52 (rimba bingung)

1.5K 144 2
                                        

Seperti para murid pada umumnya Argo tengah bersiap di kamar untuk bersekolah. Dia memperhatikan penampilan dia sejenak di depan cermin. Celana biru yang digunakan menunjukkan bahwa dia murid salah satu smp ternama.

Membuang nafas sejenak Argo sedikit mengacak-acak rambut dia yang rapih. "Aku terbuai akan sensasi sebagai anak kecil," ujar Argo.

"Penculikan adikmu masih sekitar tujuh tahun lagi, apalagi kematian mereka," ujar Henry.

"Aku tidak bisa seperti ini Henry!" protes Argo.

"Abang bicara sama siapa?" tanya sang adik Rimba.

Sejak tadi Rimba heran mendengar bahwa sang abang tengah berbicara dengan seseorang. Lebih anehnya tidak ada satupun orang di kamar Argo selain dirinya dan sang abang.

Rimba mendekat kearah Argo lalu memeriksa kening Argo walaupun sedikit berjinjit. "Abang tidak demam," ujar Rimba setelah memeriksa kening sang abang.

Hanya senyuman yang ditampilkan oleh Argo. "Lupakan saja lebih baik kita sarapan saja!" ajak Argo.

Kedua kakak beradik itu pergi ke meja makan. Sepanjang jalan menuju kesana Rimba sangat antuasis menceritakan hal lucu kepada Argo.

Di meja makan sudah ada sang kepala keluarga bersama sang ibu. Argo duduk di tempat biasa begitupula dengan Rimba.

"Adek belum bangun?" tanya Rimba.

Stevan meletakkan koran yang dia baca. "Adikmu memang sering bangun sekitaran jam delapan pagi jadi biarkan saja," jawab Stevan.

"Kalau bangun pagi pasti akan menangis meminta agar sekolah seperti kita berdua," ujar Argo.

"Kalian berdua mau sereal atau nasi?" tanya Lusi kepada kedua anaknya.

"Aku nasi dengan cumi goreng!" pekik Rimba.

"Aku juga sama," ujar Argo.

"Kalian diantar sama papa. Ketika pulang abang telepon papa saja," ujar Stevan.

"Kok abang belum diizinkan menggunakan motor sih?" tanya Rimba bingung.

"Abang belum punya ktp jadi tidak boleh," ujar Stevan.

"Lama banget dong kalau gitu," keluh Rimba.

"Kalian mempelajari tentang menembak, mampu bela diri, berkuda dan memanah saja sudah lebih dari cukup bagi papa," ujar Stevan.

"Memanah memang keren musuh bisa langsung mati seketika apalagi dipanah di kepalanya," ujar Rimba senang.

"Kurasa walaupun dirimu memiliki sisi ceria tetap saja darah tidak bisa berbohong nak," ujar Lusi.

"Kata opa dan kakek keluarga kita banyak musuh makanya papa ajarkan kami semua itu," jawab Rimba polos.

"Lain kali kamu perlu melihat sisi gelap keluarga kita," ujar Argo.

"Maksudnya?" bingung Rimba tidak mengerti.

"Ingat Stevan jangan bawa Rimba ke dunia bawah sebelum seusia dengan Argo!" peringkat Lusi kepada sang suami.

"Tenang saja sayang," jawab Stevan.

Mereka berempat memulai sarapan dalam hening. Beberapa menit kemudian selesai Stevan memakai jas formal sementara kedua anaknya memakai ransel yang memiliki motif sama.

Baru saja Stevan memegang gagang pintu ada seseorang yang memeluk kaki kanan Stevan. Ketika melirik kearah bawah ternyata itu ulah sang bungsu.

Penampilan balita tersebut masih sangat berantakan. Bahkan piyama yang digunakan nampak ada bekas susu disana. Rambut berantakan tidak rapih seperti biasanya. "Mau sekolah!" pekik Fano kepada Stevan.

"Dua tahun ke depan ok. Sekarang adek belajar dulu sama guru private," ujar Stevan mengelus rambut Fano.

Balita berusia tiga tahun nampak tidak setuju akan jawaban sang ayah. "Adek mau sekolah sekarang!" pekik Fano.

"Nanti kakak kasih cilok enak deh saat pulang sekolah," ujar Rimba membujuk sang adik.

"Cilok?" beo Fano memiringkan kepalanya.

Rimba menyikut tubuh sang abang. Argo yang mengerti sedikit menghela nafas kasar dia jujur merasa bingung menjelaskan tentang definisi sederhana cilok kepada Fano. "Cilok jajan enak yang terbuat dari tepung kanji cara makannya di colok oleh sebilah bambu kecil. Ada juga cilok yang berisi oleh telur kecil sebagai varian isian," ujar Argo kepada Fano.

Wajah Fano semakin tidak mengerti akan ucapan Argo barusan. Rimba yang paham mendekati Fano lantas berjongkok di depan sang adik. "Cilok itu seperti mochi," ujar Rimba menjelaskan lebih sederhana kepada sang adik.

"Berarti cilok juga manis seperti mochi ya?" tanya Fano.

"Iya hampir sama," jawab Rimba.

"Adek mau yang banyak ciloknya!" pekik Fano.

"Sebanyak apa, hm?" tanya Rimba menoel pipi bulat sang adik.

Sang balita menepis tangan kakaknya dari pipi. "Jangan sentuh pipi adek!" protes Fano.

"Sebagai hadiah darimu minta kiss dong," ujar Rimba.

"Gak!" jawab Fano ketus.

Ide jahil Rimba terbesit seketika. "Berarti kakak beli cilok untuk abang kan adek tidak mau," ujar Rimba.

Terdengar hentakkan kaki kecil Fano membuat kedua orangtua menyaksikan hal tersebut terkekeh geli. "Iya sini adek kiss!" pekik Fano.

Rimba menunjuk ke pipi kanan dengan cepat Fano mencium pipi sang kakak. Rimba menarik tangan sang abang agar berjongkok mumpung Fano menurut. Mengerti kode Rimba dia juga mencium Argo di pipi.

Mendapatkan apa yang mereka mau dengan kompak kedua kakak beradik mencium masing-masing pipi sang bungsu dalam waktu bersamaan. Interaksi mereka sangat manis membuat semua iri akan hal tersebut.

Akhirnya drama berakhir walaupun Fano perlu dikasih sogokan agar tidak memaksa untuk sekolah. Di mobil mereka bertiga duduk di kursi tengah sementara supir ada Edward.

Rimba yang iseng menyenderkan kepala dia ke bahu sang abang. "Abang mau tidak dibelikan cilok sama aku?" tanya Rimba kepada sang abang.

Argo diam saja walaupun tangan dia mengelus rambut Rimba. "Untuk adek saja abang bisa beli sendiri," jawab Argo.

Wajah Rimba menatap wajah Argo. "Nanti kakak minta uang kakak ya kalau uang jajanku habis saat jam pulang," ujar Rimba.

Jitakan didapatkan oleh Rimba dari sang abang. "Kau yang berjanji tetap saja yang menanggung biaya abang!" kesal Argo.

Bibir Rimba maju beberapa centi mendapatkan ceramah pagi dari sang abang. "Yah sebagai abang perlu dihabiskan uangnya olehku," jawab Rimba santai.

"Enak di kamu gak enak di abang!" kesal Argo.

"Tidak perlu, dibawa tidak enak. Lebih baik buang saja hal tidak enak tersebut," jawab Rimba.

"Kau ini setiap abang nasehatin membantah mulu!" kesal Argo.

"Dengar abangku yang ganteng tapi lebih ganteng aku. Kita lahir beda tiga tahun wajar apabila aku sebagai adik yang baik akan membuatmu emosi jiwa," jawab Rimba.

"Pah kurasa adikku dulu tertukar di rumah sakit," ujar Argo kepada sang abang.

"Hey itu menyakiti hati kecilku!" protes Rimba.

"Habisnya kamu nyebelin sih!" pekik Argo.

"Sudah anak-anak jangan bertengkar. Uang jajan kalian hari ini papa tambah jadi diam ya," ujar Stevan kepada kedua anaknya.

"Okey!" pekik mereka berdua.

Di kursi pengemudi Edward tertawa mendapati wajah Stevan sedikit kesal. Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit akhirnya mereka tiba di sekolah dimana Argo dan Rimba menuntut ilmu.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Jumat 10 Mei 2024

Maaf telat update soalnya kemarin ide tidak ada

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang