54 (mama tahu)

1.7K 163 13
                                        

Di luar ruangan ada Stevan tengah menatap wajah Arik dari atas sampai bawah. "Wajah kau mirip seseorang," ujar Stevan.

"Mirip siapa om?" tanya Arik.

"Hari Wijaksono dia pria brengsek yang pernah kukenal di dunia ini," jawab Stevan.

"Om kenal ayahku?!" kaget Arik.

"Dulu aku sebatas kenal dia semasa kuliah. Dia merupakan seorang penggila wanita sejak dulu mungkin sekarang juga sama," jawab Stevan.

"Kok om tahu sih mengenai itu?" heran Arik.

"Ayahmu pernah menghamili teman sekelasku. Hari berjanji akan bertanggung jawab apabila wanita itu hamil ternyata Hari malah membujuk sang wanita untuk menggugurkan kandungan saja."

"Bukan sekali saja Hari melakukan hal tersebut, namun hampir sepanjang dia duduk di bangku kuliah sudah banyak korban darinya."

"Pihak kampus tidak berani mengeluarkan ayahmu disebabkan kakekmu mengancam akan meledakkan kampus," ujar Stevan.

"Sifat buruk ayah tetap saja sama, bahkan dia menelantarkan diriku," ujar Arik sedih.

Stevan memegang kedua bahu Arik bersamaan. "Kau perlu membuktikan kepada ayahmu bisa berhasil tanpa uang darinya," ujar Stevan.

"Aku mengerti om. Kadangkala aku sedikit iri melihat seorang anak dekat ayahnya sendiri," ujar Arik.

"Apabila kau mencari ayah baru om akan carikan," ujar Stevan.

"Hah?" bingung Arik tidak mengerti.

"Om hanya berpesan bahwa Argo sangat keras kepala seperti diriku. Jadi lebih baik paksa dia untuk melakukan hal baik dibandingkan berbicara saja," ujar Stevan.

"Makanya aku paksa dia untuk ke uks walaupun dia menolak," sahut Arik.

"Kau memiliki nasib tidak jauh berbeda dengan Guan dan Bagas," ujar Stevan.

"Kurasa ayahku mementingkan diri sendiri daripada anaknya," ujar Arik.

"Fokus belajar saja untuk dirimu mengenai biaya nanti om bantu," ujar Stevan.

"Tidak perlu om. Aku sudah bekerja kok jadi masih ada uang sendiri," ujar Arik.

"Pekerja keras sekali," puji Stevan.

"Terimakasih om. Aku pamit masuk ke dalam lagi," ujar Arik.

Stevan mempersilahkan Arik masuk kembali ke dalam. Di ruang tunggu Stevan duduk sedikit merongoh kantong celana untuk mengambil sebungkus rokok dan korek. Batang rokok dibakar diantara bibir Stevan. Dia menghisap rokok lantas menghembuskannya asap keatas.

"Pemikiranmu aneh Hari. Kau berkeinginan memiliki seorang putri dengan cara menikah secara diam-diam dari mendiang istrimu."

"Bahkan caramu layaknya seorang binatang demi kepuasan selangkangan saja."

"Ketika Arik lahir kau menyalahkan bayi tanpa dosa atas kematian istrimu. Orang aneh yang melimpahkan segala karma dia kepada anak tidak berdosa."

"Setidaknya aku bisa menghancurkan dirimu menggunakan anakmu agar kau sadar mengenai tanggung jawab seorang kepala keluarga."

"Aku memang berharap anak perempuan namun tidak senekat dirimu Hari."

"Target selanjutnya adalah para orangtua tidak tahu diri," ujar Stevan.

Seringai Stevan membuat orang-orang yang lewat ketakutan akan hal tersebut. Tak lama wajah datar Stevan tetap saja membuat orang ketakutan.

Merasa cukup merokok dia kembali ke dalam ruangan. Disana ternyata Argo tengah dipangku oleh Lusi. Stevan memperhatikan wajah kesal kedua anaknya.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang