72 (ayah dan anak sama saja)

1.3K 123 16
                                        

Janji Stevan ditepati sekarang Argo tengah sibuk memutilasi musuh. Sosok tangan kanan Stevan memilih membeli makanan daripada melihat bagaimana sadisnya Argo membunuh musuh.

Beberapa saat kemudian Argo berhasil membunuh musuh. Remaja itu memeluk tubuh sang ayah yang tengah mengangkat segelas wine.

Argo menunjuk gelas sang ayah dibalas gelengan oleh Stevan. "Sesuai perjanjian kita bang. Jangan ada alkohol," ujar Stevan.

"Abang mau cicip!" rengek Argo.

"Ayahmu memang seorang mafia. Mengenai minuman alkohol tetap saja ada aturannya," ujar Stevan tegas.

Anak sulung tiga bersaudara itu memeluk kedua kaki sang ayah. "Papa!" rengek Argo.

"Ada apa?" tanya Stevan.

"Mau makan," jawab Argo.

Stevan mengangkat tubuh Argo dalam gendongan. "Menginginkan apa untuk menu makan siang kali ini?" tanya Stevan kepada sang anak.

Anak itu berpikir sejenak menempelkan pipi kanan dia ke dada bidang sang ayah. Bahkan Stevan terkekeh melihat tingkah lucu sang anak. Tangan besar Stevan mengelus rambut anaknya. "Papa jangan dielus!" rengek Argo.

Stevan mencium puncak rambut sang anak. "Abang mengantuk tidur saja ya," ujar Stevan.

Dia tahu bahwa Argo kesulitan tidur kemarin malam. Jadi dia menginginkan agar sang anak tertidur setelah menyiksa musuh.

Perlahan-lahan kedua mata Argo tertutup dikarenakan Stevan tetap saja mengelus kepala dia dengan lembut. Remaja itu bahkan semakin mencari tempat nyaman di dada bidang sang ayah.

Stevan menatap wajah damai sang anak. "Papa harap di kehidupanmu kali ini. Tidak ada Argo yang egois ya. Bagaimanapun langkahmu ke depan untuk menyelamatkan kedua adikmu akan dicegah oleh papa sendiri. Papa tidak mau saja kehilangan seorang anak lebih dulu."

"Entah bagaimana diriku di masa depan versi Argo. Diriku kehilangan seluruh anaknya," ujar Stevan.

Ayah itu membuka baju sang anak yang berlumuran darah. Argo mengeliat merasa tidak suka akan tindakan sang ayah. "Papa," gumam Argo.

"Edward!" panggil Stevan.

Tak lama Edward datang dia sedikit bergindik ngeri menatap keadaan dimana korban mutilasi kejam Argo. "Ada apa?" tanya Edward.

"Ambilkan baju Argo di ruanganku," ujar Stevan.

"Okey!" pekik Edward.

"Tahun depan gajimu naik," ujar Stevan.

"Bulan depan aja kali," ujar Edward.

"Terserah," ujar Stevan.

Edward dengan semangat berlari menjauh dari ruangan eksekusi itu. Beberapa menit kemudian Edward kenbali, dan langsung kabur begitu saja setelah memberikan paper bag berisi baju Argo.

Dengan pelan Stevan memakaikan baju Argo agar sang anak nyaman dalam tidur. Stevan sedikit heran akan isi paper bag yang dibawa Edward.

Ada pesan nyeleneh dari sang istri disana. Pesan itu tertulis bahwa jangan lupakan abadikan momen Argo memutilasi korban. Emang tidak aneh, apabila ketiga putranya memiliki sifat berbeda dengan kebanyakan anak seumuran mereka.

Stevan membaringkan Argo di kursi panjang yang tersedia. Dia mengganti celana pendek yang digunakan Argo yang lain. Berulangkali Argo akan terbangun namun tidak jadi dikarenakan Stevan mengelus perut Argo.

Dirasa selesai Stevan tidak lupa membaluri perut, dada dan punggung Argo menggunakan kayu putih. Belakangan ini Argo sedikit mudah sakit jadi dia mencegah saja.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang