Dua bulan terakhir Argo merasa bahwa semua teman satu kelas sedikit aneh. Tidak ada kata hinaan terlontar dari mulut mereka ataupun ujaran kebencian akibat kepintaran dia.
Lebih aneh lagi mereka memanggil Argo abang itu lebih membingungkan. Dia saja paling muda di kelas mana bisa menjadi sosok abang di kelasnya sendiri.
Bahkan sekarang para murid tengah berkerumun mengelilingi meja Argo. Merasa tidak tahan akibat ramai Argo berdiri dari meja lantas berlalu pergi begitu saja dia akan pergi ke kantin.
Ada satu lagi yang membuat Argo kesal yaitu Arik dia tetap saja mengikuti kemanapun Argo pergi. Berulangkali Argo mengusir Arik anehnya dia tetap saja mengikuti Argo tanpa lelah.
Jam istirahat sekolah memang menyenangkan di sebuah meja ada beberapa anak tengah menyantap makan siang. Salah satu anak bahkan menatap kesal sosok di hadapannya.
"Bang ini teman lu kenapa?" tanya Rimba kepada sang abang.
Argo tidak menjawab pertanyaan sang adik lebih fokus makan siang saja. Ketika akan beranjak dari meja ada beberapa siswa kelas dia menatap kearah Argo sangat segan.
"Abang akan bertanya sesuatu kepadamu ketika tiba di rumah Dan," ujar Argo.
"Kenapa tidak disini?" tanya Rimba.
"Ini penting," sahut Argo.
"Baiklah," ujar Rimba.
"Oh iya Argo menjadi abang itu menyenangkan tidak?" tanya Arik tiba-tiba.
"Menyenangkan," sahut Argo.
"Kau jadi adikku ya!" pekik Arik.
"Tidak," tolak Argo.
"Ayolah aku menginginkan seorang adik yang pendiam seperti dirimu karena apabila meminta kepada ibuku tidak mungkin," ujar Arik.
"Alasan ibu Kak Arik menolak memberikan adik kenapa?" tanya Bagas penasaran.
"Sejak bayi aku tidak mengenal sosok ibu jadi kadangkala aku iri melihat orang lain bisa memeluk ibunya sementara aku tidak," ujar Arik sedih.
"Maaf kak Arik aku tidak bermaksud," ujar Bagas tidak enak.
"Tidak masalah," sahut Arik.
"Sejak bayi hingga saat ini aku tinggal bersama nenekku. Ayahku ada cuma tapi dia jarang bertemu denganku. Bahkan beberapa bulan lalu ayah memiliki keluarga baru tanpa memberikan undangan pernikahan dia kepadaku," ujar Guan santai.
"Kenapa kau mengerti tentang hal tersebut Guan?" heran Arik.
"Entahlah mengalir begitu saja," sahut Guan.
Rimba yang bosan malah tiduran di paha sang abang dan memeluk perut Argo sangat erat. Sang abang membiarkan tindakan Rimba bahkan mengelus rambut Rimba sayang.
"Lantas kenapa tidak tinggal bersama ayah kakak saja?" tanya Bagas.
"Malas tinggal bersama seseorang yang tidak menginginkan kehadiranku di dekatnya," ujar Arik.
"Kurasa sebentar lagi aku akan mengikuti jejak Kak Arik," sahut Bagas.
"Maksudmu?" bingung Arik tidak mengerti.
"Aku tidak disayang ibuku sendiri hanya ada sosok ayah dalam hidupku selama ini. Jadi aku rasa lebih baik suatu hari nanti keluar dari rumah untuk ketenangan diriku sendiri," ujar Bagas.
"Kalian tinggal saja di rumah kami satu lagi untuk berlatih bela diri," timpal Rimba.
Ucapan Rimba mendapatkan respon aneh dari mereka bertiga. Sebagai kakak sulung dia mengerti maksud perkataan adiknya sendiri.
"Kau berniat melatih mereka?" tanya Argo.
"Kata papa musuh kita semakin banyak lebih baik melatih mereka mengenai bela diri daripada tidak sama sekali," ujar Rimba.
"Ucapan kalian berdua aneh," ujar Guan.
Kedua bersaudara itu tersenyum akan respon Guan. Tak lama ada beberapa siswa mendekat disana ada salah siswa yang waktu itu berniat membully Argo malah dia yang terluka.
"Aku minta maaf," ujarnya.
Raut heran tergambar jelas di wajah Argo. Ayolah dia membully Argo secara verbal setiap hari hingga akhirnya dia berhenti ketika Argo menusuk tangan dia dengan pensil tajam. Mungkin dia trauma akan tindakan brutal Argo terhadap dirinya.
"Hey Argo adikku! Kau pasti menyakitinya!" kesal Arik.
Tubuh kecil Arik menarik kerah baju sang siswa yang memang lebih tinggi darinya. Adegan tersebut membuat kaget seluruh kantin disebabkan orang yang meminta maaf merupakan sosok pembully nomor satu di sekolah.
Dia merupakan anak pemilik donatur terbesar di sekolah walaupun nyatanya dia bukan donatur terbesar di sekolah. Seperti dugaan kalian bahwa donatur terbesar adalah Stevan ayah dari Argo dan Rimba.
"Apa yang dia lakukan adikku?" tanya Arik kepada Argo.
"Aku bisa mematahkan tangan dia sendiri. Jadi lebih baik kau tidak perlu ikut campur," ujar Argo.
"Ayolah Argo aku sangat mau kau jadi adikku!" protes Arik.
Akhirnya kedua siswa tersebut bertengkar dengan sosok Arik yang tetap teguh mengganggu Argo adiknya, dan di sisi Argo tetap menolak.
Bel masuk berbunyi menghentikan adu argumen mereka berdua. Sosok yang meminta maaf kepada Argo sedikit ketakutan menatap wajah Argo.
Ternyata ketika masuk kelas guru yang mengajar tidak masuk disebabkan dia sakit. Hanya sebuah tugas yang dia berikan agar muridnya tidak tertinggal materi.
Ketika Argo asyik mengerjakan tugas beberapa siswa menghampiri meja Argo. Para siswi tidak berani menghina Argo ataupun mencibir dia lagi.
"Argo bolehkan kau menjadi abangku?" tanya salah satu siswa.
"Aku lebih muda," jawab Argo.
Mereka mengerti bahwa Argo lebih muda dibandingkan seluruh siswa di kelas. Namun lebih aneh sifat tenang Argo layaknya seorang dewasa bahkan dia jarang melawan ketika dibully secara verbal.
"Sikapmu lebih dewasa dibandingkan kami semua. Itu alasan kami mengganggap kau seorang abang di kelas," ungkap salah satu dari mereka.
Argo sendiri mengerti pembawaan tenang dia merupakan sifat asli dia sejak kecil tidak peduli bahwa jiwa dewasa ataupun tidak. Entah kenapa sifat Argo sangat tenang dibandingkan kedua adiknya.
Mungkin itu salah satu ciri bahwa dia anak sulung jadi dia lebih tenang dalam menghadapi segala rintangan dalam hidup. Walaupun dia gagal dalam mengatasi rasa kesedihan dia mengenai kehilangan di kehidupan pertama dia.
"Kurasa tidak masalah aku menjadi abang kalian," sahut Argo.
Ucapan Argo barusan membuat mereka senang dan salah siswi langsung mencium pipi kanan Argo begitu saja. Perlahan rasa panas menjalar di kedua pipi Argo dia merona disebabkan telah mengerti tentang arti ciuman di kehidupan dia dulu.
"Tenang Argo kau memang telah dewasa namun perlu bersikap seperti anak remaja saat ini," batin Argo.
"Gadis tersebut menyukai dirimu Argo," sahut Henry.
"Diamlah kau!" protes Argo.
Nada kesal Argo membuat Henry tertawa senang karena berhasil menggoda sosok datar Argo.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Jumat 05 April 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
قصص عامةArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
