Tidak yang lebih menyedihkan selain kabar bahwa orang tersayangmu terbaring lemah di rumah sakit. Di bangku kantin terlihat ada dua anak kecil sebaya Rimba tengah asyik makan batagor.
"Lu makan dulu napa," bujuk Bagas kepada Rimba.
"Tahu lu abangmu pasti akan segera bangun jadi jangan bersedih," hibur Guan.
"Kalian kenapa tidak berpuasa?" bingung Rimba melihat kedua sahabatnya yang ditatap aneh sekitarnya.
"Gua keturunan chinase jadi agama gua bukan islam," sahut Guan.
"Kemarin gua habis sakit jadi dilarang puasa dulu sama bokap," ujar Bagas.
"Abang gua lama bener bangunnya. Gua tuh bosan apabila tidak ada abang," keluh Rimba.
"Kenapa bosan?" tanya Guan.
"Entahlah gua sering nanyain hal random sama abang tentang apapun. Anehnya dia mampu jawab hal tersebut," ujar Rimba.
"Adek lu bukannya seperti abangmu?" tanya Bagas.
"Yah abang dan adek memang jenius berbeda denganku yang malas belajar," ujar Rimba.
"Lagipula kedua orangtuamu tidak membedakan kasih sayang walaupun kalian bertiga berbeda," ujar Bagas.
"Memang kau dibedakan mengenai kasih sayang?" tanya Rimba kepada Bagas.
"Kurasa begitu setiap kakakku sakit langsung dibawa ke rumah sakit sementara aku dibiarkan sembuh sendiri," ujar Bagas.
"Kok aneh?" tanya Guan.
"Entahlah mungkin ibuku berharap aku terlahir sebagai perempuan nyatanya tidak," jawab Bagas.
"Bukannya kehadiranmu karena suatu takdir Tuhan," ujar Guan.
"Setidaknya masih ada ayah di sisiku," ujar Bagas.
"Kalau lu ada masalah datang aja ke rumah kita berdua," ujar Rimba menepuk pundak Bagas.
"Ayahku ada dua ibuku ada dua. Nah kalau bisa kau ambil saja ibu tiriku," ujar Guan dengan senyumannya.
Ucapan kedua sahabatnya membuat Rimba sedikit terdiam. Memang diantara mereka hubungan keluarga Rimba lebih beruntung. Walaupun dia diajarkan mandiri sejak dini bahkan belajar bela diri.
Setidaknya kedua orangtua Rimba tetap bisa adil, tanpa dibedakan ataupun dilupakan. Memang waktu awal kelahiran Fano dia sedikit dilupakan, namun seiring berjalan waktu mereka meminta maaf kepada Rimba dan Argo karena pengabaian mereka.
"Kupikir hidupku walaupun berbahaya, lebih beruntung dibandingkan kalian," ujar Rimba.
"Gua bahkan tidak paham tentang pemikiran orang dewasa yang mengincar anak kecil demi suatu kekuasaan," ujar Guan.
"Terkadang di suatu titik aku merasakan ingin menjadi orang dewasa," ujar Bagas.
"Kupikir lebih baik kita belajar saja dibandingkan memikirkan hal tersebut," ujar Guan.
"Di suatu titik aku sangat malas belajar," ujar Rimba.
"Tidak perlu berpikir keras tentang hal yang tidak kau sukai Rimba," ujar Guan.
"Orangtuamu kaya raya masa depanmu telah tertata rapih," ujar Bagas.
"Aku perlu mencari jalan agar tetap sekolah walaupun masih ada papa yang membiayai sekolahku saat ini," ujar Guan.
"Kenapa begitu?" tanya Bagas.
"Istri baru papa tidak suka kehadiranku jadi lebih baik aku mencari jalan untuk beasiswa," ujar Guan.
"Aku juga akan berpikiran sepertimu dengan beasiswa aku tidak akan membuat ayah terbebani olehku," ujar Bagas.
"Ayolah kalian boleh menghabiskan uangku demi pendidikan kalian," sahut Rimba santai.
"Hah?!" kaget keduanya.
"Kalian berdua sahabat terbaikku bukannya seorang sahabat saling membantu," ujar Rimba dengan senyuman.
Perkataan Rimba yang sederhana membuat keduanya terharu. Walaupun Rimba terkenal nakal dia sosok yang sangat baik terhadap orang yang dia sayang.
Di alam bawah sadar Argo berulangkali Henry membujuk Argo untuk segera bangun. Dianggap angin lalu oleh Argo. Argo pikir dia perlu menyiapkan sebuah rencana untuk masa depan.
Berbeda di alam bawah sadar di kamar bernuasa biru ada sosok balita tengah bermain sendirian tidak ada yang mengawasi dirinya.
Dari wajahnya nampak kesedihan wajah ceria Fano, belum terlihat sejak beberapa minggu lalu. Dia juga merasa kehilangan sejak sang abang dinyatakan koma.
Suara pintu terbuka disana ada sosok Lusi membawa sebuah piring nasi beserta lauk untuk sang bungsu.
Lusi mendekat kearah sang anak untuk menyuapi dia makan. Diterima baik oleh Fano selesai makan Fano duduk di pangkuan Lusi untuk tidur.
"Adek doakan abang segera bangun ya," ujar Lusi.
"Tentu saja mama," sahut Fano.
Balita itu tertidur merasakan perasaan nyaman di pangkuan sang ibu. Lusi menggendong tubuh mungil Fano ketika akan menidurkan Fano di kasur ada suara langkah kaki mendekat.
"Kenapa pulang lebih cepat sayang?" tanya Lusi kepada sang suami.
"Aku merindukan tingkah nakal mereka," sahut Stevan jujur.
Semenjak Argo koma tidak ada yang membuat dia marah ataupun kesal ketika pulang dari kantor. Sosok jahil Rimba seolah menghilang begitu saja tergantung sifat baru.
Tengah hari Rimba pulang sekolah ketika melihat sang ayah berada di kursi tamu tidak dia hiraukan sama sekali. Stevan yang melihat kehadiran Rimba langsung mengejar sosok sang anak tengah.
Dia berhasil menangkap tubuh kecil Rimba. Penolakan yang dilakukan Rimba tidak menghalangi Stevan menggendong tubuh sang anak.
"Kakak!" panggil Stevan kepada sang anak.
"Diamlah!" kesal Rimba.
"Papa rindu sama kamu lho," ujar Stevan.
"Lepaskan!" kesal Rimba.
Stevan memeluk erat tubuh Rimba sangat erat. Dia sangat merindukan Rimba bahkan tidak suka akan sikap cuek Rimba.
"Papa meminta maaf karena tidak bisa menjaga abang. Jadi kakak boleh memukul papa kok," ujar Stevan.
"Tidak perlu," ujar Rimba.
Rimba yang malas bergerak akhirnya membiarkan Stevan menggendong tubuhnya menuju kamar miliknya.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Minggu 24 Maret 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiksi UmumArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
