Pembicaraan antara pria dewasa menarik perhatian seorang pria kecil. Dia adalah Fano balita berusia tiga tahun tersebut tadi pamit untuk mengambil minum ternyata malah berbelok kearah ruangan pribadi ayahnya.
Baru saja Fano akan pergi sebuah tangan menahan pergerakan Fano. Kedua tangan dewasa tersebut menggendong tubuh berisi Fano di pundak. Sang balita melihat kearah bawah dikarenakan dia berada di pundak seseorang.
Tak lama Fano tersenyum lebar menatap wajah orang tersebut. "Yeah adek tinggi!" pekik Fano senang.
"Bagaimana sudah membereskan semua kekacauan kalian?" tanya Stevan.
"Sudah kok. Adek beresin kasur sementara abang dan kakak sisanya," jawab Fano.
"Pintar sekali anak papa," puji Stevan.
"Kata papa biar adek semakin ganteng apabila rajin membereskan kamar," ujar Fano.
Ucapan polos Fano mengundang tawa dari Marcus. Ada saja jawaban Stevan mengenai alasan agar ketiga putranya mau membersihkan kamar.
"Kok om ketawa?" bingung Fano.
"Om kamu emang rada gila dek," jawab Stevan.
"Hey abang kejam sekali!" protes Marcus.
"Adek!"
"Dede sayang!"
Kedua suara tersebut sangat dikenalin oleh Stevan. Benar saja tak lama kedua putranya yang lain menghampiri dirinya.
"Lha kok adek disini?" tanya Argo.
"Adek cuma mau ketemu papa kok," jawab Fano.
"Papa turunkan adek!" pekik Rimba.
"Biar abang saja," ujar Argo.
Argo sedikit berjinjit dia dengan mudah mengambil tubuh mungil sang adik dari pundak ayahnya. Tinggi badan antara Argo sepundak Stevan. Jadi remaja tersebut mudah mengambil adiknya sendiri.
"Aku heran sama nutrisi yang kau berikan kepada ketiga anakmu," ujar Marcus.
"Mereka tipikal anak yang dipaksa Lusi memakan sayur sejak dini. Jadi sekarang bukan tipikal anak pemilih," ujar Stevan.
"Pah beli seblak dong," ujar Rimba tiba-tiba.
"Apa itu?" tanya Stevan tidak tahu.
"Kita beli saja di kaki lima banyak kok," jawab Argo.
"Adek mau!" pekik Fano.
"Kau tahu mengenai jajanan yang dikatakan putra nakalku?" tanya Stevan kepada sang adik.
"Kurasa aku pernah dibelikan klienku yang berasal dari Bandung beberapa hari lalu," jawab Marcus.
"Itu sejenis apa?" tanya Stevan.
"Semacam kerupuk oranye yang lempek terus dikasih berbagai macam rempah gitu," jawab Marcus.
"Aku belum pernah melihat hal tersebut," ujar Stevan.
"Ayo kakak kasihtahu jalan menuju kesana!" pekik Rimba.
"Papa mau seblak yang dibicarakan kakak!" rengek Argo menarik tangan Stevan.
"Adek mau!" rengek Fano.
"Sebentar papa berbicara dulu dengan om," ujar Stevan.
"Sekarang kesana!"
"Abang gak mau tahu!"
"Papa!"
"Ya udah kalau gak mau!"
"Abang sama yang lain kesana sendiri saja tanpa papa!" pekik Argo.
Remaja itu menarik kedua tangan adiknya. Marcus terkekeh geli mendengar nada rengekan dari keponakan pertamanya. Jarang sekali dia bisa melihat bagaimana Argo manja kepada ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Ficțiune generalăArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
