Masa sekolah merupakan masa yang sangat menyenangkan. Kita tidak perlu memikirkan banyak hal tentang hal yang dipikirkan orang dewasa. Seorang anak kecil hanya perlu makan, mandi dan tidur saja. Sisanya diurus oleh orangtua.
Berbeda dengan anak kecil lain di sebuah kelas yang sepi ada sosok anak kecil tengah memikirkan suatu hal. Dia juga belum beranjak untuk ke kantin mengisi perutnya yang sejak tadi berbunyi.
"Bagaimana caranya aku mencengah penculikan adek?" batin Argo kebingungan sendiri.
"Isi perutmu dulu," ucap Henry.
"Aku kepikiran terus tahu," batin Argo.
"Lu pake bahasa gaul aja sih. Gua risih setiap bicara sama lu pake bahasa formal mulu," keluh Henry.
"Aku terbiasa menggunakan bahasa ini," batin Argo.
"Rubah saja. Lagipula lu kan perlu membiasakan diri menjadi anak remaja pada umumnya lagi," batin Henry.
"Ucapanmu ada benarnya juga," ujar Argo.
Mereka berdua terus berbicara hingga jam istirahat berakhir. Argo jadi diam saja malas bangkit dari tempat duduk. Dia terbiasa melewatkan jam makan bukan masalah baginya melewatkannya lagi.
Bel pulang berbunyi Argo memasukkan semua peralatan yang dia gunakan ke dalam tas. Suara rusuh di depan kelas tidak dia hiraukan sama sekali.
"Argo ada adik lu tuh!" pekik ketua kelas.
Kegiatan Argo terhenti dia melirik kearah depan disana ada sosok Rimba. Dia tersenyum kearah Argo lantas memeluknya sangat erat. Argo membalas pelukan Rimba.
"Abang melewatkan jam makan istirahat lagi. Mama marah lho kalau tidak makan," omel Rimba kepada sang kakak.
"Maaf abang keasyikan membaca buku," alibi Argo.
Argo tidak mungkin memberitahu bahwa dia sibuk menyusun rencana demi kehidupan damai kedua adiknya. Argo tidak masalah mengorbankan dirinya sendiri terpenting kedua adiknya selamat.
"Abang kok diem sih?!" Rimba menarik kaos yang dipakai oleh Argo. "Dan sedang berbicara lho!" kesal Rimba.
"Maaf, Dan. Abang kepikiran kita akan bermain apa nanti," sahut Argo.
Rimba memiringkan kepalanya menatap wajah Argo. "Abang tumben banget ngajak bermain. Biasanya Dan paksa tidak mau," heran Rimba.
"Abang mau agar kita bertiga semakin dekat," ujar Argo.
"Dan minta gendong. Abang jarang gendong aku!" pekik Rimba.
Rimba merentangkan tangannya di depan Argo. Dia terkekeh geli menatap wajah Rimba. Argo menyuruh Rimba naik keatas kursi. Rimba menurut dan dengan cepat Argo menggendong Rimba di depan.
"Aku sayang abang!" pekik Rimba.
Hanya kecupan di puncak kepala saja yang diberikan Argo. Argo tahu adiknya sangat menyayangi dirinya. Walaupun sikap Argo terkesan cuek terhadap mereka.
Di lorong kelas banyak anak murid menatap heran kejadian Argo menggendong Rimba. Rimba tidak peduli dia asyik mengayungkan kedua kakinya. Anak kecil itu senang mendapatkan tindakan kasih sayang dari sang kakak.
Di depan sekolah ada sosok Stevan bersama Fano tengah menunggu. Fano belum sekolah bahkan saat dia merengek ingin bersekolah seperti kedua kakaknya ditolak tegas oleh sang ayah Stevan. Stevan berkata tidak mau Fano sekolah terlalu cepat lagipula Fano baru saja berusia tiga tahun.
"Abang sama kakak lama," gerutu Fano.
"Mungkin mereka tengah jajan sebentar. Sabar ya kedua kakakmu pasti akan datang sebentar lagi," ujar Stevan memberi pengertian kepada sang bungsu.
"Hm," gumam Fano.
Tak lama ada kedua sosok yang mereka tunggu datang. Pemandangan itu membuat Stevan tersenyum. Putra sulungnya menggendong sang adik yang malah asyik memainkan daun telinganya.
"Abang kok kakak digendong?" tanya Fano.
"Kakak lelah berjalan dek. Makanya abang gendong," jawab Argo.
"Oh gitu," ujar Fano mengerti.
Sejak kecil kedua orang tua mereka menanamkan suatu hal tentang keadilan kasih sayang. Jadi mereka tidak saling iri satu sama lain apabila salah satu diberikan hadiah. Fano saja terbiasa bisa membagi kasih sayang kedua orangtuanya dan kakaknya.
Kedua orangtua mereka juga tetap menghukum apabila mereka salah. Bahkan Fano saja pernah dihukum disuruh membersihkan kamar mandi oleh Stevan. Terdengar sedikit kejam untuk anak seumuran Fano, namun bagi Stevan itu suatu hal yang perlu diajarkan sejak dini agar anaknya tidak menjadi pribadi yang melemparkan tanggung jawab.
"Ayo kita ke mall sebentar!" ajak Stevan.
"Untuk apa kesana?" tanya Argo.
"Mama kalian memberikan daftar belanja bulan kepada papa," sahut Stevan.
"Dih papa takut mama!" ledek Fano.
"Papa wajah saja sangar, tapi takut mama!" ledek Rimba.
Stevan yang kesal mengangkat kedua putranya seperti anak kecil. Mereka menendang-nendang udara agar Stevan menurunkan mereka berdua. Argo tersenyum melihat mereka sangat kesal.
"Kuharap bisa menjaga senyum kalian berdua," batin Argo berharap.
"Tidak perlu memikirkan masa depan nak. Kita nikmati saja hidup ini," ujar Stevan.
Pria beranak tiga itu menurunkan kedua putranya. Dan keduanya sangat kompak menginjak kaki Stevan yang terbalut sepatu pentofel berwarna hitam.
Tawa mereka dan ledekan mereka terdengar renyah di telinga Argo. Dia hanya diam saja melihat semua tingkah jahil kedua adiknya.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Kamis 30 November 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiction GénéraleArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
