| 13-1-2021 |
| 27-12-2021 |
_____________________ _ _
🌹🌹🌹
"Kami pernah gagal melindungi satu jiwa dari kekejaman dunia. Kami tak akan membiarkan langit merenggut jiwa yang satu lagi."
~Ibu suri
🌹🌹🌹
_ _ _______________________
***
Angin sore berembus pelan membawa aroma kelopak bunga yang gugur menyapu permukaan cangkir-cangkir teh yang telah sepenuhnya dingin.
Ibu Suri menatap wajah Kyra cukup lama, mengamati tiap inchi wajah gadis itu yang masih tetap datar meski telah menangis sebelumnya. Lalu ibu suri mengembuskan napas pelan, seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk bertanya.
"Ki'er..." suara Ibu Suri bergetar tipis, memecah kesunyian. "Jika boleh kami tahu ... bagaimana perpisahanmu dengan anak itu?"
Selir Athi mendadak menahan napas. Jemarinya meremas kain gaunnya sendiri dan menanti dengan dada berdebar kaku. Mereka butuh kebenaran. Entah betapa menyakitkannya, mereka hanya ingin tahu bagaimana detik-detik kepergian gadis itu.
Namun Kyra tidak langsung menjawab.
Keheningan kembali menyelimuti Paviliun Mawar. Tatapan Kyra perlahan jatuh ke permukaan teh yang mulai mendingin, sementara ingatannya tanpa sadar kembali pada ruang hampa yang diselimuti kegelapan itu.
Di sanalah ia bertemu Azkia untuk terakhir kalinya.
Dari banyaknya hal yang terjadi saat itu, ada satu kenangan yang begitu membekas di benak Kyra.
"Dia memelukku," tutur Kyra pelan dengan wajah yang teramat kaku.
Keheningan kembali turun di antara mereka.
Ibu Suri dan Selir Athi saling berpandangan singkat. Keduanya sama-sama terpaku sebab tidak menyangka itulah hal pertama yang akan keluar dari bibir Kyra.
"Tapi aku masih belum mengerti ... kenapa dia menangis waktu itu. Dia hanya memelukku dan terus meminta maaf." Kyra menatap cangkir tehnya dengan kening berkerut halus.
Selir Athi menggigit bibir bawahnya. "Meminta maaf padamu?"
Kyra mengangguk datar. "Dia bilang, 'Maafkan aku Kyra, maaf karena telah membuatmu menanggung semua itu.'" Kyra menatap telapak tangannya sendiri, memperhatikan garis-garis tangan milik Azkia.
"Aneh," gumam Kyra pelan, senyum tipis yang agak kaku terukir di bibirnya. "Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf padanya? Aku datang ... mengambil kehidupannya, lalu menjalani sisa takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Yang kehilangan segalanya adalah dia. Tapi kenapa ... justru dia yang memelukku dan meminta maaf padaku?"
Setetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Selir Athi. Ia menutup mulutnya erat-erat tak sanggup menahan rasa sesak yang menghantam dadanya.
Ibu Suri pun memejamkan mata sesaat, sebab mereka tahu.
Tanpa perlu dijelaskan oleh Kyra, Ibu Suri dan selir Athi tahu betul mengapa Azkia meminta maaf. Jiwa gadis itu telah menyaksikan betapa berdarah-darahnya perjuangan Kyra demi menegakkan keadilan atas namanya. Azkia tidak menangisi nasib sialnya sendiri, melainkan menangisi penderitaan sosok yang menggantikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑻𝑰𝑴𝑬 𝑻𝑹𝑨𝑽𝑬𝑳 : 𝑂𝑓 𝑎 𝐶𝑜𝑙𝑑-𝐻𝑒𝑎𝑟𝑡𝑒𝑑 𝑊𝑜𝑚𝑎𝑛
FantasiSaat dunia diambang kehancuran dan keadilan tak lagi bertaring, manusia tak lagi memohon kedatangan malaikat. Mereka mengharapkan iblis penegak keadilan. ༒︎ JENDERAL KYRA ༒︎ Jangan terkecoh oleh paras cantik dan seringai tipis dibibirnya, sebab di...
