Sekian lama menunggu akhirnya Argo membuka mata walaupun dia masih tampak lemah akibat tidur panjangnya. Di sebelah kanan ada sosok kedua orangtuanya tengah tersenyum kearahnya sementara sang bungsu memeluk erat tubuh Argo.
"Abang!" panggil Fano.
"Iya," sahut Argo.
"Tidurnya lama sekali," keluh Fano.
"Maaf," ujar Argo merasa bersalah.
Argo rasa dia tidur hanya beberapa jam saja ternyata di dunia nyata dia dinyatakan koma selama dua minggu.
"Abang ada yang sakit?" tanya Stevan kepada sang anak.
Argo mengelus rambut Fano yang betah memeluk tubuhnya. "Lumayan sakit di bagian perut dan dada," jawab Argo jujur.
"Maaf," lirih Fano.
"Adek tidak bersalah kok," ujar Argo.
"Abang!" panggil Fano.
"Ada apa dek?" tanya Argo.
"Adek ada cerita!" pekik Fano.
"Cerita apa?" tanya Argo.
Fano melepaskan tangan Argo yang memeluk tubuh mungilnya. Dia duduk menghadap sang abang yang masih dalam posisi tidur.
"Selama abang bobo kita semua sedih. Kakak bahkan tidak jahil sama papa."
"Kakak sering menangis setiap malam. Kakak berdoa kepada Tuhan agar abang segera bangun."
"Adek juga sedih abang lama banget bobo nya. Selain kehilangan abang selama tidur ternyata kakak juga berubah," lirih Fano.
"Berubah?" beo Argo.
"Iya kakak lebih sering melamun bahkan berkata bahwa dia seharusnya lebih kuat agar bisa melindungiku juga sama seperti abang."
"Kakak jarang tersenyum, tertawa, atau menceritakan lelucon kepada adek seperti biasanya."
"Adek semakin sedih karena itu. Kakak pasti sangat senang mendengar abang bangun," ujar Fano.
"Menjadi pelindung kalian merupakan tugas abang sebagai anak tertua. Jadi selama papa tidak berada di rumah maka tanggung jawab mengenai keselamatan kalian di tangan abang," ujar Argo.
"Ucapan abangmu benar dek. Lagipula abang kamu sedikit keras kepala seperti kalian. Jadi jangan heran mengenai itu," sahut Stevan.
"Papa tidak diajak! Jangan ngomong!" protes Fano menggembungkan pipinya.
"Hehehe maaf nak," tawa Stevan.
Suara ketukan pintu menghentikan tawa Stevan ketika terbuka ternyata ada sosok Edward sang tangan kanan Stevan.
"Bagaimana?" tanya Stevan.
"Oh itu." Untungnya Edward mengerti maksud yang ditanyakan oleh Stevan. "Dia telah memohon tentang kematian, cuma ahli medis kita menjaga mangsa agar tetap hidup," jawab Edward.
"Kau mengerti maksud papa Argo?" tanya Stevan kepada sang sulung.
Suara jitakan terdengar renyah sasaran tersebut adalah Stevan sementara sang pelaku sang istri Lusi. Dari wajahnya dia nampak sedikit marah akibat pertanyaan Stevan kepada Argo.
"Putramu baru bangun bodoh! Dia memerlukan waktu untuk pulih!" kesal Lusi kepada suaminya.
"Aku tahu sayang! Jangan dipukul juga kepalaku!" pekik Stevan.
"Abang kok papa seperti anak kecil," ujar Fano kepada sang abang.
"Maklum dek manja! Giliran mendidik ke kita saja dilarang manja katanya!" sindir Argo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Narrativa generaleArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
