Suasana di ruang tamu sangat kacau balau. Semua mainan berserakan dimana-mana. Banyak bungkus cemilan di karpet. Ada dua anak kecil tengah asyik menonton tv tanpa peduli keadaan sekitar.
Tak lama ada suara langkah kaki mendekat. Tidak ada pergerakan dari mereka berdua. Benar saja ada kedua orangtua menatap jengah keadaan ruang tamu.
"Kakak! Adek!" panggil Stevan.
Mereka berdua tetap asyik menonton tv. Mengerti situasi Lusi pergi menuju kamar sang sulung. Benar saja Argo tengah tertidur lelap dengan buku yang menutupi wajahnya.
Sedikit mengguncangkan tubuh Argo untuk bangun. Benar saja suara lenguhan terdengar dari sang anak. Buku yang menutupi Argo terangkat.
Menyesuaikan sedikit cahaya yang masuk beberapa kali. Argo tersenyum kearah sang ibu. "Mama," gumam Argo.
"Maaf nak. Mama minta tolong ya," ujar Lusi mengelus rambut Argo.
Memiringkan kepala tidak mengerti maksud sang ibu. "Mama boleh meminta apapun kepada abang kok," sahut Argo.
"Abang beritahu kakak dan adek ya. Untuk membersihkan ruang tamu," ujar Lusi.
"Oh baiklah," ujar Argo.
Argo turun dari kasurnya sedikit terhuyung sedikit. Lusi menahan tubuh sang anak. Mereka berdua keluar dari kamar Argo.
Di ruang tamu terlihat bahwa Stevan jengkel akan tindakan sengaja kedua anaknya. Mendengar ada orang lain yang masuk, tetap saja tidak dihiraukan mereka.
"Rimba! Stefano!" tegas seseorang.
Seketika mereka berdua berdiri dari tempat duduk. Benar saja mereka mendapatkan jitakan sayang dari sang abang. Lusi maupun Stevan tidak mencegah tindakan Argo.
Wajar apabila Rimba dan Fano sedikit membantah saat diberitahu. Tindakan terakhir mereka untuk menaklukan kenakalan keduanya adalah sang sulung.
"Bersihkan semua ini!" tegas Argo.
"Baik abang!" pekik mereka berdua.
Stevan dan Lusi terkekeh geli. Kedua anaknya bertindak sangat cepat membersihkan ruang tamu. Sedikit berlari Rimba dan Fano menyapu serta mengepel agar bersih. Fano bertugas menyapu sementara Rimba mengepel.
Sedikit mundur Argo tetap memantau kedua adiknya. Kedua tangan Argo terlipat menatap datar setiap tindakan kedua adiknya.
Beberapa menit kemudian akhirnya selesai juga. Argo pergi dari sana meninggalkan keduanya yang kelelahan.
Sedikit mengatur nafas Fano memperhatikan keadaan sekitar yang sudah bersih. "Hah lelah sekali," ujar Fano.
"Haus," keluh Rimba.
"Adek juga haus," keluh Fano.
Sensasi dingin mengenai pipi mereka masing-masing. Sedikit tersentak ternyata di sebelah pipi ada segelas air dingin.
Argo memberikan masing-masing satu gelas kepada kedua adiknya. "Lain kali jangan begitu," nasihat Argo.
"Terimakasih abang!" pekik mereka berdua.
"Sama-sama," ujar Argo.
Dengan rakus mereka menghabiskan minum dengan kecepatan penuh. Argo berjongkok di depan kedua adiknya. Selesai minum mereka berdua tak lupa menaruhnya ke dapur.
"Kalian mandi dulu. Abang akan tidur lagi," ujar Argo.
"Abang mandi bersama yuk!" ajak Rimba.
"Hah?!" kaget Argo.
"Kata papa tidak masalah lho," ucap Fano polos.
"Sudah mandi saja. Selesai mandi kalian tidur saja. Papa dan mama akan memberikan adik baru untuk kalian," ujar Stevan kepada ketiga adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
