83 (si langganan bk)

1.3K 127 10
                                        

Seperti biasa Argo bersama Rimba berangkat sekolah diantar sang ayah Stevan. Mengenai dijemput paling juga oleh Stevan atau tidak Lusi, apabila Stevan sibuk. Mereka berdua bekerja sama untuk memberikan waktu optiminal untuk ketiga anaknya secara adil.

Alasan Lusi lebih mengasuh Fano di rumah, dikarenakan dulu sang bungsu pernah hilang ketika menjemput kedua kakanya.

Fano dibawa pergi oleh seorang remaja, yang nampak gemas akan wajah bulat Fano. Balita itu menurut saja dituntun pergi. Untungnya sang remaja baik hati berkata jujur kepada Lusi.

Perkara pengalaman itu, menjadikan Lusi menyerahkan tugas mengantar dan menjemput kepada Stevan. Stevan setuju saja dia cukup senang malahan.

"Kakak! Jangan ada panggilan orangtua lagi untuk hari ini," nasihat Stevan.

"Tidak janji," sahut Rimba santai.

"Abang nasihatin adikmu itu. Dia aktif sekali sih. Setiap ada orang yang menyenggol langsung dipukul wajahnya," ujar Stevan.

"Itu nasihat dari papa juga. Kata papa kita perlu menghajar semua orang yang menghina kita," ujar Argo.

"Tapi panggilan dari guru bk, untuk adikmu terlalu sering abang," ujar Stevan.

"Aku menurut saja ucapan papa kok. Aku tidak suka dihina atau direndahkan. Aku membela diriku sendiri, lawanku saja yang cengeng," ujar Rimba.

"Nanti kamu dirikan geng motor saja," usul Argo.

"Ide bagus tuh!" pekik Rimba.

"Oi abang!" kesal Stevan.

"Lebih baik, arahkan Rimba kesana saja," ujar Argo.

"Itu hal negatif," ujar Stevan.

"Papa saja menjual organ vital manusia. Jangan mengatakan tindakan Rimba adalah hal negatif!" sindir Argo.

"Kok papa jual organ vital manusia sih?" bingung Rimba.

"Tahu tuh. Papa aneh sekali. Masa uang jual organ vital untuk mabuk sih," ujar Argo.

"Abang jangan katakan itu!" pekik Stevan.

"Anggap saja pembelajaran," ujar Argo.

"Itu harusnya nanti saat Rimba berusia lima belas tahun," ujar Stevan.

"Memang sekarang kenapa?" tanya Argo.

"Terlalu dini," jawab Stevan.

Rimba menatap bingung percakapan Argo dan Stevan. Ia jujur tidak paham sama sekali. Bahkan mengenai jual organ yang dilakukan ayahnya.

Tak terasa mereka tiba di gerbang sekolah. Argo turun duluan ia tak lupa membuka pintu untuk sang adik. Rimba langsung meminta gendong abangnya.

Interaksi manis mereka sudah biasa. Stevan menepuk kepala kedua anaknya bergantian. Dua lembar uang berwarna merah dimasukkan Stevan ke kantong seragam Argo dan Rimba.

"Jangan pulang bersama orang lain. Papa akan jemput sebelum kalian keluar kelas," nasihat Stevan.

"Okey," ujar mereka berdua.

Argo menahan berat badan Rimba. Sementara Rimba melambaikan tangan kearah ayahnya. Stevan tersenyum tipis, ia senang ketiga putranya saling menyayangi.

Langkah kaki Argo menuju kelas Rimba terasa tenang. Soalnya, Rimba menatap tajam mereka satu persatu. Rimba dikenal sebagai biang masalah, ia juga sangat galak terhadap orang yang mengusiknya.

Tidak heran mereka cukup takut terhadap Rimba. Walaupun Rimba baru berusia sembilan tahun, ia memang tipikal orang yang sangat emosian.

"Digendong mulu," ujar Bagas.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang