Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#…………….#
"Sasu, ayo bangun," Naruto yang shirtless, menepuk pipi Sasuke lembut.
"Hngggh, lima menit," bukannya bangun, Sasuke malah semakin masuk ke dalam selimut.
Naruto terkekeh, kucing kecil nya sangat menggemaskan. Tidak mau mengganggu lagi karena nampaknya Sasuke tak akan bangun sekarang, Naruto keluar dari sana, pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan yang sebenarnya sudah terlambat, mungkin lebih baik disebut makan siang.
Seporsi besar nasi kare diikuti ikan goreng keemasan sudah tertata rapi di atas meja, sementara Naruto sedang menyiapkan potongan tomat segar dan potongan apel dalam satu piring. Baru saja dia menyelesaikan pekerjaannya memotong buah yang akan digunakan sebagai pencuci mulut tersebut, chakra tipis Sasuke terasa keberadaannya.
Setelah piring terakhir diletakkan, Naruto menyongsong Sasuke yang baru masuk ke ruang makan dengan wajah kuyu, rambut acak-acakan dan tubuh tertutup selimut.
Satu alis Naruto terangkat, "belum pakai baju, Sasu?" tanyanya heran. Jemari nya bergerak merapikan rambut acak-acakan suami kecilnya.
"Tentu saja pakai."
"Loh, kalau begitu kenapa memakai selimut juga? Memang tidak ribet jalannya?"
"Ck, ini semua salahmu. Kalau leherku tidak penuh merah untuk apa juga aku tutupi!" Sasuke berseru sebal.
Tawa kecil terdengar, "untuk apa menutupi semua itu dari si pembuat tanda? Lagian kan, tidak ada siapapun di sini selain kita berdua."
"Hnn, terserah,"
"Kamu masih mengantuk?"
"Hnn,"
Sasuke yang tadinya mau duduk di kursi kayu disamping Naruto, malah ditarik ke tempat yang sama di mana Naruto telah menempatkan diri. Dia jadi terduduk di pangkuan sangat suami.
"Naru, aku mau duduk sendiri!"
"Hust, diam lah, Sasu. Duduk disini saja."
"Ck, menyebalkan!"
Kekesalan Sasuke semakin bertambah kala netra gelapnya mendapati satu porsi saja makanan di atas meja. Hey! Dia tidak mau makan sendiri, ya!
"Kau tidak mau makan apa bagaimana?! Maksudmu aku harus makan sendiri saja, begitu?!"
"Itu porsi besar, sayang. Sengaja aku buat segitu, jadi kita makan bersama."
Ucapan Naruto menghentikan protesan Sasuke, yang sempat di bungkam kecupan ringan.
"Begitu?" tanya Sasuke pelan, kekesalan nya mereda. Dia kira akan makan sendiri dan si pirang itu malah hendak pergi, ternyata bukan.
"Tentu saja, sayang. Sekarang ayo makan, kamu pasti sudah lapar, kan?"
Sasuke mengangguk pada pertanyaan yang lebih seperti pernyataan Naruto. Dan akhirnya mereka berdua makan bersama. Sasuke juga tidak menolak setiap kali Naruto menyuapi nya. Sesekali Naruto pun akan membersihkan sudut bibir Sasuke.
"Nanti-nanti kau harus membiarkan ku masak juga. Jangan selalu kamu yang masak dan aku hanya dapat hikmah nya, aku juga harus nya sering bersih-bersih bukannya tidur terus," ungkap Sasuke yang selesai makan lebih dulu. Dia kenyang. Ternyata benar makanan itu memang banyak.
"Iya iya, nanti kalau kamu sudah baikan, ya terserah. Tapi aku tidak akan menyuruh. Aku bukan menikahi mu untuk ku jadikan pelayan, oke."
"Hnn."
Sasuke menyandarkan kepala di dada Naruto, kenapa dia tiba-tiba mengantuk lagi, sih? Bukannya dia baru saja bangun?
Naruto sedang membersihkan tangannya menggunakan serbet ketika sadar kalau lelaki di pangkuan nya ternyata telah kembali tertidur dengan kedua tangan melingkar erat di perutnya.
"Ya ampun, benar-benar putri tidur." Naruto menggeleng tak heran.
Dia bangkit perlahan, pindah ke ruang tengah, lantas duduk di sofa panjang sambil tetap memangku si putri tidur. Dia mengeluarkan scroll berisi fūin yang baru separuh selesai. Mengerjakan nya untuk menambah pundi uang. Lumayan, daripada hanya diam.
Naruto begitu fokus menyelesaikan segel tersebut, segel array pelindung empat arah mata angin yang bisa mencakup seluruh Konoha tanpa terkecuali.
Sejak penyerangan Pain selesai, dia memang mendalami seni penyegelan Uzumaki di setiap waktu luang. Dia ingin melanjutkan nama kedua orang tuanya yang adalah master fūin. Lagipula sebagai Uzumaki, dia bisa mempelajari fūinjutsu dengan lumayan mudah, seolah seni segel menyegel itu memang adalah sesuatu yang mengalir dalam denyut nadi nya.
Kening Naruto berkerut, menyadari satu kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat. Kefokusannya pada gulungan menyebabkan Naruto tak sadar bahwa dia sudah duduk di sana hampir selama dua jam lamanya. Masalahnya, dia baru tau kalau kesalahan yang dia dapati ternyata sebanyak itu, detail-detail kecil itu agak tak terbaca.
"Astaga, segel level IX ini ternyata cukup rumit," keluhnya.
Ngomong-ngomong, segel ini jika sudah selesai akan Naruto serahkan pada Kakashi sang Hokage. Hmm, berapa ya bayarannya? Mungkin seharga dua buah misi peringkat SSS? Atau lebih? Daya cakupannya nya memang besar sih, jadi wajar kalau harganya semahal itu.
Harusnya segel tersebut selesai lima bulan yang lalu, tapi yah, tidak dilakukannya. Maklum, dia sedang dalam masa-masa rindu.
"Naruto?" Sasuke bergumam pelan kala netra gelap miliknya melihat si lelaki pirang yang sedang sibuk dengan tinta dan scroll.
"Loh, putri tidur tercintaku ini sudah bangun? Apa kamu bermimpi kalau aku adalah pangeran berkuda putih yang menyelamatkan mu dari kejaran beruang hitam lapar?" sambut Naruto pada Sasuke saat suara serak namun lembut si Uzumaki berambut hitam terlantun memanggil namanya.
Bola mata sayu Sasuke bergulir pelan, "pertanyaan mu menggelikan, Dobe."
Naruto terkekeh. Tak lupa ia mengecup kening dan ujung hidung suami kecilnya.
#......#
Vote and comment please 💗
Btw, gimana menurut kalian?
Mending Lin update 4 eps setiap up tapi seminggu sekali, atau gini aja?
Sebab kadang akutuh ada males nya 😔
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
أدب الهواةSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
