55 (rimba lomba)

1.4K 141 4
                                        

Tepat hari ini anak kedua dari pasangan Stevan dan Lusi akan menghadapi sebuah pertandingan karate antar sekolah. Rimba memang kurang pintar dalam akademik namun dia sangat berprestasi di bidang olahraga.

Sejak kecil Stevan bisa melihat bakat Rimba yang sangat menonjol di bidang non akademik maka tidak heran Rimba lebih jago berkelahi dibandingkan sang abang sendiri.

Sekarang Argo tengah menggendong Fano sebab sejak tadi balita aktif itu tidak berhenti menghilang kemanapun. Jiwa kepo Fano memang sangat berbahaya bagi keselamatan dia sendiri.

Maka dari itu seluruh keluarga Jovetic menempatkan pengawal cukup banyak bagi Fano. Dia anggota termuda di keluarga Jovetic jangan heran dia menjadi prioritas keluarga.

Bukan berarti yang lain dibedakan. Setiap anggota keluarga bahkan memiliki pengawal masing-masing.

Argo melihat kearah Fano yang memberontak mau turun dari gendongan sang abang. "Adek diam ya. Kita disini mau nonton kakak bertanding lho," ujar Lusi.

"Kakak?" beo Fano.

Wajah imut sang balita membuat Stevan yang melihat itu tidak tahan. Dia mengangkat tubuh balita penuh lemak itu dari gendongan Argo. Ayah tiga anak itu mencium kedua pipi Fano sangat brutal.

Argo tersenyum melihat tawa sang adik. Lusi memegang tangan kanan Argo yang sejak tadi fokus menatap wajah Fano.

"Abang tenang saja. Semua akan baik-baik saja," ujar Lusi.

"Iya mah," sahut Argo.

Balita yang tengah bercanda dengan sang anak menatap kearah Argo. "Abang wajahnya kok sedih?" tanya Fano tidak mengerti.

"Abang tuh sedih tidak bisa dicium sama papa," jawab Stevan.

"Aku tidak suka dicium papa. Papa mulutnya bau alkohol," ujar Argo.

"Sayang lain kali jangan begitu," nasihat Lusi.

"Maklum ay. Aku kadangkala lupa apabila terlalu banyak minum wine," ujar Stevan.

"Adek boleh cobain minuman punya papa?" tanya Fano polos kearah Stevan.

Stevan melirik kearah Lusi untuk dia menjelaskan kepada sang anak. Namun Lusi malah memilih jalan duluan bersama Argo. Stevan menghela nafas kasar mendapatkan perlakuan tersebut dari sang istri.

Berbeda dengan Rimba yang tengah bersiap untuk lomba ada kedua sahabatnya juga disana. Bagas juga ikut berlomba kalau Guan tidak.

Namun mereka tetap mendukung satu sama lain. Di sisi lain Stevan sedikit berpikir keras mengenai jawaban agar sang anak bungsu mengerti.

Tarikan di pipi membuat Stevan melihat kearah sang anak. "Begini minuman itu boleh adek konsumsi saat kamu sudah lulus kuliah," jawab Stevan.

"Berarti umur adek berapa tahun waktu itu?" tanya Fano.

"Hm sekitar 21 tahun," jawab Stevan.

"Oh baiklah," sahut Fano mengerti.

Akhirnya Stevan bernafas lega beda lagi dengan Argo yang sejak tadi menatap datar kearah para pria yang sejak tadi menatap sang ibu Lusi. Para pria menatap sosok Lusi tanpa berkedip wajar saja dia merupakan ibu muda yang tidak terlihat kuno.

Baju Lusi memang couple dengan Stevan. Sejak mereka resmi pacaran memang setiap jalan selalu begitu. Ketiga anaknya tidak mau mengikuti akan aturan kedua orangtuanya mengenai itu.

Jadi setiap jalan paling Stevan dan Lusi yang couple sementara ketiga anaknya hanya warna saja sama. Bisa dikatakan berbeda kubu bahkan sekarang saja berbeda.

Save My Brothers (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang