Di ruang konseling orangtua siswa yang dihajar oleh Argo terus saja memaki tiada henti. Argo diam saja tidak membalas bahkan dia menggorek telinga karena jengah mendengar semua itu.
"Kau benar-benar tidak punya sopan santun!" kesal sang ibu.
"Ck kurasa dia kalangan bawah yang ibunya sering mengangkang untuk para pria!" hina sang ayah.
Urat tangan Argo menonjol dia langsung mendorong sosok pria dewasa tersebut hingga terjatuh. Dengan brutal Argo memukul wajah pria tersebut tanpa ampun. Pria dewasa tersebut mencengkram bahu Argo yang terluka membuatnya lengah.
Dengan cepat pria tersebut menendang tubuh Argo menuju dinding. Argo sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya. Tidak ada suara ringisan membuat pria dewasa yang diserang Argo merasa kesal.
"Cukup pak! Nak Argo masih anak-anak dibawah umur," ujar sang guru.
"Anak kecil kelakuan layaknya berandalan," sinis sang pria dewasa.
Tanpa kesulitan Argo bangkit berdiri menatap datar kearah dua orang dewasa di depannya. Menurut Argo tidak masalah mengenai luka yang dia dapatkan kali ini. Sebuah luka kecil baginya dibandingkan melihat sang adik terluka.
"Ayah dan ibumu sulit dihubungi Argo," ujar sang guru konseling.
"Papa datanglah. Abang membutuhkan bantuanmu," ujar Argo menatap ketawa cctv di pojok ruangan.
Tak lama suara dobrakan pintu terdengar disana ada sosok sang ayah bersama ibunya. Lusiana menatap khawatir kondisi Argo yang tidak baik-baik saja. Argo tersenyum tipis dia lantas memeluk tubuh Lusiana sangat erat.
"Mama aku mau tidur," gumam Argo memeluk erat leher Lusiana.
"Tidur saja nak. Biar urusan ini diselesaikan orang dewasa," ujar Lusiana.
Argo menurut perlahan-lahan dia tertidur di pundak Lusiana. Lusiana melirik kearah suaminya untuk memberi kode agar segera menyelesaikannya.
"Tidak perlu dijelaskan lebih detail. Di setiap sudut sekolah ini ada cctv terpasang bahkan aku menempatkan cctv berjalan disini untuk menjaga kedua putraku."
"Putraku Argo memang bersalah karena memukul seorang siswa disini. Di sisi lain dia melindungi sang adik dari tindakan bully anak kalian," desis Stevan kepada wali murid di depannya.
"Ck kau hanya mengarang!" bentaknya.
"Lihat saja rekaman cctv di kantin. Pemicu pertengkaran dikarenakan putramu memukul putra keduaku duluan," ujar Stevan.
"Putraku tidak mungkin melakukan hal tersebut!" pekik sang istri.
"Cahyo dan Fihan. Kalian bisa kuhancurkan dengan mudah," ujar Stevan dengan seringainya.
"Bagaimana kau tahu namaku?!" kaget Cahyo.
"Seorang Stevan Kabar Jovetic memiliki banyak koneksi dengan mudah mendapatkan informasi," ujar Stevan santai.
"Kau urus mereka. Aku akan membawa putraku," ujar Lusiana.
Wanita berkepala tiga itu menggendong Argo di depan tak lupa mencium pipi kanan Stevan. Dia akan membiarkan sang suami mengurus semuanya.
Sang suami tersenyum karena tindakan sang istri. Setelah sang istri keluar Stevan mengeluarkan anak kecil disana dari ruangan. Selesai melakukan tindakan tersebut Stevan menodongkan pistol kearah dahi pria bernama Cahyo.
Keringat dingin dirasakan oleh Cahyo akibat benda dingin itu mengenai keningnya. Dia tahu bahwa pistol tersebut benar-benar asli bukan mainan semata.
"Aku bukan seorang penyabar. Kalau kau menginginkan kebebasan maka berikan satu ginjalmu kepadaku," ujar Stevan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
