56 (jadi abang tuh sulit)

1.6K 151 4
                                        

Sebagai anak pertama memang tugas yang sangat berat bagi Argo. Dia telah memiliki seorang adik sejak berusia tiga tahun. Memaksa dia untuk menjadi dewasa demi keadaan.

Dia juga tidak masalah tidak diperhatikan oleh kedua orangtuanya. Hal tersebut yang membentuk kepribadian dia menjadi sosok penyendiri. Dia seringkali jarang makan bersama keluarga. Lebih memilih menghabiskan waktu untuk belajar.

Namun sekarang berubah Argo lebih suka bermain dibandingkan belajar. Prestasi dia tidak perlu diragukan lagi sangat cemerlang. Sekarang dia tengah bermain mobil remote kontrol bersama kedua adiknya.

Argo duduk disebabkan pegal berdiri terus. Rimba menghampiri sang abang diikuti oleh sang adik. "Abang haus," keluh Fano.

Argo tersenyum dia berdiri dan langsung pergi menuju kearah dapur. Tak lama ada sosok Stevan baru saja pulang pria itu memeluk kedua putranya sangat erat.

Stevan menggendong kedua anaknya secara bersamaan bahkan berputar sejenak. Dari kejauhan ada Argo tersenyum melihat pemandangan tersebut.

Dia terbiasa akan semuanya. Lagipula sosok sulung selalu mengalah tentang apapun. Dia juga ditekan agar bisa menjadi contoh bagi kedua adiknya.

Dengan langkah santai Argo datang menghampiri ayah dan kedua adiknya. Dia melirik sejenak saja tidak mengatakan apapun tentang tawa mereka.

Argo kembali bermain sendiri dengan mobil remote kontrol. Sang ayah yang mengerti menurunkan kedua anaknya untuk menghampiri sang sulung.

Dia duduk di samping sang anak. "Abang cemburu papa bermain bersama kedua adikmu?" tanya Stevan kepada Argo.

Argo diam saja tidak menjawab pertanyaan sang ayah. Stevan mengkode kedua anaknya agar mendekati sang abang.

"Abang!" panggil Rimba.

"Ya," sahut Argo.

"Papa sayang abang juga kok. Buktinya papa waktu itu nangis pas abang tidur lama," celoteh Fano polos.

"Eh?!" kaget Argo.

"Iya tahu bang. Papa masa nangis sih tidak berhenti saat abang tidur lama," ujar Rimba.

"Hey kalian mengarang!" protes Stevan.

Wajah Stevan bahkan memerah akibat malu. Bahkan terlihat jelas bahwa Argo menatap dia meledek.

"Kata mama tidak boleh bohong. Kalau bohong burung adek terbang jauh," sahut Fano polos.

Rimba tertawa akan ucapan sang adik. "Kita anak baik makanya tidak berani berbohong," ujar Fano lagi.

"Waduh ucapan adek fakta tuh!" pekik Rimba.

"Memang kau tahu fakta artinya apa?" tanya Stevan kepada Rimba.

"Tahu kok. Kata abang fakta itu kebenaran. Kalau bukan fakta berarti dusta namanya sama saja seperti bohong," jawab Rimba.

"Abang adikmu menjawab mulu," ujar Stevan menyenggol bahu Argo.

Argo tidak menjawab dia malah fokus bermain sendiri. Stevan menarik pipi kanan sang sulung. Cara dia berhasil mendapatkan perhatian Argo. "Jangan tarik pipi abang! Sakit tahu!" protes Argo mengelus pipinya.

"Papa senang ketiga jagoan papa sekarang berisi semua," ujar Stevan menatap senang ketiga anaknya.

Yah bisa dikatakan sekarang bahwa Argo lumayan sering makan maka dari itu kedua pipinya sedikit berisi. Tidak masalah bagi kedua orangtuanya terpenting mereka sehat.

"Eh kakak bukan galon ya!" protes Rimba.

"Maksud papa bukan begitu nak," ujar Stevan.

"Yang berisi itu galon tahu," ujar Fano dengan bibirnya yang maju beberapa senti.

"Papa aneh. Masa kita disamakan dengan air galon," ujar Argo.

"Bau papa seperti habis tercebur dari got saja," komentar Rimba.

"Mana bajunya hitam-hitam kayak maling," ujar Argo.

"Iya tuh. Mana papa mirip penculik tadi pakai kacamata hitam pula," ujar Fano.

"Mama kurang beruntung punya papa," ujar Argo kepada kedua adiknya.

"Benar. Mana papa sukanya jalan sempoyongan kalau pulang tengah malam," ujar Rimba.

"Kayak kungfu saja, tapi papa jatuh tahu kalau jalan habis bangun tidur gitu. Mana papa waktu itu nabrak dinding kamar," ujar Fano.

"Pasti komuk wajah papa mirip seperti penculik gagal menangkap targetnya," ujar Argo.

"Cocok tahu. Papa jadi penculik," ujar Rimba.

"Masa kata guru adek dia bilang muka papa serem kayak preman di pasar," ujar Fano.

"Nah pekerjaan itu juga cocok tuh!" pekik Argo.

"Itu lho bang yang biasa menggantikan aktor film untuk adegan berbahaya," ujar Rimba tidak tahu namanya jadi dia memilih bertanya kepada sang abang.

Argo sedikit berpikir sejenak sebelum menjawab. "Oh. Stuntman sosok pengganti biar dia yang terjatuh dan melakukan adegan berbahaya," sahut Argo menjawab pertanyaan Rimba.

"Nah itu!" pekik Rimba.

Stevan sedikit kesal akan ulah ketiga anaknya sendiri. Mereka berterus terang mengatakan bahwa Stevan lebih cocok menjadi seorang penculik.

Pria itu mengacak-acak rambut dia akibat menahan emosi untuk memarahi meteka. "Sayang! Ini anak kita kenapa buat aku pusing sih?!" pekik Stevan.

Pekikan Stevan terdengar hingga dapur. Para pekerja memang tidak heran akan tingkah sang tuan besar. Tiap hari dia seolah sering berteriak disebabkan ulah oleh ketiga tuan muda.

Tak lama ada Lusi mendekat dia menahan tawa melihat wajah kesal Stevan. Dia duduk bersama keempat pria kesayangan dia.

Lusi menepuk kepala Stevan agar dia tenang. "Ingat mereka bertiga merupakan duplikat dirimu sendiri," ujar Lusi kepada suaminya.

"Tidak tahu! Abang mirip denganmu bahkan saat dia marah persis kamu ya!" pekik Stevan.

"Terserah kamu saja," ujar Lusi.

Ketiga anaknya tertawa melihat wajah sang ayah nampak kesal. Ayolah dilihat dari dekat pun ketiga anak pasangan Stevan dan Lusi lebih dominan mirip Stevan dibandingkan Lusi.

Saat sang bungsu lahir pun Lusi sedikit marah disebabkan tidak ada hal yang mirip dengan dia sama sekali. Menurut Lusi walaupun dia yang mengandung tapi tidak mendapatkan kebagian apapun.

"Aku yang morning sick bahkan mual-mual saat kamu hamil. Wajar dong mereka mirip denganku," ujar Stevan.

"Kok bisa gitu?" bingung Rimba.

"Berarti papa sangat mencintai mama," ujar Stevan.

"Alah bohong. Kemarin saja mata papa tidak diam saat ketemu cewek seksi!" pekik Argo.

"Oi abang!" kesal Stevan.

"Stevan kamu tidur di luar malam ini!" tegas Lusi.

Dengan kecepatan kilat Argo menarik kedua tangan adiknya menuju ke kamar. Dia akan kabur menghindari kemarahan sang ayah.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Sabtu 25 Mei 2024

Nanti malam update lagi ya

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang