44 (dijauhin)

1.8K 158 4
                                        

Entah angin darimana semua anggota Jovetic seolah tidak mau berbicara dengan Stevan belakangan ini bahkan Argo yang biasanya anteng dekat sang ayah menatap marah ayahnya apabila didekatin.

Itu menjadi tanda tanya besar Stevan. Dia bahkan belum berganti pakaian yang dia gunakan untuk membunuh tadi pagi. Masalahnya ketika Stevan pulang ke rumah pintunya di kunci dia juga lupa bahwa kunci cadangan.

Ketika menghubungi sang istri ditolak. Jadi nasib Stevan sekarang tengah galau bahkan dia telah menghabiskan beberapa botol wine sendirian.

"Lu berantem sama bini?" tanya Edward mengerti raut kusut Stevan walaupun tertutupi wajah datar andalan Stevan.

"Begitulah," sahut Stevan.

"Kalau bini kagak mau nambah anak ya udah sih," ujar Edward.

"Aku terakhir ngomong masalah itu sebelum Argo diculik," ujar Stevan.

"Terus bini lu marah perkara apaan?" tanya Edward.

"Entahlah," sahut Stevan tidak tahu.

Dia memang tidak tahu mengenai inti permasalahan kenapa secara tiba-tiba Lusi marah terhadapnya. Sang istri mendiamin dia tidak menegur dia sama sekali begitupula ketiga putranya.

"Seluruh keluarga juga tidak menegurku," keluh Stevan.

"Elu buat kesalahan besar gak sih?" heran Edward.

"Seminggu lalu mereka berubah gitu aja. Heran gua salah dimana?" bingung Stevan.

Edward mengotak-atik miliknya mengirimkan pesan kepada anak sulung Stevan yaitu Argo. Walaupun telah diberi fasilitas hp tetap saja sifat Argo sama yaitu kutu buku. Anak sulung Stevan itu memang sedikit berbeda dibandingkan anak seumurannya. Dia saja seringkali melupakan hp untuk dibawa ke sekokah disebabkan menurut Argo itu tidak penting.

Tidak ada balasan dari Argo sama sekali. Edward yang kesal menelpon Argo hanya berbunyi bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Ayolah Argo itu sebenarnya butuh hp atau tidak sih.

"Anak sulung lu nyebelin sumpah!" kesal Edward.

Alis Stevan terangkat pertanda bertanya. Respon santai Stevan membuat amarah Edward semakin menjadi dia malas mendapatkan bos macam Stevan.

Edward mondar mandir akibat kesal ditambah Stevan dengan santai minum wine di depan matanya. "Argh pusing gua punya bos modelan kayak elu!" kesal Edward.

"Padahal tinggal resign aja," sahut Stevan santai.

"Kapan lagi kerja cuma nyari informasi dapat gaji 100 juta. Ditambah gua jarang turun tangan perkara mafia," sahut Edward santai.

"Terserah," acuh Stevan.

"Van gua punya tawaran menarik," ujar Edward.

"Organ vital seorang pengkhianat?" tanya Stevan antuasis.

"Bukan psikopat!" kesal Edward.

"Selain hal itu aku tidak tertarik," ujar Stevan malas.

"Gua bisa mencari cara agar lu dimaafkan walaupun entah kesalahan lu apa," ujar Edward.

"Gimana?" tanya Stevan.

"Gaji gua naik lima kali lipat mulai bulan ini nanti gua cari solusinya deh biar lu adem anyem lagi," ujar Edward.

Stevan menatap malas Edward. Sosok tangan kanan dia itu seringkali mencari kesempatan dalam kesempitan entah meminta gaji naik ataupun meminta kendaraan untuk transportasi pendukung.

"Ok baiklah," ujar Stevan mengalah.

"Siap deh pak bos!" pekik Edward memberi hormat kepada Stevan.

Stevan mendengus mendengar jawaban Edward. Entah angin darimana dia bisa mempertahankan sosok anak buah yang mata duitan itu.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang