87. Perdebatan ditengah Aula

765 117 46
                                        

14 Juni 2026


HOLAA GUYSSS!! 🥹💗

Setelah sekian lama hiatus akhirnya author bisa comebackk😭😭

Terima kasih banyak untuk kalian semua yang masih bertahan, membaca, dan tetap memberi dukungan. Kehadiran kalian cukup menjadi alasan mengapa cerita ini harus dilanjutkan. Karena tanpa kalian, cerita ini tidak akan pernah sampai sejauh ini💗 🫶🏻

...

Author belum punya cukup waktu untuk mencapai crazy update, jdi udate kali ini masih seadanya dan belum maksimal. Smoga masih bisa dinikmati

Happy reading!!














***

"Lihatlah dia bahkan pura-pura tidak mendengar. Kakak ketiga, ayo kita tarik cadarnya!" Seru pangeran Wang Lujie kepada pangeran keempat, Wong.

***

Tepat setelah ajakan itu terlontar, muncul suara lembut yang sangat khas dari arah belakang.

"Pangeran Xin ... Tidakkah kita memiliki etiket sebagai bangsawan?"

Semua atensi tertuju kepada sosok gadis bertubuh mungil yang saat ini tengah berjalan menuruni tiap-tiap anak tangga dengan gerakan anggun. Nampak cadar putih menutupi setengah wajah tirusnya, rambut hitam panjangnya tergerai sebatas pinggang, dan tubuh rampingnya terbalut hanfu berbahan sutra keemasan. Sosok anggun itu membelah kerumunan seolah menghipnotis siapapun yang melihatnya.

Dan ditengah ketegangan itu para pangeran Xin buru-buru menyingkir dari hadapan Kyra dan bergegas menghampiri putri Zhishu.

"Putri kedua, ini tidak seperti yang engkau pikirkan!" sanggah pangeran Wang Lujie cepat.

Putri Zhishu menatap wajah dua pangeran Xin itu dengan sorot kecewa. "Perkumpulan ini bertujuan agar kita semua saling mengenal, menjaga, dan berteman satu sama lain. Pangeran Xin, apa yang putri ini lihat tadi sangatlah berbeda dan itu sedikit ... mengganggu~"

Kalimat itu begitu lembut dan kecil, namun mengandung kesedihan yang mendalam. Para bangsawan yang telah menganggap putri Zhishu sebagai idola tentu tidak akan mengabaikan, terutama para pangeran Xin. Mereka begitu lemah jika dihadapan sosok suci sepertinya.

Tanpa pikir panjang pangeran Wong, Wang Lujie, dan teman-temannya lekas menangkupkan tangan setinggi kepala. "Maafkan kami putri kedua, kami mengaku bersalah dan siap menerima hukuman!"

Putri Zhishu menggeleng pelan. "Tidak perlu sampai seperti itu. Putri ini hanya tidak ingin kalian menarik cadar Putri ketiga, Itu saja ..."

"Tentu saja, terimakasih atas kemurahan hati putri kedua," sahut pangeran Wang Lujie rendah hati. Semua orang ikut menunduk sebagai bentuk penghormatan.

Mereka semua hampir saja merusak citra diri dihadapan bangsawan berkelas seperti putri Zhishu, tapi bukan berarti mereka akan berhenti.

Putri ketiga yang mereka kenal ialah gadis cupu yang pemalu, buruk rupa, dan berpenyakitan. Aneh sekali jika dia tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berbeda seperti sekarang ini. Mungkin perubahan kecil tidak masalah, tapi dalam kasus ini dia hampir berubah total seperti orang lain yang sedang menyamar!

𝑻𝑰𝑴𝑬 𝑻𝑹𝑨𝑽𝑬𝑳 : 𝑂𝑓 𝑎 𝐶𝑜𝑙𝑑-𝐻𝑒𝑎𝑟𝑡𝑒𝑑 𝑊𝑜𝑚𝑎𝑛Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang