Suara tangisan terdengar jelas di pendengaran Argo. Dia mengendarkan pandangan segala penjuru. Pakaian serba hitam suasana suram dan tidak menggenakkan terasa di sekeliling.
Sedikit kaget akan pemuda yang merupakan sang adik Rimba menatap kosong kearah depan. Mengikuti arah pandang Rimba ternyata ada sebuah peti mati. Merasa penasaran dia mendekat dimana peti mati berada pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah damai Fano dalam tidur.
Nafas Argo tidak teratur. Suara teriakan menyadarkan dia dari tidurnya. Membuka mata melihat sekitar ternyata berada di ruang rawat Stevan.
"Hey abang kenapa?" tanya Lusi khawatir mengelus rambut sang sulung.
"Adek! Dan! Peluk abang," lirih Argo kepada kedua adiknya.
Menuruti ucapan sang abang kedua bocah itu memeluk tubuh Argo sangat erat. Lusi sedikit aneh akan semua itu. Dia tahu bahwa Argo menyayangi kedua adiknya namun setahu dia Argo tipikal kakak sulit mencurahkan kasih sayang.
"Anakmu aneh," ujar Lusi.
"Biarin ih! Aku mau peluk kamu saja!" protes Stevan.
Yah sejak tadi Stevan tidak melepaskan tubuh Lusi dari pelukannya. Bahkan Marcus hanya diam saja menjadi pihak nyamuk diatas keromantisan antara abang dan kakak iparnya.
"Bang lu kalau romantisan nanti aja kali. Anak lu sakit tuh sadar diri!" kesal Marcus.
"Diem lu! Terserah gua napa!" kesal Stevan.
"Punya bokap tidak sadar umur," sindir Rimba kepada Stevan.
"Hey!" kesal Stevan.
"Sayang sudahlah lihat keadaan anakmu yang sedang tidak baik-baik saja," sahut Lusi.
"Iya maaf," ujar Stevan.
Pria dewasa itu melepaskan pelukan dari sang istri. Keadaan Argo memang terlihat baik-baik saja walaupun di pikiran dia berbeda.
Anak remaja berusia dua belas tahun tengah bertengkar dengan isi pikiran mengenai kenangan masa lalu. Usia muda namun dengan kenangan kelam menyakitkan tidak membuat dia tenang.
Keterdiaman Argo membuat Rimba menatap wajah sang abang khawatir. Anak kedua itu mengerti bahwa Argo tidak dalam baik. Ada suatu hal yang disembunyikan Argo dari dirinya.
"Abang!" panggil Rimba.
Argo yang masih tenggelam dalam masa lalu baru tersadar karena panggilan Rimba. "Ah iya!" tersentak kaget.
"Mah aku izin deh jaga abang di rumah," ujar Rimba.
"Biar abang disini saja," ujar Lusi tidak setuju akan ucapan Rimba.
Rimba menggelengkan kepala tidak mau. "Mama jaga papa disini kata om dokter papa masih perlu istirahat satu hari lagi untuk pulih. Kakak janji akan rawat abang dengan baik kok kalau kerepotan akan panggil tante," ujar Rimba.
"Adek gimana?" tanya Fano kepada Rimba.
"Adek bantu kakak jaga abang ok," ujar Rimba kepada sang adik.
"Ok!" pekik Fano bersemangat.
"Kurasa ucapan Rimba ada benarnya kak. Bukan maksud bagaimana kupikir lebih baik anak-anak kembali ke rumah hingga keadaan abang pulih."
"Kondisi kesehatan Argo yang menurun mungkin saja akibat tidak tidur nyaman disini. Kakak tahu kan dulu Argo hampir tiada ketika bayi."
"Kupikir itu alasan Argo belakangan ini mudah jatuh sakit akibat suatu hal yang tidak kita ketahui," ujar Marcus menatap wajah Argo yang masih diam saja memeluk leher Rimba sangat erat.
"Abang tiada?" beo Rimba.
"Masa dia kehausan diam mulu Rimba. Satu keluarga heboh ketika wajah dia memucat untung berhasil diselamatkan!" kesal Marcus.
Marcus ingat betul bagaimana paniknya mereka sekeluarga akibat ulah Argo saat bayi. Biasanya seorang bayi akan menangis ketika lapar, haus atau buang air. Argo berbeda dia lebih memilih diam jarang menangis bahkan terkesan seperti bayi ajaib.
Sejak kejadian tersebut setiap dua jam sekali Lusi memberi susu kepada Argo atau mengecek bagian bawah Argo. Entah dia sadar bahwa terlahir sebagai anak pertama, cucu pertama dan keponakan pertama di keluarga besarnya.
Kembali ke masa sekarang selesai mereka tiba di rumah kedua anak kecil disana diam saja tidak bersuara. Mereka khawatir akan keadaan Argo yang memerlukan waktu beristirahat seperti ayahnya Stevan.
Di samping Argo ada balita imut Fano yang asyik meminum susu dot sambil menjaga Argo sementara Rimba berada di dapur.
Anak tengah tersebut berusaha memasak bubur untuk sang abang. Marcus berada di belakang berjaga agar Rimba tidak terluka. Bisa gawat kalau dia terluka mungkin saja luka dia bertambah.
"Om pulang aja. Disini banyak orang lho menjaga kami bertiga," usir Rimba kepada Marcus.
"Sebentar lagi tante datang kesini. Maka om akan pergi dari sini," sahut Marcus.
"Aku bisa sendiri kok tenang saja," ujar Rimba.
"Usiamu baru sembilan tahun aku takut terjadi sesuatu denganmu," ujar Marcus.
"Maksud om mengenai seorang pembunuh yang akan mengincarku?" tanya Rimba memastikan.
"Bukan hanya kau tapi kedua saudaramu yang lain," sahut Marcus.
"Papa telah melatih kami bertiga tentang ilmu bela diri sangat keras perkara itu mudah diatasi," ujar Rimba.
"Stamina kalian yang menjadi masalah bagi om," sahut Marcus.
"Menyebalkan," gerutu Rimba.
"Hahaha," tawa Marcus.
Rimba tidak peduli tentang tawa ledekan sang paman. Selesai memasak bubur dia pergi dari hadapan Marcus begitu saja menuju ke kamar Argo.
Suara keributan terdengar jelas ketika Rimba berada di luar. Dengan cepat dia membuka pintu kamar ternyata dugaan dia benar ada seseorang masuk ke dalam.
"Heh akhirnya seluruh keturunan Stevan dan Lusi berada disini," ujar pria tersebut.
Diatas kasur Argo melindungi tubuh Fano. Terlihat atas sebuah pisau menancap di perut bagian kanan Argo darah segar juga mengalir dari lukanya.
"Bocah-bocah kecil," ledeknya.
Rimba yang tidak tahan menghajar pria tidak dikenal tersebut. Gerakan lincah bocah itu bertarung membuat pria asing kesulitan bahkan dia tidak dapat untuk mendekati sosok Argo dan Fano berada.
Anak berusia sembilan tahun itu berusaha agar mengulur waktu hingga kedatangan Marcus. Beberapa menit kemudian Marcus datang dia sedikit syok akan kejadian di kamar Argo.
"Heh kau lemah!" ledek Rimba.
Bocah itu mengelap darah yang keluar dari mulut akibat tendangan pria tidak dikenal. Walaupun tidak cukup baik Rimba berhasil bertahan tanpa luka cukup serius.
"Kurasa didikanmu berhasil bang," batin Marcus memuji didikan kakaknya.
Di kasur kedua bocah memang terluka namun hanya luka ringan saja. Rimba menghampiri Argo lantas mencabut begitu saja sebuah pisau di perut Argo.
Tindakan tiba-tiba Rimba membuat Argo kesal dan langsung memukul wajah Rimba. Marcus sedikit terkekeh akan tingkah laku mereka berdua.
Fano saja sebagai anak bungsu tidak menangis dia mengerti keadaan bahwa kondisi memerlukan dia udah sedikit dewasa. Selesai memperhatikan ketiga keponakan Marcus dengan cepat menghajar pria tersebut.
Ternyata cukup mudah hanya butuh lima menit telah berhasil dilumpuhkan. Mungkin dia lelah juga akibat menahan setiap gerakan lincah Rimba dalam bertarung.
"Kurasa siapapun penerus kau nanti tidak akan menjadi masalah bang," batin Marcus.
Sikap dewasa Rimba bahkan terlihat jelas. Dia membalut luka sang abang dengan telaten sementara Fano memplester luka Rimba.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Minggu 10 Maret 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Narrativa generaleArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
