15 (dua perusahaan?)

4.4K 270 10
                                        

Di sebuah ruangan bawah tanah ada sosok remaja berusia dua belas tahun tengah menatap dalam diam aksi sang ayah yang menghukum kedua adiknya.

Argo tidak bisa menolong mereka dikarenakan luka dia baru saja kering. Dia tidak mau kembali masuk rumah sakit yang dipenuhi oleh bau obat-obatan.

"Papa sudahlah. Aku ingin kembali ke sekolah," ujar Argo kepada ayahnya.

"Abang terbaik!" pekik keduanya.

Dia tersenyum akan ucapan kedua adiknya bahkan mendapatkan ciuman di pipi. Yah Argo memang duduk sejak tadi menyaksikan dalam diam sang ayah melatih adiknya.

"Kalian berdua naik ke atas sana! Hukuman kalian berakhir," ujar Stevan kepada kedua adiknya.

"Adek mau disini," ujar Fano.

Balita berusia tiga tahu itu tampak sedikit lelah disebabkan latihan yang diberikan ayahnya. Rimba malah langsung tiduran di paha sang abang bahkan memeluk perutnya sangat erat.

"Maaf ya abang belum bisa gendong dulu. Adek kalau mau tiduran di paha abang tidak masalah," ujar Argo memberitahu sang adik.

"Memang masa pemulihan lukanya lama, bang?" tanya Rimba yang suaranya teredam karena memeluk perut Argo.

"Hey nanti kau sesak nafas lho," nasihat Argo melihat tingkah Rimba.

"Nyaman begini tahu!" protes Rimba tidak peduli akan ucapan sang abang.

"Adek juga mau!" rengek Fano melihat Rimba memeluk perut Argo sangat erat.

"Sini adek bobo di paha abang satu lagi," ujar Argo menepuk paha satunya yang kosong.

Balita itu tertawa dan tiduran di paha sang abang. Argo mengelus rambut kedua adiknya secara bergantian. Fano menarik tangan kanan Argo, dan memasukkan jari jempol Argo ke mulutnya ketika Argo berusaha melepaskannya ditolak oleh Fano.

"Hey kotor!" peringat Stevan.

"Mau susu!" rengek Fano karena mengantuk.

Fano memang telah mengerti ilmu bela diri, tapi tetap saja dia seorang balita yang memerlukan sebotol susu untuk mengantarkan tidur. Stevan menggendong Fano ketika Argo akan membangunkan Rimba ditahan oleh Stevan.

"Bahu abang masih sakit, gak?" tanya Stevan kepada Argo.

"Tidak terlalu," sahut Argo kepada ayahnya.

"Biar papa yang menggendong Rimba dan Fano. Abang jalan kaki ya kalau digendong di belakang takut jahitanmu kembali terbuka," ujar Stevan.

"Baik pah," sahut Argo.

"Gak mau!" tolak Rimba ketika Stevan akan menggendongnya.

"Dan abangmu sakit jangan meminta gendong dulu ya," ujar Stevan.

"Ya udah aku saja yang menggendong abang!" pekik Rimba kepada ayahnya.

"Tubuhmu saja lebih kecil dari abang," sahut Argo.

"Tapi bobonya di kamar abang," ujar Rimba.

"Baiklah," ujar Argo mengalah.

"Yeah sama abang!" pekik Rimba senang.

"Papa duluan kalian berdua jangan bertengkar ya," nasihat Stevan kepada kedua anaknya.

"Okey!" pekik Rimba.

Ayah mereka pergi untuk membuat susu botol sang adik. Rimba bangun dari paha abangnya. Dia membantu abangnya bangkit berdiri.

Pasangan adik dan kakak itu keluar dari ruangan bawah tanah dengan senyuman lebar. Raut lelah Rimba seolah lenyap begitu saja ketika melihat wajah sang kakak.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang