Seolah menikmati masa kecil Argo tertawa bersama kedua adiknya setelah mengerjai Stevan bersama-sama. Perasaan bahagia Argo kembali ke masa kecil tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Selain bisa melihat kedua adiknya lagi, dia juga jadi sedikit nakal untuk menjahili Stevan ataupun siapapun bersama kedua adiknya. Stevan sering menghukum mereka cuma mereka seolah tidak kapok akan itu semua.
Seperti sekarang Argo ikut duduk melingkar bersama kedua adiknya untuk mendengarkan rencana jahil dari Rimba. Memang ulah nakal mereka diusulkan oleh Rimba yang seperti namanya anak yang liar tidak bisa diam dimanapun dia berada.
"Begini abang lempar tepung ke wajah papa, nah adek yang buka pintunya, kalau aku yang lempar air kearah papa," ujar Rimba memberitahu idenya.
"Adek cuma buka pintu doang?" tanya Fano kepada sang kakak.
"Benar. Sekalian lihat itu papa atau bukan. Kalau itu benar papa maka kita lancarkan aksi!" pekik Rimba.
"Okey mengerti," sahut Fano memberi hormat kepada Rimba.
"Habis itu kabur kemana?" tanya Argo.
"Hehehe ke kandang si molly," tawa Rimba.
"Oh serigala papa itu?" tanya Argo.
"Iya dia kan takluk sama abang tuh," sahut Rimba.
"Baiklah," ujar Argo mengerti.
Rimba tersenyum lebar dia bahkan memeluk tubuh sang abang sangat erat. Rimba senang Argo berubah bahkan Argo lebih sering bermain bersama-sama dibandingkan membaca buku. Argo membalas pelukan sang adik pertama. Fano yang diabaikan mendekat untuk memeluk kedua kakaknya. Kehadiran Fano membuat mereka berdua terkekeh geli. Rimba melepaskan pelukan dan memeluk tubuh kecil adiknya. Argo mendekap tubuh yang lebih kecil darinya dalam pelukannya.
"Abang sayang kalian berdua," ujar Argo.
"Sayang abang juga!" pekik Rimba dan Fano bersamaan.
Argo tersenyum dia mencium kedua adiknya secara bergantian menyalurkan kasih sayangnya. Dia tidak mau melakukan kesalahan apapun yang membuat dia merasa sangat bersalah di masa depan.
Tanpa diduga kedua adiknya mencium kedua masing-masing pipinya secara bersamaan. Argo semakin memeluk tubuh kedua adiknya merasa terharu akan tindakan mereka.
"Abang main terus ya sama adek. Jangan kayak kemarin adek ajak main tidak mau," ujar si bungsu.
"Iya bang jangan abaikan kami lagi," gumam si tengah.
Argo hanya mampu mengganggukkan keoalanya dia tahu bahwa dulu sangat acuh kepada mereka berdua. Wajah memelas kedua adiknya sangat lucu jadi Argo mencium brutal mereka berdua. Tawa kedua adiknya sangat renyah di telinga Argo.
Di kejauhan sosok ibu dari ketiga anak itu tersenyum melihat interaksi manis ketiga putra nya. Dia hanya berharap perubahan dari putra sulungnya bertahan selamanya.
Sejak perubahan sang putra sulung rumah lebih ramai akan tingkah kompak ketiga anaknya. Mereka sering menjahili sang ayah bersama-sama, walaupun berakhir hukuman dari sang ayah untuk ketiganya.
Tidak ingin mengganggu Lusiana beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan cemilan sekaligus susu untuk mereka bertiga. Tanpa Lusiana tahu kedua anaknya yang lain mengikuti dia ke dapur untuk mengambil kedua bahan melancarkan kejahilan mereka.
Selesai mengambil kedua barang yang dibutuhkan mereka menunggu di depan pintu rumah. Suara mobil masuk membuat mereka tersenyum lebar kenal akan suara mobil tersebut.
Fano si bungsu membuka pintu rumah perlahan-lahan melihat kehadiran siapakah itu. Merasa sasaran mereka Fano memberi kode kepada kedua saudaranya yang lain.
Pintu terbuka lebar dengan cepat Rimba melemparkan air yang dia isi ke dalam plastik ke wajah Stevan, dilanjutkan Argo yang melemparkan tepung ke wajah Stevan.
Mereka bertiga langsung berlari darisana sebelum kena hukuman dari Stevan. Di belakang Stevan sosok Edward tertawa akan pemandangan yang dia lihat barusan. Seorang bos mafia dijahili oleh ketiga putra nakalnya.
"Argo! Rimba! Fano!" kesal Stevan karena dijahili ketiga putra nya.
"Makanya jangan nakal banget dulu. Kena karma tuh sekarang," celetuk sosok pria paruh baya.
Dia ayah dari Stevan. Pria bernama Bram Jovetic itu bahkan tertawa melihat wajah masam anak pertamanya itu. Bram mendapatkan laporan dari bawahan dia bahwa ketiga cucunya itu memang sering menjahili anaknya.
"Dulu saja kamu nakal anggap saja itu pembalasan dari perbuatanmu dulu," ujar Bram santai masuk ke dalam rumah Stevan.
"Hey bela anakmu dong ayah!" protes Stevan tidak terima ucapan Bram barusan.
"Kau sudah dewasa Stevan," ujar Bram.
"Ck!" kesal Stevan.
Tak lama ada sosok Lusiana datang dia sedikit terkejut melihat penampilan Stevan yang berlumuran tepung putih. Lusiana tersenyum melihat kehadiran sang mertua Bram.
"Nak tuh urus suami mu aku akan mencari ketiga anak nakalmu itu," ujar Bram menepuk pundak Lusiana.
"Mereka sepertinya berlari kearah belakang," ujar Lusiana.
"Ternyata darah gila Jovetic mengalir kepada mereka bertiga," ujar Bram.
"Argo lebih gila dia saja bisa menaklukan molly serigala ganas yang sulit aku taklukan," ujar Stevan.
"Dia penerusmu," ujar Bram.
"Yah aku tahu," ujar Stevan.
Stevan lebih baik berganti baju saja terlebih dahulu mengenai ketiga anaknya biarkan diurus ayahnya saja. Di tempat bersembunyi Argo menjaga kedua adiknya dari hadapan Molly sang serigala putih bertubuh besar.
"Kalian nakal sekali," ujar seseorang.
Argo memeluk erat kedua adiknya mendengar suara seseorang. Sosok itu muncul ternyata itu Bram dia terkekeh geli melihat tatapan tajam Argo terhadapnya.
"Jangan menakuti kedua adikku opa," ujar Argo.
Bram memerintahkan salah satu bodyguard membuka kandang sosok ketiga anak kecil itu keluar. Wajah mereka tampak biasa saja tanpa raut bersalah sama sekali.
"Kalian tidak takut hukuman ayah kalian?" tanya Bram kepada mereka bertiga.
"Papa paling suruh belajar bela diri saja itu bukan masalah bagi kami," sahut Rimba.
"Stevan mengajarkan bela diri kepada kalian?" tanya Bram memastikan.
Mereka bertiga mengganggukkan kepalanya bahkan Fano anak paling kecil ikutan. Bram tidak heran akan tindakan Stevan mendidik ketiga anaknya.
Musuh Stevan saja masih berkeliaran setiap saat wajar Stevan membekali ketiga anaknya ilmu bela diri sejak dini. Namun herannya kenapa Fano perlu mempelajari ilmu bela diri juga bahkan Fano baru saja genap berusia tiga beberapa bulan lalu.
"Opa tumben kesini?" tanya Rimba merasa heran akan kedatangan kakeknya.
"Ada sedikit urusan dengan ayahmu," jawab Bram.
"Abang! Kakak! bersembunyi lagi yuk!" ajak Fano menarik kedua tangan kedua kakaknya.
Mereka berdua mengganggukkan kepalanya, dan berpamitan kepada sang kakek sebelum pergi.
Beberapa menit ketiga bocah itu pergi ada sosok Stevan telah berpenampilan santai. Dia mencari keberadaan ketiga putranya untuk dihukum olehnya.
"Lebih baik kita berbicara empat mata dulu ada hal penting yang ingin ayah bicarakan padamu, mengenai hukuman mereka tunda dulu," ujar Bram.
"Baiklah kita ke ruanganku saja," ujar Stevan.
Mereka berdua pergi dari sana, dan ada sosok kecil Fano keluar dari persembunyian setelah kepergian mereka berdua.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar, dan kritikan bagi penulis agar semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Minggu 24 Desember 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
