Baru saja tiba di trans studio bandung ternyata pintu gerbangnya tertutup. Rimba menekuk wajahnya karena kesal.
Rimba duduk dibawah begitu saja bahkan menatap sengit Stevan. "Papa lama sih datangnya jadi tutup kan!" kesal Rimba kepada sang ayah.
Stevan berjongkok di hadapan sang anak. "Sebagai permintaan maaf papa. Kamu mau ke tempat lain lagi tidak?" tawar Stevan kepada Rimba.
Anak tengahnya itu tipikal anak yang akan mengingat apapun janji. Jadi Stevan atau Lusi berusaha sebisa mungkin menepati janji. Bahkan pernah waktu itu Stevan asal berbicara bahwa akan memberikan seorang adik kepada Rimba saat dia berusia tiga tahun, dan sosok anak keduanya tersebut terus saja menagih janji Stevan hingga berhenti ketika Lusi dinyatakan hamil anak ketiga.
Begitupula Argo yang pernah berjanji akan membelikan Rimba sebuah es krim rasa vanila saat dia pulang sekolah, disebabkan Argo lupa jadi Rimba mengamuk bahkan terus saja meneror Argo mengenai janji tersebut.
Anak kedua pasangan Stevan dan Lusi itu memang sangat berbeda. Ada pepatah berkata bahwa anak tengah akan sangat berbeda dari saudaranya yang lain ternyata itu terjadi terhadap Rimba.
"Gak mau!" pekik Rimba.
"Besok kita kesini lagi ok. Sekarang kita pulang dulu untuk makan malam dan check in hotel," ujar Lusi.
"Mau digendong," ujar Rimba merentangkan tangannya kearah Stevan.
Stevan menuruti permintaan sang anak. Fano menatap wajah sang kakak kedua sejenak dan tertawa.
Tingkah Fano yang tiba-tiba tertawa memancing reaksi aneh sang sulung. Argo mencium pipi kanan sang bungsu lantas memegang tangan kecil Fano dalam genggaman tangannya.
Lusi mengelus rambut kedua anaknya. Membiarkan Rimba memeluk leher Stevan sangat erat.
"Adek mau digendong sama papa juga?" tanya Stevan kepada sang bungsu.
"Adek harus berbagi. Jadi sekarang giliran kakak digendong sama papa," jawab Fano.
"Adek abang ini memang hebat," puji Argo.
Mereka seolah mengerti bahwa perlu membagi kasih sayang antar saudara. Jadi tidak ada kecemburuan antar mereka bertiga.
Setiap anak memiliki waktu masing-masing untuk mendapatkan kasih sayang. Bahkan kedua orangtuanya kadangkala berbagi kasih sayang dalam satu waktu.
Walaupun Fano anak bungsu dia telah paham. Bahwa anak bungsu juga bisa dimanja bahkan dewasa saat tertentu.
Perjalanan ke hotel Rimba dan Fano tertidur sangat lelap kedua anak tersebut kelelahan sepertinya. Sang sulung sekarang tengah membaca sebuah buku mengenai konsep membunuh.
Geplakan di kepala didapatkan Stevan dari sang istri. Buku tersebut memang pemberian Stevan mentang-mentang sang anak juga menyukai kegiatan membunuh orang lain.
"Bunuh mental dia maksudnya bagaimana papa?" tanya Argo kepada Stevan.
"Kita perlu mempersiapkan skenario mengenai kelakuan busuk dia tanpa campur tanganmu sendiri," jawab Stevan.
"Semacam video palsu atau bukti valid bahwa dia sangat brengsek ya?" tanya Argo.
"Kebanyakan musuh papa memang brengsek sih," jawab Stevan.
"Salah satunya apa?" tanya Argo.
"Dia asal melakukan hubungan suami istri dengan siapapun. Hingga perbuatan dia menghasilkan seorang anak," ujar Stevan.
"Dia tidak tanggung jawab mengenai perbuatan bejat dia?" tanya Argo.
"Tidak. Maka dari itu sang anak tersebut mendatangi papa meminta bantuan," ujar Stevan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiksi UmumArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
