Seperti hari biasa Argo tengah duduk sendirian di taman sekolah. Taman ini terletak cukup jauh dari keramaian. Dia menolak ajakan Arik untuk makan siang bersama di kantin.
Sejak pagi dia merasakan bahwa ada seseorang mengikuti dirinya. Dia berjalan semakin menjauhi area sekolah. Tiba di gudang terbengkalai sosok yang mengikuti Argo keluar.
Sedikit heran tentang seorang murid culun menghampiri dia. "Siapa?" tanya Argo.
"Terimakasih atas bantuanmu beberapa hari lalu," ujarnya membungkukkan badan di hadapan Argo.
"Aku merasa belum pernah menolongmu," ujar Argo.
"Kamu menolongku dari tindakan bully beberapa siswa berpengaruh di kota ini," ujarnya.
"Imbalan darimu apa?" tanya Argo.
"Semua tugasmu akan kukerjakan," ujarnya.
Argo tersenyum smirk mendengar jawaban pria yang lebih pendek darinya. Dia mendekat dan menepuk pundak dia.
"Aku memerlukan nyawa mu untuk mengabdi padaku. Di masa depan pekerjaanku akan melanggar hukum di negara manapun," ujar Argo.
"Aku tidak masalah!" pekiknya.
"Namamu?" tanya Argo.
"Ringo Satria Nugraha," jawab Ringo.
"Kelas?" tanya Argo.
"Sembilan," jawab Ringo.
Argo sedikit mundur memperhatikan tubuh Ringo dari atas sampai bawah. "Usiaku dua belas tahun saja sudah seratus enam puluh. Kau lebih tua dariku malah lebih pendek," ujar Argo heran.
"Kau dibesarkan dengan kasih sayang kalau aku sebaliknya," ujar Ringo.
"Membalas mereka dengan cara kerjaku," ujar Argo.
"Bagaimana?" tanya Ringo.
"Membunuh," jawab Argo santai.
"Hah?!" kaget Ringo.
Seorang pria dewasa berpakaian serba hitam mendekat. Dia mengeluarkan sebuah pistol mengarahnya kearah kepala Argo.
Sedikit merogoh saku celana. Argo melemparkan sebuah pisau ke sembarang arah. Lemparan Argo mengenai pria yang berniat menembaknya.
Suara teriakan seorang pria membuat Ringo sedikit kaget. "Aku dibesarkan sebagai seorang anak mafia. Melukai seseorang merupakan hal biasa bagiku," ujar Argo.
"Itu cukup keren," komentar Ringo.
Sang pria menunjuk wajahnya dan langsung menyerang Argo. Di kejauhan Ringo melihat saja tanpa berkomentar apapun. Setelah Argo berhasil mematahkan leher sang pria dia kembali kearah Ringo.
"Kau tidak takut?" tanya Argo.
"Diriku sering dikurung di ruang bawah tanah ketika melakukan kesalahan kecil," sahut Ringo.
"Mengapa kedua orangtuamu tega melakukan hal tersebut?" tanya Argo.
"Ayahku berkata bahwa aku seorang pembawa sial. Akibat kelahiranku ibu kandungku tiada. Perusahaan milik keluarga terancam bangkrut. Mereka menyalahkan itu kepadaku," jawab Ringo.
"Alasan tidak masuk akal," komentar Argo.
"Oi Argo!" panggil seseorang.
Suara yang amat dia kenalin yah itu Arik. Remaja yang lebih tua dari Argo berlari kearah Argo, dan akan memeluk Argo dicegah oleh Argo. "Jangan memelukku," ketus Argo.
"Lu kebablasan liburan sekolah tahu!" protes Arik.
"Bokap melarang gua sekolah sementara," jawab Argo.
"Dia siapa?" tanya Arik menunjuk kearah Ringo.
"Rekan barumu untuk berlatih," ujar Argo.
"Kukira kau tidak memerlukan banyak orang," ujar Arik.
"Anggota papa rata-rata berusia sama dengannya. Wajar aku merekrut orang baru agar diriku tidak perlu merasa risau mengenai kesetiaan anak buahku," ujar Argo.
Arik merangkul pundak Argo. "Gua pernah lihat nih bocah membunuh seseorang," ujar Arik.
"Itu suatu hal yang cukup mengerikan," ujar Ringo.
"Untuk ke depannya kau akan berlatih bersama Arik. Dia lebih muda darimu satu tahun," ujar Argo.
"Berarti Argo sekolah terlalu cepat," ujar Ringo.
"Aku lompat kelas," ujar Argo.
"Kita makan saja yuk! Gua laper sumpah mana habis ini pelajaran matematika," ujar Arik.
Mereka menggangguk setuju akan usulan Arik. Mereka bertiga berjalan keluar dari gudang belakang tak lupa Argo memberikan sedikit bingkisan untuk sang pengirim yang menginginkan dia dibunuh.
Selesai melakukan itu dia menyusul kedua temannya. Tiba di kantin Argo duduk saja di tempat dekat sang adik Rimba.
Melihat antesi sang abang dengan cepat Rimba memeluk tubuh Argo sangat erat. "Abang!" pekik Rimba.
Dia diam tapi membalas pelukan sang adik. Ia juga membiarkan Rimba duduk di pangkuannya. Sang adik kembali makan walaupun sambil duduk di pangkuan abangnya.
Benar saja Rimba sudah habis makan dilanjutkan porsi selanjutnya. Ringo sedikit kaget menatap porsi makan Rimba.
"Adikku memang lumayan banyak makan," ujar Argo.
Tak lama Arik datang bersama seorang pria paruh baya. Sang pedagang membantu Arik membawa tiga mangkok makanan berisi batagor dan jus jeruk.
Mereka makan sambil bercerita satu sama lain. Argo mendengarkan saja bahkan sesekali menyuapi Rimba dengan batagor.
Beberapa menit kemudian mereka selesai makan. "Abang! Dan malas ke kelas," keluh Rimba memeluk leher Argo.
"Adikku kenapa?" tanya Argo.
"Di kelas Rimba dijodohin sama cewe cantik bang!" pekik Bagas.
"Diem lu!" kesal Rimba.
"Sayang bang beda agama," ujar Guan.
"Aan!" kesal Rimba.
"Masih kecil jangan pacaran dulu," nasihat Argo.
"Dan nanti pacaran nya kok. Tapi langsung sepuluh cewe ya," ujar Rimba.
"Tidak boleh Dan!" tegur Argo.
"Bodoh amat! Dan mau punya banyak cewek!" pekik Rimba.
"Abang potong burungmu kalau gitu!" ancam Argo.
Rimba menggeleng kuat tidak mau akan ungkapan yang dilontarkan oleh Argo. Sementara yang lain tertawa akan interaksi lucu kedua bersaudara tersebut.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Minggu 07 Juli 2024
Satu bab lagi ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiksi UmumArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
