Hembusan angin amat kencang membuat semua orang menatap kearah langit. Melihat sesuatu akan mereka dengan cepat menjauh seketika dari lokasi mereka berada saat ini.
Benar saja tak lama ada sebuah helikopter turun. Melihat hal tersebut mereka sangat amat kepo tentang pemilik kendaraan tersebut.
Sebuah kaki keluar dari sana terlihat jelas seorang pria dewasa tak lama disusul seorang wanita. Suara pekikan senang mengalihkan perhatian mereka. Seorang anak kecil berlari dengan kegirangan menatap keadaan sekitar. Tak lama ada sosok remaja menggendong seorang balita. Salah satu tangan sang remaja memakan sebuah roti.
Sang ibu langsung mengambil alih sang bungsu dari anak pertamanya. Argo melanjutkan makan saja tak lama beberapa orang berpakaian hitam menghampiri Stevan.
Mereka membisikkan sesuatu kepada Stevan entah apa itu. Argo berada di sisi Stevan kanan sang ayah. Mulut Argo yang tengah mengunyah roti membuat anak buah Stevan sedikit gemas melihat wajah Argo.
Mereka tahu bahwa Argo merupakan penerus Stevan di masa depan. Sosok remaja yang sekarang tengah menjadi target utama untuk segera dibunuh oleh mafia kelas kakap. Maka dari itu Stevan menjaga ketat semua anggota keluarganya.
Sebuah keluarga mafia mudah sekali terendus keberadaannya oleh orang lain. Jadi untuk sekarang Stevan berjaga-jaga untuk keselamatan keluarga kecilnya.
Argo menarik celana sang ayah. Merasakan seseorang menarik celana dia bersitatap dengan wajah memelas sang sulung. Kekehan dari mulut Stevan tentu saja mengkagetkan anak buahnya.
Tentu saja dengan senang hati Stevan menggendong sang sulung yang nampak masih mengantuk.
Ciuman di kepala didapatkan oleh Argo. "Abang kekenyangan, ya?" tanya Stevan.
"Abang mau bobo cuma males," jawab Argo.
"Nanti abang mau lanjut sma dimana?" tanya Stevan.
"Homeschooling," jawab Argo.
"Ada yang jahatin abang?" tanya Stevan.
"Abang males ketemu orang lain saja. Baterai energi abang habis begitu saja sangat cepat," keluh Argo.
"Kamu ini dasar," ujar Stevan.
Argo memeluk leher Stevan sangat erat. "Papa kenapa mereka kedua saudaraku di masa depan?" tanya Argo.
"Mereka mungkin pikir bahwa kelemahan abang ada di saudaranya maka dari itu melakukan hal keji tersebut," ujar Stevan.
Argo menggayungkan kedua kakinya membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya. Sebuah topi mendarat diatas kepala Argo ternyata perbuatan sang ayah. "Papa!" protes Argo.
"Imun kamu lebih lemah dibandingkan kedua adikmu jadi nurut saja!" tegas Stevan.
"Menyebalkan," keluh Argo.
Di belakang Rimba asyik bersama sepakbola bersama anak-anak disini. Dia tidak cemburu melihat kedekatan sang abang bersama ayahnya.
Di sisi lain Lusi tengah mengawasi Rimba yang malah bermain bola bersama anak-anak disini. Anak tengahnya itu memang sangat berbeda dengan kedua saudaranya.
Dia lebih mudah berteman dengan siapapun. Baterai energi Rimba seolah penuh selalu apabila berhubungan dengan bermain.
Lirikan Stevan kearah Lusi dibalas anggukan oleh sang istri. Dia menghampiri Rimba untuk segera berhenti bermain sepakbola.
Mereka melanjutkan perjalanan untuk ke tempat wisata tujuan mereka. Selama menuju kesana Rimba menunjuk hal-hal random dan bertanya mengenai itu semua.
"Kenapa listrik bisa membuat aku kesentrum saat tangan aku basah?" tanya Rimba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
