Identik dengan warna hitam memang salah ciri sebuah mafia. Di sebuah kamar berbau amis ada empat pria berbeda usia. Paling muda balita berusia tiga tahun yang asyik memakan roti bayi. Anak berusia sembilan tahun mengambil cemilan sang balita disebabkan mengantuk. Di sisi remaja berusia dua belas tahun dia diam saja dengan mata yang fokus ke buku.
"Nah kalian keturunan Jovetic jadi sebagai pengamanan lebih baik kita berlatih," ujar Stevan sebagai sosok pria yang lebih tua.
"Aku malas," sahut Argo.
"Aku juga!" pekik Rimba dan Fano bersamaan.
"Baiklah kita tidak latihan sekarang," ujar Stevan mengalah.
Ayah tiga anak itu lebih memilih membiarkan ketiga anaknya tidak berlatih hari ini dibandingkan memaksa mereka berlatih. Ketiga anaknya memeluk erat kaki Stevan sangat erat. Walaupun sedikit sulit Stevan berhasil menggendong ketiga anaknya secara bersamaan. Dengan Fano yang berada di tengah diantara kedua kakaknya.
Sang sulung memeluk leher Stevan sangat erat sementara Rimba memegang tangan Fano.
Fano menarik baju sang abang cuma dihentikan oleh Rimba. "Abang mau bobo biarkan aja dek," ujar Rimba memberi pengertian kepada sang adik.
Stevan merasakan bahwa leher dia sedikit panas ketika Argo memeluk lehernya. "Kau kebiasaan sekali bang," batin Stevan.
Walaupun kesulitan Stevan menggendong ketiga anaknya menuju ke mobil. Dia memerintahkan Edward untuk mempercepat perjalanan disebabkan pria berstatus ayah itu khawatir akan kesehatan putra sulungnya.
Beberapa menit kemudian Stevan tiba di rumah ternyata suasana cukup ramai. Dia menurunkan kedua putranya di dekat sang istri. Dia tidak menjelaskan apapun lebih fokus membawa sang sulung ke kamar.
Ketika tiba di kamar sang sulung dia membuka kaos yang digunakan Argo ternyata dugaan dia benar bahwa luka sobek itu sedikit terbuka. Argo sangat keras kepala padahal Stevan berkata bahwa dia tidak perlu menggendong kedua adiknya dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan.
Stevan memeriksa kedua kaki Argo yang juga menjadi sasaran penyiksaan disana memang tidak terlalu parah walaupun meninggalkan luka. Jujur Stevan bersyukur sang anak selamat walaupun mendapatkan luka sangat banyak.
"Papa tahu kamu memang ketua mafia di masa depan, tapi ingatlah disini kamu masih anak kecil yang memerlukan perlindungan papa," ujar Stevan mengelus rambut Argo yang tertidur lelap.
Suara deritan pintu mengalihkan perhatian Stevan dia selimutin tubuh Argo yang sengaja dibiarkan tidak memakai kaos.
"Anak sulungku terkadang membuatku sangat khawatir sayang," ujar Stevan memberitahu sang istri.
Lusi mengelus bahu sang suami. "Sejak abang lahir saja membuat kita khawatir sayang," sahut Lusi.
Stevan tersenyum akan jawaban sang istri. "Dia menangis ketika bertemu wajahku, dan Edward berkata bahwa putraku kaget melihat wajahku yang jelek," ujar Stevan.
Lusi tertawa akan ucapan sang suami. "Waktu kau datang pertama kali menggendong abang wajahmu penuh darah wajar Argo kaget melihat wajahmu itu," sahut Lusi.
"Aku melupakan itu. Padahal waktu itu dia belum membuka matanya lho!" protes Stevan.
"Bayi itu masih suci wajar dia mengerti," sahut Lusi.
"Terkadang aku berharap anak-anak tetap menjadi anak kecil. Aku tidak rela melepaskan mereka memasuki dunia perkuliahan," ujar Stevan.
"Abang akan memulai perkuliahan lebih awal dibandingkan kedua adiknya," ujar Lusi.
"Aku tidak akan membiarkan Argo menjauh dari mataku," ujar Stevan.
"Hey abang seorang laki-laki," ujar Lusi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
