57 (abang merepotkan ya?)

2.1K 169 8
                                        

Kedua orangtua Argo telah mengetahui bahwa sang sulung merupakan seorang pria dewasa yang datang dari masa depan. Tetap saja bagi mereka sedewasa apapun seorang anak tetap akan menjadi anak kecil di mata mereka.

Ditambah Argo sering menceritakan setiap detail bagaimana dia membunuh setiap musuh yang terlibat dalam aksi pembunuhan berencana kedua adiknya.

Seperti saat ini Argo tengah duduk diantara kedua kaki Lusi. Posisi dia berada tengah sambil memakan sebuah es krim cokelat. Mengenai kedua adiknya mereka tengah membeli sesuatu bersama sang ayah ke sebuah supermaket. Jadi Argo memanfaatkan situasi untuk bisa bermanja dengan sang ibu.

Argo memutarkan tubuhnya dan tersenyum kearah sang ibu. "Mama tidak masalah abang bersikap manja?" tanya Argo memiringkan kepalanya kearah Lusi.

Cubitan di hidung didapatkan oleh Argo dari ibunya. "Bagi seorang ibu sosok anaknya tetap saja anak kecil. Kamu memang jiwa dewasa namun tetap saja sekarang fisik kamu anak kecil," jawab Lusi.

Dengan cepat Argo menghabiskan es krim di tangan dia. Setelah selesai dia membuang stik es krim ke tempat sampah yang tersedia. Dia kembali mendekat kearah sang ibu yang sibuk menonton acara gosip.

Dia memang mengerti namun dia memilih memeluk tubuh Lusi sangat erat. Wajar dia amat merindukan pelukan hangat seorang ibu sebab ketika dewasa dia sangat sibuk dengan segala tugas kantor.

Wajah Argo tenggelam di dada sang ibu. Lusi mengelus rambut anaknya dengan lembut membiarkan Argo untuk tertidur. "Hangat," gumam Argo.

Suara sang anak membuat Lusi sedikit tersenyum. "Mama kenapa aku dulu tidak menangis ketika bayi?" tanya Argo kepada Lusi.

Lusi tersenyum akan pertanyaan sang anak. "Menurut dokter ada kelainan aneh terjadi di dalam tubuhmu. Berkat pengobatan intensif kamu kembali sehat kembali," jawab Lusi.

"Kelainan apa itu?" tanya Argo penasaran.

"Asfiksia," jawab Lusi.

"Abang belum mengerti tentang itu," sahut Argo bingung.

"Mama kira abang tahu segala hal," ujar Lusi mengelus rambut sang anak.

"Kan abang tahu tentang ilmu umum saja bukan mengenai kedokteran," sahut Argo.

Lusi mencubit pipi kanan gemas akan jawaban sang anak. "Kelainan tersebut diakibatkan beberapa faktor," ujar Lusi.

"Faktornya apa saja?" tanya Argo."

"Persediaan oksigen dalam darah ibu tidak tercukupi sebelum maupun selama persalinan."

"Bayi mengalami anemia sehingga sel-sel darah tubuhnya tidak mendapatkan cukup oksigen."

"Ada penyakit infeksi yang menyerang ibu hamil atau bayi."

"Proses persalinan yang sulit atau memakan waktu lama."

"Ada masalah plasenta yang membungkus tubuh bayi, seperti plasenta terlepas terlalu cepat saat melahirkan."

"Terjadi sindrom mekonium, yaitu mekonium bayi terhirup sebelum, selama, ataupun setelah persalinan."

"Saat kelahiran bayi sebelum 37 minggu biasa disebut bayi prematur, paru-paru bayi prematur mengalami komplikasi dikarenakan belum berkembang dengan sempurna sehingga sulit bernafas."

"Bayi mengalami penyakit jantung bawaan atau penyakit paru-paru," ujar Lusi menjelaskan kepada sang anak.

Di hadapan Lusi wajah Argo nampak bengong dia akui bahwa semua itu tidak dia ketahui sama sekali. "Abang faktor tidak menangis kenapa?" tanya Argo.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang