Di ruangan bernuansa hitam ada dua sosok pria dewasa berbeda usia tengah duduk santai sambil menikmati segelas vodka. Tidak lupa sebuah cerutu mengapit tangan mereka masing-masing.
"Ayah ingin membicarakan apa?" tanya Stevan langsung pada intinya.
"Putra sulungmu nampak berbeda," ujar Bram yang memang sering berkunjung untuk melihat cucunya.
"Dia berkata bermimpi tentang kedua adiknya yang meninggal makanya sikap dia berubah," ujar Stevan memberitahu.
"Mimpi Argo aneh sekali," komentar Bram.
"Namanya juga mimpi anak kecil," ujar Stevan.
"Musuh mulai menampakkan diri. Kuharap kau menjaga lebih ketat keluargamu," ujar Bram memberitahu.
"Argo sudah bisa diandalkan. Dia penerusku di masa depan," ujar Stevan.
"Wajah dia mirip sekali dirimu. Kupikir di masa depan dia juga akan mirip denganmu juga," ujar Bram.
"Biasanya si sulung memang begitu," ujar Stevan.
"Argo tidak mengikuti kelas akselarasi lagi?" tanya Bram.
Bram tahu bahwa cucu pertamanya itu sangat jenius dibandingkan anak seumurannya. Salahkan saja gen jenius dari Lusiana yang memang cerdas, tapi mematikan.
"Argo bilang bosan pindah kelas terus. Jadi lebih memilih tetap stay di kelas dua smp saja," ujar Stevan.
"Yah lebih baik dia menikmati waktu bermain saja. Perjalanan dia masih panjang untuk menjadi penerusmu," ujar Bram.
"Minggu lalu Fano merengek ingin sekolah cuma tidak kuizinkan," ujar Stevan.
"Usia dia masih terlalu muda. Biarkan dia puas bermain dulu," ujar Bram.
Lagipula Stevan mengingat jelas tentang ucapan Argo bahwa musuh akan mulai mengincar Fano saat dia mulai sekolah. Stevan mengambil langkah awal agar Fano tidak diincar lebih dulu oleh musuh demi keselamatannya.
Stevan tidak memberitahu mengenai Argo yang sebenarnya dari masa depan kepada Bram. Stevan lebih baik memendam itu sendiri daripada mendapatkan pertanyaan curiga dari ayahnya sendiri.
"Wajahmu berbohong ataupun tidak sekarang sulit dibaca," sahut Bram.
Stevan meminum vodka sedikit dia menatap wajah keriput sang ayah. "Apabila gesturku mudah dibaca maka musuh akan dengan mudah menghancurkan kekuasaan diriku ayah," jawab Stevan.
Bram tersenyum akan ucapan sang anak. "Ucapanmu ada benarnya juga." Bram menghembuskan asap cerutu ke langit. "Adikmu akan kesini dalam jangka dekat," ujar Bram.
"Untuk apa?" tanya Stevan.
Bram merasa heran akan pertanyaan sang sulung bahkan ada nada malas disana. "Dia berkata merindukan putra bungsumu yang manis itu," ujar Bram.
Stevan berdecih bukannya dia tidak suka kehadiran sang adik, namun pasti adiknya akan memonopoli putra bungsunya, dan dia tidak suka akan hal tersebut.
"Marcus telah mendapatkan empat putra kenapa dia perlu mendekati putra kecilku," gerutu Stevan.
Bram tertawa mendengar gerutuan putra sulungnya. Bram merasa terhibur akan pertengkaran kedua putranya. Maklum sejak kelahiran putra keduanya Bram kehilangan sang istri. Jadi sejak kedua anaknya memilih pergi dari rumah Bram sendirian di rumah besarnya.
"Kau akan menginap disini?" tanya Stevan.
"Wajahmu tampak tidak rela ayahmu menginap disini," ujar Bram melihat wajah Stevan.
"Bukan begitu kau sering memperlakukan diriku seperti anak kecil. Itu membuat diriku menjadi bahan tertawaan ketiga putraku," ujar Stevan.
"Jarak usiamu dengan Marcus hanya berbeda tiga tahun saja. Sejak kehilangan ibumu kau bahkan melarangku menikah lagi," ujar Bram.
"Aku malas memiliki ibu tiri," ujar Stevan.
"Sayang ayo makan malam dulu," ujar Lusiana mengetuk pintu ruangan pribadi Stevan.
Bram berdiri dari duduk dia menghabiskan minuman dan mematikan cerutu. Dia menghampiri Stevan lantas menepuk puncak kepala Stevan begitu saja. Stevan menatap tajam Bram tidak suka akan perlakuan dia.
Di meja makan Argo sedikit kesulitan duduk karena kedua adiknya malah meminta duduk di pangkuan dia. Argo tidak masalah sih, cuma dia juga lapar suara perut saja terdengar jelas beberapa kali membuat dia sedikit malu.
Lusiana terkekeh geli melihat wajah memerah sang sulung. Kedua adiknya tidak peka tidak membiarkan sang kakak duduk dengan tenang.
Stevan datang bersama Bram. Dia melihat Argo menundukkan kepalanya, namun Stevan melihat bahwa telinga Argo memerah.
Stevan mengangkat kedua anaknya dari pangkuan Argo untuk duduk di tempat masing-masing. Stevan mengangkat mereka berdua seolah anak kucing wajar tubuh mereka masih anak kecil.
Argo mendongkak menatap orang yang mengangkat kedua adiknya ternyata Stevan. Stevan tersenyum kearah Argo.
Mereka makan malam dengan tenang. Tradisi mereka saat makan memang dalam ketenangan. Selesai makan Stevan memanggil ketiga putra nakalnya.
Tentu saja mereka dihukum oleh Stevan. Stevan mengajak mereka ke ruangan bawah tanah untuk melatih mereka.
Mereka mengikuti Stevan untuk pemanasan terlebih dahulu. Di kejauhan Lusiana melihat saja membiarkan tindakan Stevan terhadap mereka bertiga. Baik Stevan ataupun Lusi tumbuh dalam lingkungan keluarga mafia.
Jadi mereka berdua telah sepakat sejak awal bahwa keturunan mereka perlu dilatih sejak dini. Terdengar kejam memang cuma itu cara mereka agar keselamatan keturunan mereka kuat.
Si kecil Fano bahkan telah dilatih untuk sekedar bela diri dasar sejak dia resmi berusia tiga tahun. Fano tidak menangis seperti kebanyakan anak pada umumnya, mungkin terbiasa mendapatkan didikan mandiri dari kedua orangtuanya.
Stevan membuka baju santainya untuk menghadapi ketiga putranya. Mereka bertiga saling lirik seolah mengerti, dengan cepat mereka menyerang Stevan secara bergantian.
Pria itu menangkis setiap serangan ketiga anaknya. Dia tersenyum mendapatkan serangan mereka bertiga. Memang mungkin orang lain berkata bahwa Stevan ayah yang sedikit gila karena membiarkan ketiga anaknya mempelajari bela diri di usia dini.
Beberapa jam kemudian mereka bertiga berhenti menyerang Stevan. Stevan menjewer telinga mereka bergantian membuat mereka mengaduh kesakitan.
"Kalian ini nakal sekali sih!" omel Stevan.
"Kan biar papa sekalian mandi," sahut Rimba.
"Heh malah menjawab!" omel Stevan tidak suka anaknya menjawab.
"Anakmu nakal persis dirimu," ujar Bram menyahut pertengkaran ayah dan anak itu.
"Tuh papa saja nakal pas kecil!" protes Fano mengusap telinga dia yang memerah.
"Kukira kau tidak akan jadi setan kecil persis kedua kakakmu ternyata sama saja," omel Stevan terhadap putra kecilnya.
"Kalau kita setan berarti papa raja setan," celetuk Argo.
"Hahahaha," tawa Bram merasa terhibur akan ulah ketiga cucunya.
Bram lucu saja melihat wajah Stevan mati kutu menghadapi ketiga duplikat kecilnya. Wajah Stevan tertekuk akibat perkataan Argo barusan. Dia bahkan menatap kesal anak sulungnya.
"Wajah papa jelek," ujar Fano.
"Mirip bebek," ujar Rimba.
"Jangan sok imut," ujar Argo.
"Lusiana kenapa kau melahirkan ketiga duplikat mirip denganku sih?!" kesal Stevan.
"Papa stress ya bang, kak," ujar Fano.
"Mulut pedas mereka bahkan mirip seperti dirimu," ujar Lusiana.
Saat Lusiana akan mendekat kearah Stevan lebih dulu ketiga putranya memeluk Lusiana sangat erat. Wajah frustasi Stevan nampak lucu bagi Bram yang memang butuh hiburan.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Rabu 27 Desember 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiksi UmumArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
