," ujar Argo.
"Abang mau membeli sesuatu makanan?" tanya Lusi.
"Tidak mau," jawab Argo.
"Ya sudah hari ini kita jalan-jalan saja," ujar Stevan.
"Ok deh!" pekik Argo.
Stevan mencium kedua pipi Argo. Mereka berdua pamit kepada Lusi untuk pergi ke suatu tempat.
Di mobil Argo tetap saja berada dalam gendongan ayahnya. Dia tidak mau berjalan sama sekali namun Stevan juga tidak melarang.
"Anak sulungmu kenapa?" tanya Edward.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Ficción GeneralArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
