78 (berbagi)

1.3K 131 18
                                        

Sebuah keluarga tengah bercanda satu sama lain di dalam mobil. Mereka berencana akan menuju ke toko mainan terdekat. Di kursi depan ada sosok Edward tengah fokus menyetir.

"Papa! Mama!" panggil Rimba.

"Ada apa nak?" tanya Stevan.

"Anak berkebutuhan khusus boleh aku ajak menjadi teman?" tanya Rimba kepada kedua orangtuanya.

"Tentu boleh nak. Dia juga anak kecil seperti kakak," ujar Lusi mengelus rambut Rimba.

"Kata teman sekelasku. Anak itu tidak boleh diajak bermain," ujar Rimba polos.

"Dia anak surga kakak," ujar Lusi kepada Rimba.

"Anak surga?" beo Rimba.

"Ia akan mengantarkan kedua orangtuanya ke surga," jawab Stevan.

"Oh begitu," jawab Rimba mengerti.

"Lantas apabila anak itu ditinggalkan kedua orangtuanya bagaimana?" tanya Argo.

"Entahlah," jawab Lusi.

"Abang boleh mendirikan sebuah panti untuk mereka?" tanya Argo.

"Tentu boleh," jawab Lusi.

Fano tidak paham balita itu memilih duduk di pangkuan sang ayah. Perjalanan mereka berjalan sangat lancar. Di lampu merah mobil perlahan berhenti. Secara tiba-tiba Stevan keluar dari mobil bersama Fano. Kedua anaknya memperhatikan saja tindakan sang ayah.

Ternyata Stevan membantu seorang nenek tua untuk menyebrang jalan. Pekikan kagum terdengar dari Rimba. Lusi diam saja ia mengerti bahwa Stevan melakukan hal tersebut dengan tulus.

Tak lama Stevan kembali masuk ke dalam mobil. Lampu hijau menyala, perjalanan mereka kembali berlanjut.

"Aku mau ke toilet!" pekik Rimba.

"Berhenti di sebuah supermaket," ujar Stevan.

"Okey!" pekik Edward.

Wajah Rimba memerah akibat menahan buang air kecil. Beberapa menit kemudian akhirnya ada sebuah supermaket. Stevan mengantar Rimba masuk ke dalam supermaket.

Ketika ke luar supermaket Stevan memberikan cemilan yang ia beli kepada seorang anak kecil. Sang anak kecil tampak kaget ada sebuah plastik berisi makanan.

"Makan! Kau perlu mengisi energi untuk menghadapi kejamnya dunia ini," ujar Stevan datar.

Rimba memperhatikan saja tindakan sang ayah. Mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil. Tujuan mereka tetap sama yaitu toko mainan.

Tak terasa tiba di toko mainan. Ketiga anak itu langsung berlari kemanapun. Tujuan mereka mengajak Edward yaitu membantu mengawasi ketiga anak ini.

Edward mengikuti Argo saja dibandingkan dua anak yang lain. Benar saja Argo nampak tenang memperhatikan setiap mainan di rak.

"Terkadang aku heran dengan ayahmu," ujar Edward.

"Heran mengenai apa?" tanya Argo.

"Anak seusia kamu, seharusnya tidak diberi sebuah mainan lagi," jawab Edward.

"Aku bilangin om sama papa," ketus Argo.

"Jangan dong," ujar Edward.

"Bodoh amat!" pekik Argo.

Anak remaja itu memeluk mainan yang dia inginkan. Dan langsung berlari menjauh dari Edward. Cukup lihai Argo menghindari Edward. Sekian lama berlari ia akhirnya bertemu dengan sang ayah.

"Papa!" pekik Argo.

Argo memeluk erat kaki sang ayah. Stevan mengelus rambut sang anak. Dia memperhatikan tingkah laku sang bungsu yang tengah bingung memilih apa.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang