Pertemuan tahunan sudah menjadi agenda bagi setiap pemimpin dunia bawah salah satu pemimpin mafia yaitu Stevan didampingi oleh Edward. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan sang sulung bersama istrinya. Ditambah Argo belum pulih sepenuhnya bahkan anaknya sering demam setiap malam.
Dia mengalah karena bujukan sang istri demi mengetahui situasi dunia bawah belakangan ini tidak mau kecolongan sedikitpun. Ditambah ucapan Argo yang berkata dia rela kehilangan nyawa demi keluarga Jovetic bahagia.
Demi apapun Stevan tidak rela kehilangan putranya sendiri. Dia berjuang sangat keras untuk mendapatkan Argo bahkan tidak masalah akan keadaan Argo ketika dia lahir.
Di sepanjang perjalanan menuju ruang pertemuan berbisik mengenai sesuatu ketika ada seseorang mengucapkan tentang inisial anaknya dia mendekat kearah orang tersebut.
Stevan menarik kerah baju pria tersebut dan menyeretnya menjauh dari kerumunan orang. "Kau tahu bahwa bocah bernama Ar yang kau sebut sebagai monster itu adalah putraku!" kesal Stevan.
Pria itu langsung menghajar pria di hadapannya tanpa ampun dibelakang Stevan sosok Edward diam saja menunggu. Dia bahkan memotret kelakuan Stevan untuk dilaporkan kepada Lusi entahlah kadangkala Lusi itu tipikal istri yang aneh menurut Edward. Masa dia berkata kepada Edward apabila Stevan terlibat perkelahian perlu dia dokumentasikan kan mengherankan sekali.
Selesai membuat lawan pingsan Stevan membersihkan tangan penuh darah dengan sapu tangan yang dilemparkan oleh Edward. Stevan memutar matanya malas melihat kelakuan aneh sang tangan kanan.
Sepanjang pertemuan berlangsung banyak orang berpendapat bahwa ada beberapa anak kecil yang turun ke dunia bawah cukup berbahaya bahkan perlu dilenyapkan sejak dini. Ketika siluet beberapa ditampilkan ada foto dimana Argo menghabisi penculik dia terpampang jelas bahkan seringai sadis disana membuat orang-orang merinding.
"Aku tidak percaya anak itu masih berusia dua belas tahun padahal tumbuh dia cukup tinggi. Kupikir dia berusia lima belas tahun," komentar salah satu pria dengan kepala botak licin.
Di sisi Stevan dia sedikit tersenyum tipis ketika beberapa orang-orang memuji sang sulung Argo. Memang target para mafia mulai mengincar siapapun yang berpotensi akan menghancurkan kedudukan dia di masa depan. Entah anak laki-laki atau perempuan, pria muda bahkan gadis muda yang muncul membahayakan mereka.
Selesai rapat beberapa orang yang didapati Stevan membicarakan Argo langsung dia hajar di tempat sepi. Sementara Edward bertindak sebagai fotografer saja sang tuan dibandingkan membantu.
Ketika tiba di rumah sesaat setelah dia membuka pintu sebuah cairan hitam mengenai wajah Stevan. Dia tahu pelakunya siapa jadi dengan cepat berlari menuju ke kamar sang anak tengah. Namun ketika dibuka ternyata tidak ada keberadaan Rimba.
Anak bungsunya sedang ada les private menulis saat ini jadi tidak mungkin membantu sang kakak menjahilinya. Yah Fano merengek meminta untuk bisa sekolah jadi Stevan memutuskan mendatangkan guru private untuk si bungsu sampai usia Fano cukup untuk sekolah formal.
Ternyata Rimba bersembunyi di kamar sang abang. Argo yang asyik membaca sedikit heran akan kehadiran adik pertamanya itu.
Tak lama sang ayah hadir dengan wajah penuh cairan berwarna hitam entah apa itu. Argo secara refleks menutup hidungnya merasakan bau menyengat.
"Papa bau!" pekik Argo.
"Maaf nak," ujar Stevan.
Dengan cepat Stevan berlari pergi dari kamar sang sulung ketika mendengar suara Stevan tidak ada Rimba keluar dari selimut sang abang. Rimba akan memeluk Argo cuma ditahan oleh Argo.
"Abang kenapa?!" rengek Rimba.
"Kata dokter jahitannya belum kering jadi belum boleh memeluk orang dulu," sahut Argo.
"Baiklah," keluh Rimba.
Karena tidak bisa memeluk perut Argo dengan idenya Rimba memeluk kedua kaki Argo. Dia tetap bersembunyi di balik selimut yang digunakan Argo walaupun dilarang berulangkali.
Tak lama ada Fano balita itu tengah menyedot sebotol susu formula rasa strawberry. Balita itu tersenyum kearah sang abang lantas naik keatas ranjang walaupun kesulitan. Argo tidak bisa membantu disebabkan mendapatkan larangan dari kedua orangtuanya.
Argo mengelus rambut Fano sayang. Balita tiga tahun yang paham menaruh kepalanya di paha Argo untuk menikmati elusan sang abang.
"Adek bagi dong!" pekik Rimba yang tiba-tiba membuka selimut membuka Fano sedikit kaget akan kehadiran Rimba.
"Kakak!" kesal Fano.
"Hehehe maaf," tawa Rimba.
Fano cemberut membuat Rimba yang memang iseng menghampiri Fano lantas merebut dot susu milik sang adik. Argo membiarkan saja ulah kedua adiknya malas melerai.
"Akhirnya ketemu juga nih," ujar Stevan.
"Papa!" pekik Fano riang.
Stevan mengangkat tubuh sang bungsu tatapan mata Stevan mengarah kepada Rimba dengan cepat Rimba bersembunyi di belakang tubuh Argo.
"Kakak minta maaf," ujar Argo kepada sang adik.
"Maaf ya papa," ujar Rimba.
"Yah baiklah," ujar Stevan.
"Kakak bersihkan dulu kekacauan yang kulakukan," ujar Rimba.
"Pakai lap basah saja jangan menggunakan kain pel," ujar Stevan.
"Memang kenapa?" tanya Rimba.
"Takut kamu terjatuh ketika menggunakannya," sahut Stevan.
"Okey!" pekik Rimba.
Rimba langsung turun dari ranjang Argo lantas berlari keluar dari kamar sang abang begitu saja untuk membersihkan kekacauan yang dia lakukan.
"Peras hingga tidak ada airnya kakak!" pekik Stevan kepada sang anak.
Namun tidak ada jawaban Stevan yang khawatir keluar dari kamar sang sulung untuk mengawasi anak tengahnya. Walaupun mereka diajarkan mandiri tetap saja sebagai orangtua ada rasa khawatir.
Dari kejauhan Stevan melihat Rimba membawa sebaskom air beserta lap. Dia memperhatikan saja ketika dengan cekatan Rimba membersihkan cairan hitam yang tersisa di lantai.
"Ketiga putra kita tumbuh sangat mandiri," ujar Lusi.
"Aku hanya tidak ingin mereka mudah dijatuhkan begitu saja," sahut Stevan.
"Papa kurang setuju akan cara didik kita kepada ketiga cucunya," ujar Lusi.
"Papa berharap mereka bergantung kepada kita bukan suatu hal yang bagus sayang."
"Suatu saat mereka membutuhkan diri sendiri untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi," sahut Stevan.
"Mungkin papa tidak suka akan kelakuanku melatih ketiga jagoanku untuk menjaga dirinya. Aku melakukan hal tersebut agar mereka tidak mudah ditangkap musuhku," ujar Stevan.
"Kurasa setiap kakek itu sangat menyayangi cucunya," ujar Lusi.
"Benar. Bahkan ketika Rimba menjahili diriku dibalas dengan tawa riang oleh ayahku sendiri padahal dia tahu itu ulah nakal cucunya," sahut Stevan setuju akan ucapan sang istri.
Ketika ada seseorang yang akan memegang kepala Stevan ditahan oleh tangan Stevan lebih dulu ternyata pelaku tersebut yaitu Bram ayah kandung Stevan sendiri.
"Stop memperlakukan diriku sebagai anak kecil ayah!" protes Stevan.
"Lha aku hanya menyapa anakku sendiri," sahut Bram.
"Siang ayah!" sapa Lusi.
"Siang juga anak perempuanku!" sapa Bram.
"Opa!" pekik Rimba.
"Wah cucu ganteng opa," ujar Bram.
"Tuh anak opa masa suruh Rimba ngepel lantai sih!" adu Rimba kepada sang kakek.
"Heh itu ulahmu sendiri ya!" protes Stevan.
Pada akhirnya Bram menjewer telinga Stevan membuat tawa Rimba terdengar nyaring disana melihat penderitaan sang ayah.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Jumat 12 April 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
