06. Neji, I'm sorry

3.4K 250 7
                                        

Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..

So, let's reading...

#…………….#

Naruto membawa Sasuke pulang ke rumahnya karena tidak mau berlama-lama di luar. Dia memilih menggunakan shunshin agar lebih cepat sampai.

Saat dia sampai di rumah sederhana peninggalan sang ayah, Naruto menendang pintu depan rumah dengan kakinya, hingga suara gebrakan terdengar karena pintu tersebut berbenturan dengan dinding di belakangnya. Sasuke sempat terlonjak kaget, tapi Naruto mengeratkan rengkuhannya.

Rumah ini adalah rumah milik Minato, yang katanya dibeli dengan gaji lelaki itu saat berpangkat jounin. Rumah yang Naruto tempati setelah Pain menghancurkan desa. Rumah ini memang tidak ikut hancur, karena posisinya yang sangat jauh dari pusat Desa.

Setelah mendudukkan Sasuke di sofa tunggal, dengan terampil tangan Naruto membentuk sebuah tanda tangan, lalu muncullah satu kloningan pemuda pirang itu.

"Apa?" tanya si kloning malas.

"Jaga Sasuke, aku mau keluar dulu," jawab Naruto pada si Bunshin.

"Ke mana?"

"Hanya beli makan."

"Ya sudah, sana."

Naruto mengangguk pelan. Lalu tanpa menoleh, dia segera pergi dari rumah. Sasuke hanya menatap kepergian Naruto dalam diam, sementara pikiran nya memproses banyak hal negatif setelah semua yang terjadi.

~

Naruto berjalan tanpa semangat di sepanjang jalan. Beberapa orang awalnya menyapa sang pahlawan perang dunia Shinobi ke-4 itu, tapi tanggapan Naruto hanya sebuah pandangan tak bermakna. Terkadang dia menendang kerikil yang ada di bawah kakinya. Orang-orang yang dia lewati jadi enggan berbicara, tak mau membuat Naruto yang nampak seperti mayat hidup berjalan itu terganggu.

Pemuda berpakaian jumpsuit oranye itu hanya singgah sebentar di toko onigiri. Dia hanya membeli beberapa buah onigiri untuk penghuni baru rumahnya, tidak berniat membeli lebih banyak untuk dirinya sendiri. Lagi pula, nafsu makannya memang sangat rendah sejak dia kehilangan sang kekasih, bahkan ramen yang sejak dulu dia sebut sebagai makanan dewa saja tidak bisa menaikkan keinginan perutnya.

Keluar dari kedai kecil dengan tentengan berisi empat buah onigiri dan tiga tusuk dango, Naruto tak langsung pulang. Langkahnya justru mengarah ke salah satu tempat yang jika keluar rumah, pasti dia datangi.

Helai-helaian rerumputan yang nampak cukup panjang terlihat bergoyang ditiup angin. Dari celah-celah pepohonan rindang, cahaya matahari tembus hingga menampilkan garis-garis terang yang memancar ke tanah. Tanah coklat yang dipijaki nya terasa agak lembab, karena semalam hingga pagi tadi memang hujan turun membasahi desa.

Langkah kaki pemuda yang kini telah menikah itu terhenti di depan pemakaman Konoha, pemakaman para pahlawan yang mati di medan perang.

Helaan nafas nya terdengar berat, kemudian dia kembali melangkah hingga sampai di sebuah nisan bertuliskan nama seseorang.

Hyuuga Neji.

Dia berjongkok tepat di samping batu nisan tersebut. Tangannya bergerak menelusuri batu dengan nama sang kekasih, mengusapnya lembut seolah ia sedang mengusap kepala lelaki itu.

"Neji," gumam Naruto lirih, "maafkan aku."

"Maaf, maaf karena bukan namamu yang kini berganti menjadi Uzumaki. Padahal rencana kita sudah hampir matang, ya. Rencana pernikahan dan kehidupan setelah nya."

"Kau pasti sudah melihatku, kan? Apa--

Apa menurutmu aku telah mengkhianati mu, Neji?"

Naruto bertanya pada sang kekasih yang jelas tidak akan menjawab, kepala nya merunduk dengan mata yang sayu.

"Rumah itu, rumah yang akan kita tempati bersama, kini ada seseorang yang menggantikan tempatmu di sana. Neji, apakah yang kulakukan ini telah benar?? Dengan mengorbankan kesetiaan kita?"

"Kesetiaan yang selalu kita sebut sebagai hal terpenting dalam sebuah hubungan, telah ku korbankan demi sahabat ku. Apa ini benar? Tolong jawab aku, Neji. Walau hanya dalam mimpi."

"Maafkan aku. Sampai kapan pun, aku akan selalu mencintaimu. Beristirahat lah dengan tenang, sayang. Meski kepergian mu sudah pasti menorehkan luka besar di hatiku."

Sebuah kecupan singkat pemuda pirang itu bubuhkan pada nisan tersebut, lalu bangkit dan berbalik. Tangannya mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir dari sudut matanya, kelopak matanya terpejam beberapa saat. Barulah setelah itu, dia kembali melangkahkan kaki yang membawanya pergi dari tempat tersebut, tanpa mempedulikan satu tanda chakra yang ada di daerah sama.

Seorang gadis pemilik rambut indigo dengan mata lavender khasnya muncul dari balik sebuah pohon.

"Naruto-kun," gumamnya pelan.

Dia sudah bisa menebak apa yang tadi dilakukan lelaki pirang yang ia cintai itu. Yah, dia satu-satunya yang mengetahui hubungan Naruto dan Neji.

Bukan, bukan diberitahu detail pastinya oleh salah satu dari dua orang itu, tapi dia juga hanya menebak-nebak sendiri. Karena saat Neji tiada, gadis itu pun ada di sana.

Dan kata-kata sepupunya sangat mendalam. Tidak mencerminkan perkataan yang ditujukan untuk seorang rekan, tapi seolah untuk seorang kekasih yang saling mencintai.

Sejak itu lah dia mengira kedua nya memang berhubungan, apalagi Naruto jelas kehilangan gairah hidup sejak perang berakhir. Semakin menguatkan pikiran nya tentang mereka berdua. Dan lihat sekarang, Naruto datang dan berkata seperti itu didepan pusara basah Neji.

'Nii-sama, apa aku bisa membantunya agar tidak lagi bersedih setelah kepergianmu?' gadis itu membatin sambil menatap batu nisan sepupunya dengan sedih.

'Nii-sama, lihatlah. Kepergianmu membawa semua pribadi ceria Naruto-kun pergi. Aku, aku juga kehilanganmu, nii-sama,' batinnya lirih.

#........#

Vote and comment please 💗

Mengeng-mengeng, setelah Lin telusuri ulang, kok ternyata banyak tanda baca yang salah di cerita sebelah 😭😭

Pi males banget revisi😶

Please, Stay With Me Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang