42 (potong gaji)

1.9K 169 11
                                        

Di kamar Argo dia diam menatap wajah damai sang adik Fano. Balita itu tertidur setelah menghabiskan sebotol susu mungkin dia lelah juga belajar.

Suara seseorang mendekat membuat Argo sedikit waspada ternyata itu keluarganya. Saat masuk wajah masam Stevan nampak jelas membuat heran Argo.

Lusi terkekeh geli melihat wajah kesal sang suami. Di belakang ada Bram menggendong Rimba yang malah meledek sang ayah.

Tidak ada balasan dari Stevan dia malas ribut dengan ayahnya sendiri akibat bertengkar dengan putranya. Lusi menatap wajah Argo yang diam saja memperhatikan interaksi mereka.

Sang ibu memeriksa luka Argo bahkan sang anak diam saja tidak mengeluarkan suara apapun. Lusi memeriksa kening Argo memastikan bahwa Argo tidak kembali demam.

"Mama kenapa?" tanya Argo.

Lusi melirik kearah Stevan. Intuisi Lusi berkata bahwa Argo menyembunyikan rasa sakit kembali.

"Merasa tubuhmu tidak enak bang?" tanya Lusi merasa khawatir melihat wajah pucat Argo.

"Aku baik-baik saja," jawab Argo.

Stevan mendekat dia memeriksa bekas luka di kedua kaki Argo. Memang selama beberapa hari ini Argo hanya menggunakan kaos dalam dan celana pendek saja disebabkan dokter berkata agar mudah mengawasi bekas luka Argo.

"Wajahmu pucat lho," sahut Stevan khawatir.

"Abang sepertinya tidak menghabiskan makanan yang diberikan mama deh," celetuk Rimba.

"Ucapan adikmu benar?" tanya Stevan.

"Lidah abang tidak enak. Makanya sisa bubur diberikan kepada Rimba," jawab Argo.

"Adikmu memang suka sekali makan," sahut Stevan.

"Biarin! Kakak mau gemoy kayak adek!" pekik Rimba.

"Orang sakit memang begitu bang. Mama tidak marah kalau abang tidak menghabiskan makan, tapi lebih baik jujur apa yang dirasakan sekarang," ujar Lusi mengelus rambut Argo.

"Sedikit mual dan pusing," sahut Argo.

"Aku akan memanggil dokter dan mengurus kedua anak kalian. Jadi sementara urus Argo hingga dia pulih. Kalian tahu bukan bahwa Argo berbeda dengan kedua adiknya," ujar Bram.

Bram mengambil Fano yang sejak tadi tidak terusik akan nada bicara orang di sekitar malah anteng tertidur. Setelah Bram keluar dari kamar ketika Stevan akan membuka celana yang digunakan Argo membuat sang anak menghentikan aksi Stevan.

"Papa mau ngapain sih?!" protes Argo.

"Memeriksa bekas luka di area dekat burung kecilmu itu!" pekik Stevan.

"Ada mama!" pekik Argo.

"Tidak perlu malu masih kecil juga punya kamu," ujar Stevan santai.

Wajah putih Argo memerah malu ketika Stevan memeriksa bekas luka dekat area vital dia. Lusi sang ibu bahkan menahan tawa melihat tingkah putra pertamanya.

Selesai memeriksanya dengan cepat Argo mengangkat selimut dan bersembunyi di dalamnya akibat malu. Stevan tertawa akan reaksi lucu anak sulungnya.

"Putra sulung kita ternyata telah tumbuh dewasa. Padahal dia masih anak kecil kemarin," ujar Stevan.

"Yah mungkin dia sangat malu," sahut Lusi.

"Abang!" panggil Stevan.

"Aku malu tahu!" pekik Argo.

"Tidak ada orang lain lho selain kita bertiga," sahut Lusi.

"Tetap saja abang malu!" pekik Argo yang tetap bersembunyi di dalam selimut.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang