32 (mitra bisnis papa)

2.4K 199 8
                                        

Di sebuah kamar ada sedikit perbedaan pendapat diantara sepasang suami istri. Di satu sisi sang istri menolak sementara sang suami berkata demi suatu hal.

"Kenapa kau gigih membujukku mengenai pertemuan ini sayang?" heran Lusi.

Stevan melirik kearah ranjang rumah sakit dimana sang sulung masih setia menutup mata. Kedua anak mereka lebih banyak diam sejak sang abang tertidur panjang.

Bahkan secara terang-terangan menghindari Stevan untuk bertemu. Stevan mengerti bahwa keduanya kecewa akibat dia terlambat datang menyelamatkan Argo.

"Kakak dan adek pasti akan semakin marah padamu sayang," ujar Lusi kepada sang suami.

"Kudengar kolega bisnis yang akan ditemui adalah teman sekolah Rimba. Kurasa kehadiran mereka akan membuat Rimba sedikit ceria sayang," ujar Stevan.

Suara pintu terbuka keras menyadarkan sepasang suami istri tersebut. Disana ada sosok Rimba tengah menggendong tubuh Fano. Dia tidak mengatakan apapun bahkan tatapan mata dia mengarah ke Argo yang tengah terbaring lemah.

"Papa dan mama apabila ingin pergi silahkan saja. Aku akan menjaga abang dan adek disini," ujar Rimba.

Dia mendengar tentang rencana Stevan yang akan bertemu kolega bisnis malam ini. Memang mereka sering ditinggal bertiga di rumah oleh kedua orangtuanya namun itu ketika ada Argo menjaga kedua adiknya.

"Kakak menginginkan sesuatu?" tanya Stevan mengelus rambut Rimba.

Rimba menghempaskan tangan Stevan dari atas kepalanya. Wajah datar Rimba nampak terlihat jelas tidak suka disentuh ayahnya sendiri.

"Buat abang sadar," sahut Rimba datar.

Ucapan tersebut membuat Stevan bungkam. Mereka memilih keluar karena tahu Rimba tipikal anak yang tidak mau didekati ketika sedang marah.

Melihat kedua orangtuanya keluar Rimba dengan hati-hati naik ke ranjang Argo. Merasa ada pergerakan balita yang digendong Rimba terbangun. Dia menatap wajah sang kakak dengan wajah bingung. Rimba yang melihat sang adik terbangun tersenyum.

Rimba mengelus rambut Fano tak lupa mencium pipi bulat Fano. "Adek diam dulu ya jangan berisik," ujar Rimba.

"Okey kakak," sahut Fano.

Rimba menaruh sang adik diatas kasur walaupun dia sedikit berjinjit akibat kasur lumayan tinggi. Setelah menaruh sang adik dekat kaki sang abang dia juga ikutan naik.

Sang adik memiringkan kepalanya melihat begitu banyak alat tertempel di tubuh Argo. "Kakak!" panggil Fano kepada sang kakak.

"Ada apa dek?" tanya Rimba.

"Abang tidurnya lama banget. Adek kangen tahu," keluh Fano.

"Kita doakan agar abang segera bangun," sahut Rimba.

"Kepala abang kok ada itu?" tanya Fano menunjuk ke arah dimana perban berada.

"Apabila abang tidak dibalut kain kasa luka abang akan lama sembuhnya," sahut Rimba.

"Kok belakangan ini abang sering sakit?" tanya Fano.

"Entahlah kakak tidak tahu," jawab Rimba mengendikkan bahunya tidak mengerti.

"Adek sering lihat abang menangis di kamarnya saat adek izin ke dapur sama mama untuk mengambil minum," ujar Fano.

Yah balita berusia tiga tahun itu diajarkan benar-benar mandiri oleh kedua orangtuanya. Walaupun dari kejauhan baik Stevan atau Lusi mengawasi Fano kecil. Semua barang telah diganti menjadi plastik agar tidak berbahaya bagi Fano.

"Kenapa abang menangis?" heran Rimba.

"Adek tanya kakak! Kakak malah tanya adek lagi!" kesal Fano.

"Hehehe maaf," tawa Rimba.

"Abang!" panggil Fano.

Suara alat yang hanya menjadi jawaban atas panggilan Fano barusan. Mata Fano mulai berkaca-kaca dia tahu bahwa sang abang entah kapan bangun.

"Adek mau main sama abang!"

"Kita bertiga jahilin papa bersama yuk!"

"Ceritakan dongeng buat adek lagi!"

"Adek sudah bisa membaca seperti apa yang abang ajarkan waktu itu!"

"Hadiah yang abang janjikan mana?!"

"Adek mau hadiah dari abang karena adek sudah bisa membaca!"

"Abang! Bangun!"

"Adek rindu!"

"Kenapa abang kemarin ikut om-om jahat sih?!"

"Adek kira abang kembali bisa peluk adek!"

"Ternyata abang bobo!"

"Abang! Jangan kelamaan tidur!"

"Ayo bermain!" ujar Fano.

Tangis Fano semakin pecah balita itu merasa kehilangan atas tidak kehadiran Argo selama beberapa minggu terakhir. Rimba memeluk mungil Fano suara tangisan Fano masih terdengar jelas di telinga Rimba.

Jujur Rimba juga sangat merindukan sosok Argo. Sosok kakak yang mampu membimbing dia menjadi pribadi yang lebih baik walaupun terkadang sifat jahil Rimba membuat Fano menangis.

"Abang jangan terlalu lama tidur. Rimba tidak tahan akan rindu ini."

"Abang boleh kok jewer telinga Rimba apabila aku nakal seperti biasanya."

"Tapi kumohon buka mata abang dan marahin diriku."

"Dan rindu abang banget," batin Rimba.

Merasa ada yang jatuh di pipinya dengan cepat Rimba menghapusnya. Dia rasa Fano tertidur akibat lelah menangis dia memutuskan menempatkan Fano diantara kedua kaki Argo.

Dengan pelan Rimba mendekat kearah wajah Argo yang tenang dalam tidur. Rimba mencium pipi kanan Argo tak lama tersenyum walaupun terlihat terpaksa.

"Dan tahu abangku kuat menghadapi semua ini. Ayo bangun lalu menjahili papa seperti biasa," ujar Rimba.

Rimba memeluk tubuh Argo dengan pelan. Dia membutuhkan sosok Argo dalam hidupnya. Apapun masalahnya Argo mampu memecahkannya dengan mudah.

"Kakak dan adek tunggu abang disini. Jadi segera buka matamu," batin Rimba.

Perlahan kedua kelopak mata Rimba tertutup sempurna. Dia tertidur dengan memeluk tubuh sosok pelindung kedua setelah sang ayah.

Di luar sepasang suami istri mendengarkan ucapan sedih kedua anaknya. Sang istri bahkan menatap wajah sang suami dalam diam. Stevan mengerti dia lebih memilih memeluk Lusi tanpa kata.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Minggu 24 Maret 2024

Maaf telat dan pendek
Nanti sore akan update lagi

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang