Suara burung hantu, menjadi melodi merdu bagi seorang remaja yang menatap tajam pria dewasa di depannya.
Titisan darah menetes di pedang sang remaja menampak kesan horor. Pria dewasa, bahkan ketakutan akan tindakan sang remaja.
Senyum seringai, nampak jelas dari balik topeng remaja bernama Argo. Ia tengah diberi misi, untuk membunuh seorang koruptor oleh ayahnya.
Kedua kaki sang pria telah ditebas oleh Argo. Hanya tersisa dua tangan untuk dipisahkan oleh Argo.
Pedang yang dipegang dijatuhkan oleh Argo. Ia menatap tajam sang pria di hadapannya. "Kau lebih brengsek dibandingkan diriku," ujar Argo kepada pria di depannya.
"Alasanmu mengincarku apa bocah?" tanya sang pria dewasa.
"Pertama kau mengambil hak anak yatim piatu. Kedua kau menjadi ancaman kedua adikku di masa depan," jawab Argo.
"Pemikiranmu tidak logis!" kesal sang pria.
"Aku Argo Siji Jovetic putra pertama dari pasangan Stevan Kabar Jovetic dan Lusiana Jovetic. Adik pertamaku Rimba Dan Jovetic, dan adik bungsuku Stefano Mahardika Jovetic," ujar Argo memperkenalkan dirinya.
"Jovetic?!" kaget sang pria.
Argo merogoh kantung celana dengan gerakan cepat menarik lidah sang pria. Tentu saja sang pria kaget akan tindakan Argo.
Dengan santai Argo memotong lidah sang pria. Sebuah lidah dipegang oleh Argo tanpa rasa bersalah sama sekali.
Terlihat jelas pria itu kesakitan akibat ulah Argo. Ia berusaha lari dihadang oleh seorang pria dewasa. Wajah Argo sedikit kesal menatap kehadiran orang tersebut.
"Papa biar abang yang urus saja," ujar Argo.
"Jangan lupa organ vitalnya untuk papa," ujar Stevan.
Sebuah benda dilempar oleh Argo kearah sang ayah begitu saja. Dengan mudah ditangkap oleh Stevan.
Wajah Stevan menatap kesal kearah anaknya. "Lidah tidak terlalu mahal di pasar dunia bawah," ujar Stevan memegang lidah di tangannya.
"Abang minta satu ginjal saja," ujar Argo kepada sang ayah.
"Untuk siapa?" tanya Stevan.
"Biaya hidup Arik," jawab Argo.
"Pakai uang yang benar abang," ujar Stevan.
"Memang selama ini papa beri kami uang apa?" tanya Argo.
"Uang hasil dari restoran papa lha," jawab Stevan.
"Terus hasil jual beli organ vital?" tanya Argo.
"Buat papa mabuk lha," jawab Stevan santai.
"Makan babi sekalian gitu?" tanya Argo.
"Kau juga makan!" protes Stevan.
Akibat pertengkaran mereka berdua sang mangsa akan pergi. Stevan mengambil pistol, dan langsung menembak di kedua tangan sang mangsa.
Akhirnya ia berhenti bergerak. Argo mengambil pedang dan langsung menebas kedua sang pria sekaligus. Ia tidak berteriak dikarenakan lidahnya telah dipotong.
"Papa baringkan dia," ujar Argo.
Stevan menarik rambut sang pria untuk tiduran di tanah. Argo duduk diatas tubuh sang pria. Ia melepaskan baju sang pria agar lebih leluasa membedah.
Sang pria tidak mampu melawan sama sekali. Ia telah pasrah akan mati kali ini. Salahnya juga telah mengambil hak sang keponakan.
"Karena kau seorang anak perlu memperjuangkan sekolah," ujar Argo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiksi UmumArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
