61 (seseorang)

1.3K 141 8
                                        

Liburan keluarga masih berlangsung bagi keluarga Jovetic. Mereka berlima sekarang tengah sarapan dengan tenang bahkan menikmati hembusan angin di pagi hari.

Selesai sarapan Argo sang tokoh utama mengajak kedua adiknya untuk melihat pemandangan. "Aku mau deh di masa depan keliling dunia melepaskan segala beban pikiran gitu," celetuk Rimba.

"Abang melarang," ujar Argo.

"Dih siapa yang meminta persetujuan abang?!" sinis Rimba.

"Adek juga mau seperti papa yang menangkap orang jahat," ujar Fano.

"Tidak boleh!" pekik Argo.

"Abang kenapa sih?" tanya Rimba heran akan reaksi sang abang.

"Bukan apa-apa," jawab Argo.

"Abang itu ada orang disana," tunjuk Fano.

Argo menyipitkan mata melihat arah tunjuk sang adik. Melihat mata seseorang mengawasi gerak gerik mereka dengan sekali lompatan Argo keluar dari jendela.

Tindakan Argo membuat Rimba sedikit kaget. Di sisi Argo dia tengah mengejar orang yang sejak tadi mengawasi aktivitas dia bersama kedua adiknya.

Saat akan mendekat ke sebuah pohon dengan refleks cepat Argo memiringkan kepalanya sedikit. Benar saja tak lama sebuah peluru meluncur kearah dimana Argo berdiri sebelumnya.

"Kau hebat juga bocah," ujarnya.

"Paman pikir aku seseorang yang lemah," ujar Argo.

"Menurut rumor yang beredar anak sulung Stevan merupakan anak paling lemah. Jadi kupikir membunuhmu hal yang cukup mudah," ujar pria tersebut.

"Kurasa kau salah," ujar Argo.

"Kulihat wajahmu lebih pucat dibandingkan kedua saudaramu yang lain. Makanya saat kau terjebak untuk mengejarku suatu keuntungan besar bagiku," ujarnya.

"Frans anda merupakan orang yang berbahaya," ujar Argo dengan senyuman sinis.

Ucapan Argo membuat sang pria sedikit kaget. Pria tersebut bahkan menarik kerah baju Argo sebuah pistol mengarah tepat di kepala Argo. Tidak ada reaksi takut dari Argo sama sekali seolah itu bukan hal besar baginya.

Frans Alberto sosok pria dewasa seumuran Stevan. Dia merupakan seseorang di masa lalu Lusi. Seorang pria dengan ciri fisik kulit sawo matang dengan kumis tipis.

"Kau memiliki seorang putra seumuran dengam adikku. Jangan kau pikir bahwa diriku tidak tahu," ujar Argo.

"Aku membenci kau! Anak dari Stevan!" pekiknya.

"Kau patah hati terhadap penolakan dari ibuku berakhir seperti ini ya. Kasihan sekali anakmu hanya menjadi alatmu balas dendam," ujar Argo.

"Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti!" pekik Frans.

"Selain pendendam kau juga bodoh ya!" pekik Argo.

Melihat lawan semakin emosi dengan mudah Argo menepis pistol yang mengarah tepat di kepalanya. Saat sadar Frans langsung mencekik leher Argo sangat kuat.

Tidak ada raut ketakutan dari Argo membuat Frans semakin emosi. Frans mendekatkan wajahnya tepat di depan Argo. Argo yang muak membenturkan kepalanya dan Frans cukup kencang.

Akhirnya cekikan tersebut terlepas. Argo mengambil pistol yang terjatuh dan mengarahkannya kearah Frans. "Sekarang siapa yang kalah paman?!" ledek Argo.

"Kurasa putraku lebih cerdik daripada dirimu Frans," ujar seseorang.

Suara sang ayah tidak menyurutkan tindakan Argo. "Aku yang melumpuhkan dia," ujar Argo.

"Silahkan nak," ujar Stevan.

Sebenarnya sejak tadi Stevan telah tiba. Dia hanya mengawasi saja bagaimana Argo akan mengambil tindakan untuk menyelamatkan diri. Dugaan dia benar bahwa Argo sangat mudah untuk membalikkan keadaan dalam waktu singkat.

"Tembak organ vital. Ambil semua yang berharga," ujar Stevan.

"Abang pikir membunuh anaknya lebih menyenangkan," ujar Argo dengan seringainya.

"Kau benar-benar iblis seperti ayahmu!" pekik Frans.

"Dirimu tahu bahwa keluargaku iblis mengapa masih berani mengusik keluargaku?" tanya Argo.

"Aku benci melihat Stevan bahagia atas penderitaanku!" pekik Frans.

"Frans kau manusia bodoh! Mengenai takdir hidupmu bukan urusanku untuk mencampurinya," ujar Argo.

"Aku mencintai Lusi! Kau seenaknya merebut dia!" pekik Frans.

"Kau aneh! Aku yang telah resmi menjadi pacar Lusi sebelum memasuki dunia kuliah. Sementara kau muncul saat masa orientasi kuliah," ujar Stevan.

"Lebih baik kita lepaskan saja! Dia bukan ancaman," ujar Argo.

"Sebentar," ujar Stevan.

Stevan mengambil pistol yang berada di tangan sang anak. Dia dengan santai menembak kaki kanan Frans dua kali. Cipratan darah mengenai wajah Stevan dan juga Argo.

Dirasa sudah selesai Stevan mengantongi pistol dan menggendong Argo begitu saja. Cukup lama mereka berjalan hingga Stevan tiba-tiba berhenti berjalan.

"Ada apa papa?" tanya Argo.

Stevan mengelap darah di wajah Argo. "Terkadang papa heran mengenai kamu nak," ujar Stevan.

"Maksudnya?" bingung Argo memiringkan wajahnya.

Stevan mencium kedua pipi Argo secara brutal membuat tawa Argo meledak seketika. Ayah tiga anak itu tidak masalah mengenai sikap manja anak sulungnya.

Menurut dia setiap anak miliknya berhak menunjukkan sisi manja mereka. Argo memundurkan wajah Stevan disebabkan dia kebelet pipis.

"Karena papa aku kebelet pipis tahu?!" kesal Argo menggembungkan pipinya.

Stevan tertawa melihat reaksi lucu sang anak. "Kamu pipis saja dulu lagipula kita sesama pria juga," ujar Stevan.

Seketika wajah Argo memerah. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang ayah. Stevan melanjutkan jalan tak lama dia berhenti untuk menurunkan Argo.

Dia membiarkan Argo menuntaskan apa yang dia tahan sejak tadi. Setelah Argo selesai Stevan kembali menggendong Argo.

Akhirnya mereka tiba di penginapan. Argo diturunkan oleh Stevan baru saja turun tubuh Argo dipeluk sangat erat oleh kedua adiknya. Stevan berjongkok untuk menahan tubuh Argo yang akan terjatuh.

"Kakak! Adek! Hati-hati itu abang hampir jatuh lho," nasihat Lusi.

"Eh maaf?!" pekik Rimba melepaskan pelukan.

"Maafin adek juga ya," ujar Fano.

"Tidak masalah kok," ujar Argo.

Lusi berjongkok di depan Argo. "Abang lain kali jangan begitu ya. Lebih baik meminta tolong kepada mama atau papa untuk mengecek hal yang mencurigakan," nasihat Lusi.

"Abang penasaran saja kok mah. Makanya abang kejar saja," sahut Argo polos.

"Dasar kamu menjawab saja," ujar Lusi menarik pelan hidung mancung Argo.

"Hehehe," tawa Argo.

"Abang tadi mengejar apa?" tanya Fano.

"Itu hewan," jawab Argo.

"Biasanya abang bisa mengalahkan seekor harimau sendirian," ujar Rimba.

Rimba pernah melihat sang abang mengalahkan seekor harimau sendirian walaupun berakhir dengan kena omelan oleh Stevan.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Jumat 14 Juni 2024

Maaf telat dikit

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang