14 (masih sakit)

5.6K 315 6
                                        

Dua hari kemudian Argo diizinkan pulang ke rumah. Luka di pundaknya telah sedikit kering, namun dia tetap tidak mau jauh dari sang ayah.

Bahkan saat ini Argo duduk di pangkuan sang ayah yang tengah sibuk mengetik di laptop. Pekerjaan kantor sedikit menumpuk karena Stevan meninggalkannya begitu saja untuk menjaga anaknya.

"Papa!" panggil Argo.

"Kenapa nak?" tanya Stevan mengelus rambut Argo.

"Maaf ya," ujar Argo.

"Tumben," sahut Stevan.

"Pundakku masih sedikit perih apabila digerakkan makanya minta digendong terus sama papa," ujar Argo kepada Stevan.

"Bukan masalah bagi papa. Lagipula jarang juga dirimu manja kepada papa," ujar Stevan.

"Dan sama adek kemana?" tanya Argo.

"Mama mengajak mereka berdua untuk menjemput kakek di bandara," jawab Stevan.

"Kakek?" beo Argo.

"Astaga makanya jangan terlalu ambis," sindir Stevan kepada anak sulungnya.

"Dih," delik Argo tidak terima.

Pintu ruangan pribadi Stevan terbuka sangat keras. Ternyata itu ulah Fano balita itu tampak cengengesan karena ulah jahilnya sendiri.

"Abang ayo turun!" ajak Fano menarik tangan kanan Argo turun dari pangkuan Stevan.

"Sebentar dek. Abang kamu masih sakit jangan diburu-buru ok. Takut pundak abang berdarah lagi," nasihat Stevan memberi pengertian kepada sang bungsu.

"Okey papa aku mengerti," ujar Fano.

Stevan terkekeh geli akan tingkah menggemaskan sang anak. Argo perlahan turun dan sang adik langsung menarik tangan kanan Argo keluar.

"Ah tetap saja dia anak sulung yang sulit menolak permintaan adiknya," ujar Stevan melihat wajah Argo yang sepertinya menahan rasa sakit akibat tarikan sang adik.

Pria itu mengambil wine yang memang sejak tadi tersedia cuma tidak dia nikmati. Dia tidak mau anaknya melihat dia meminum wine. Yah walaupun dia berlumuran dosa setidaknya dia perlu mengajarkan ketiga anaknya meminum alkohol saat usia mereka diatas 17 tahun keatas.

Setelah meminum satu gelas Stevan beranjak pergi untuk menemui mertuanya. Di ruang tamu kedua anak kecil heboh sekali karena mendapatkan berbagai macam hadiah dari sang kakek.

"Salam papa!" sapa Stevan.

"Suamimu kaku sekali seperti biasanya, Lusi," komentar Lui Wolter.

Lui Wolter sosok pria yang dulu menjadi musuh Bram. Namun takdir malah mengharuskan mereka berdamai dikarenakan kedua anaknya saling jatuh cinta.

"Papa lihat! Kakek kasih adek ini!" pekik Fano menunjukkan mainan yang diberikan Lui kepadanya.

"Papa lihat! Kakek kasih adek ini!" pekik Fano menunjukkan mainan yang diberikan Lui kepadanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang