36 (membunuh)

2.2K 190 11
                                        

Seolah membuat hidup manusia mati adalah suatu hal yang sangat mudah bagi seorang mafia.

Di ruangan bawah tanah ada dua sosok pria berbeda usia. Salah satunya memegang sebuah tangan manusia yang baru saja dia tebas beberapa menit lalu.

Pria yang lebih muda nampak tengah memegang pistol. Dia bahkan memutarkan pistol tersebut seolah mainan.

"Dia dalang tentang penyeranganku?" tanya anak tersebut.

Yah pria muda atau lebih tepatnya seorang remaja. Namun jiwa dia telah cukup dewasa mengerti segala hal tentang kekejaman dunia ini.

"Begitulah nak. Silahkan kau akhiri dia sesuai apa yang kau inginkan," ujar Stevan.

Pria yang dikenal sebagai salah satu mafia terkejam di dunia itu memang mengerti tentang anaknya sendiri. Dia juga tahu bahwa sang sulung memikul beban berat di pundaknya.

Stevan memilih duduk di kursi tak jauh dari sang anak membiarkan Argo menyiksa mangsanya. Tidak ada raut ketakutan malahan Argo nampak senang menikmati setiap teriakan korban.

Setelah puas menyiksa Argo menembak mati korban tepat di jantung. Kondisi korban cukup memperhatikan dimulai dari tangan kanan ditebas Stevan, tangan kiri yang kuku jarinya telah dicabut satu persatu oleh Argo, kedua telinga yang tidak ada sengaja dipotong Argo, kedua kaki bahkan sudah hancur akibat Argo memukulnya dengan berbagai benda berat.

"Kau memang Argo yang berasal dari masa depan karena tidak mungkin anak seusiamu menyiksa seseorang sangat sadis," komentar Stevan.

"Kurasa kematian sangat mudah bukan gayaku," sahut Argo.

"Maka dari itu aku sengaja tidak menyiksa dia terlalu parah," ujar Stevan.

"Tidak parah anehnya kedua bola matanya tidak ada," ujar Argo.

"Aku malas menatap mata memohon dia," ujar Stevan.

"Bagaimana pendapatmu mengenai teman?" tanya Argo.

"Hah?" bingung Stevan tidak mengerti.

Argo membuang pistol yang dia pegang ke sembarang arah. Dia mendekati sang ayah lantas duduk diatas pangkuan Stevan. Stevan menerima saja perlakuan manja anak sulungnya yang memang jarang menunjukkan sisi manja nya.

"Ada murid baru mendekati dia berkata mau menjadi temanku," ujar Argo kepada Stevan.

"Dia seperti apa?" tanya Stevan mengelus rambut Argo.

Argo menikmati kasih sayang sang ayah. Dia bahkan menempelkan wajahnya di dada bidang ayahnya. Walaupun ada bau amis akibat darah.

"Dia lebih pendek dari Dan. Menurutku dia cerewet sekali seperti perempuan," ujar Argo memberitahu.

"Namanya?" tanya Stevan.

"Arik Bramanty usia dia empat belas tahun," jawab Argo.

"Papa tidak masalah kau berteman dengan siapapun asal dia baik," ujar Stevan.

"Tidak curiga mengenai dia mata-mata musuh?" tanya Argo.

"Curiga memang perlu. Sebaiknya asal usul Arik akan papa cari tahu sendiri," ujar Stevan.

"Tumben tidak menyuruh om Edward?" heran Argo.

"Rimba saja kedua sahabatnya papa cari tahu sendiri. Nah kamu juga fokus belajar perkara latar Arik serahkan sama papa," ujar Stevan.

"Kenapa begitu?" tanya Argo.

"Aku papamu bang jadi wajar seorang ayah mengkhawatirkan mengenai anaknya sendiri," sahut Stevan.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang