Happy reading guys!
__________________________________________________
Pagi itu, suasana di rumah seperti biasanya. Halilintar sudah berangkat lebih awal seperti biasa, meninggalkan rumah tanpa banyak bicara. Namun kali ini, Amato akan datang ke sekolah untuk menemui Kepala Kekolah.
Amato menatap Aisyah sebelum pergi, "aku akan bicara dengan mereka. Jika Hali memang dalam masalah, aku ingin tahu penyebabnya."
Aisyah menggenggam tangan suaminya erat, "jangan marah padanya, Amato. Aku tahu Hali sudah banyak berubah, tapi aku yakin dia bukan anak yang sembarangan mencari masalah."
Amato mengangguk pelan, lalu beranjak keluar dari rumah.
Setibanya di sekolah, Amato berjalan menuju ke ruang Bimbingan Kaunseling yang dihantar oleh seorang guru dan langsung diarahkan ke ruangan itu. Di dalam, Pak Surya dan Pak Danang sudah menunggunya. Dan juga seorang pria lain yang duduk tidak jauh dari mereka.
Amato duduk dengan tenang di hadapan mereka. "Saya dipanggil untuk membicarakan anak saya, Halilintar."
Pak Surya mengangguk, lalu meletakkan sebuah berkas di atas meja. "Benar, Pak Amato. Kami perlu membahas sikap Halilintar dan masalah yang terus terjadi dengannya di sekolah."
Pak Danang menyesuaikan duduknya sebelum berbicara, "dalam beberapa bulan terakhir, Halilintar menjadi lebih sering terlibat dalam konflik. Dia seorang yang pendiam dan jarang bergaul tapi begitu dia beberapa kali hampir terlibat perkelahian serius."
Amato tetap tenang. "Bisa kalian jelaskan lebih rinci?"
Pak Surya menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Halilintar selalu menjadi murid berprestasi. Nilainya tidak pernah turun, dan dia selalu bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun, sikapnya itu membuat dia jarang berbicara dengan teman-teman sekelasnya, lebih sering menyendiri, dan hampir tidak melibatkan diri dalam kegiatan sekolah."
"Karena Halilintar banyak diam, ramai yang mengganggunya," lanjut Pak Surya.
Pak Danang menambahkan, "kelmarin, dia benar-benar memukul salah satu siswa dari kelas sebelah. Kami sudah memperingatkannya sebelumnya, tetapi tetap melakukannya."
Amato mendengarkan dengan saksama. "Apa yang memicu perkelahian itu?"
Pak Surya menatap Amato dengan serius. "Menurut saksi, siswa yang terlibat itu memprovokasi Halilintar. Tapi begitu, Halilintarlah yang duluan menyerang siswa bernama Reza."
Amato terdiam sejenak.
Dia tahu betul bagaimana rasanya menyimpan kemarahan dalam diam.
Pak Danang melanjutkan, "Kami tidak ingin memberi hukuman berat. Tapi jika Halilintar terus begini, dia bisa mendapatkan skorsing atau bahkan dikeluarkan dari sekolah."
Mendengar itu, Amato akhirnya berbicara. Suaranya tetap tenang, tapi ada ketegasan dalam nadanya.
"Aku faham dengan apa yang Pak Danang utarakan, tapi bagiku Hali tidak bersalah karena anak saya hanya ingin membela dirinya."
Pak Surya dan Pak Danang saling bertukar pandang.
"Itu benar tetapi sudah beberapa pelajar yang terluka parah gara-gara anak bapak. Kalaupun Hali ingin membela dirinya tapi tidak sampai membuat orang kritis."
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)