61. Porridge

2K 170 7
                                        

Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..

So, let's reading...

#…………….#

Pagi ini Sasuke bangun lebih dulu.

Yah, menjelang pagi, kedua retina berbeda warna itu telah terbuka. Sebenarnya kalau mau mengikuti kemalasan,  si Uzumaki berambut hitam ingin kembali bergelung dalam hangatnya dekapan si pirang. Hanya saja dia ingat dengan jelas kalau semalam Naruto terlihat begitu kuyu. Seperti tidak punya semangat hidup.

Yaaaa, itu memang salahnya karena menjejali si pirang dengan wasabi sebegitu banyaknya. Jadi putra Yondaime itu mencret-mencret dari siang sampai malam.

Sasuke hendak bangkit dari tempat tidur, tapi tangan berkulit tan yang berada tepat di atas pinggang mencegahnya. Pelukan itu cukup sulit ia lepas. Hingga setelah beberapa kali dia mencoba menyingkirkan tangan itu dengan hati-hati dan barulah berhasil, lalu menyingkap selimut.

Baru saja Sasuke akan turun dari ranjang, tangannya malah diraih kembali. Dia menatap wajah lelaki berkulit kecokelatan yang kini juga beradu pandang dengan netra gelap nya. Posisi Naruto masih berbaring, tentu saja. Beda dengan Sasuke yang sudah menjejakkan kaki di lantai, hanya saja pantatnya masih tertahan di kasur.

"Ohayō Sasu, hoaaaam," Naruto menyapa sambil menguap, dengan mata kelap-kelip.

"Hnn, ohayō," sahut Sasuke singkat.

"Kamu mau ke mana? Ini masih sangat pagi," si pirang bertanya.

"Keluar dulu."

"Hmm, mau apa?" tanya nya lagi sedikit bingung. Yah, maklum. Masih linglung. Tangannya bergerak mengucek kelopak mata agar kantuk yang masih mendera tidak menggangu percakapan.

"Ck, banyak tanya! Mending tidur lagi sana!"

Naruto tertawa pelan, seruan Sasuke sangat lucu di pendengarannya. Wajahnya yang mendumel kesal itu malah terlihat candu dan menggemaskan.

"Baiklah baik, lakukan apa yang kamu mau. Tapi sebelum itu, kemari," pinta nya memelas, berharap Sasuke segera mendekatkan wajah padanya. Sayangnya Sasuke tidak peka pada apa yang dia inginkan, hmmmm...

"Hn, apa?" tanya Sasuke, satu alisnya terangkat.

"Aish, kemari dulu."

Sasuke menurut. Tapi kepalanya sedikit miring ke kanan karena bingung, "apa sih?!"

Bukannya jawaban, yang diterima Sasuke adalah sebuah ciuman lembut di bibir, matanya melotot sejenak karena terkejut.

"Hehe, sankyu ciuman selamat pagi nya," Naruto tersenyum lebar setelah tautan bibir mereka terlepas, semangat hidup nya semakin terisi!!

Wajah Sasuke segera berubah merah, buru-buru dia beranjak sampai hampir terjungkal. Sial, pagi-pagi sudah disuguhi permintaan yang membuat hati meleleh.

"Hey, hati-hati sayang," peringat Naruto yang tak mendapat jawaban karena Sasuke sudah lebih dulu berlari pergi.

Begitu keluar dari kamar, Sasuke berjalan ke dapur, hendak membuat sarapan untuk mereka berdua. Dan karena ingat lelaki berstatus suami nya semalam diare dan perutnya pasti kosong, jadilah Sasuke membuat menu orang sakit. Bubur. Dipadukan dengan telur dadar yang dia campur dengan potongan daun bawang, cabai, dan sedikit tomat.

Segera saja Sasuke sibuk sendiri dengan beberapa alat masak dan bahan-bahan nya itu. Pergerakan cepat nya dalam memotong dan mengaduk menjadi tanda kalau dia bukanlah seseorang yang tidak pandai mengolah makanan. Tentu saja, dulu kan dia berkelana bersama team Taka nya. Meski skill memasak nya memang masih kalah kalau dibandingkan dengan Naruto.

Naruto sampai di dapur saat Sasuke sedang merapikan potongan omelet di atas piring. Dia bertelanjang dada sambil mengeringkan rambut basah nya menggunakan handuk berwarna oranye cerah.

Bentuk kotak-kotak simetris di dada bidang yang terlihat jelas karena Naruto memang topless itu, membuat Sasuke yang sempat melirik segera mengalihkan pandangan. Jujur saja, dia selalu merasa sedikit iri pada bentuk dada bidang Naruto yang sempurna di pandangan. Karena walaupun perutnya memang tidak rata seperti perut bayi, tapi tetap saja tidak sekekar Naruto. Oh, jangan bandingkan dengan Raikage, itu sih terlalu besar, muehehe.

"Ada yang mau ku bantu tidak, sayang?"

"Tidak perlu, ini sudah selesai. Lebih baik segera duduk," perintah si Raven tanpa mengalihkan perhatian lagi dari piring di bawah wajahnya.

"Baik lah."

Naruto duduk di salah satu kursi yang menghadap langsung ke area dapur. Tentu saja pergerakan Sasuke bisa ia lihat dengan jelas karena penghalang antara dapur dan ruang makan hanyalah meja keramik yang menjadi tempat beberapa benda bertengger. Di atas meja sudah terdapat mangkuk besar berisi bubur.

Sasuke mendekat membawa piring omelet dan teko air. Naruto sendiri langsung membantu Sasuke, dia mengambil alih kedua bawaannya, meletakkannya di atas meja, lalu menarik kursi di samping kursinya ke belakang agar bisa dengan mudah ditempati.

Dengan senang hati Sasuke duduk di kursi itu. Dia tersenyum kecil melihat kelakuan Naruto yang menjelaskan bagaimana cara dia menjabarkan love language nya.

Naruto pun duduk kembali setelah menyendok bubur pada dua mangkuk kecil.

"Mau ku suapi?" tanya Naruto.

"Hn, tidak usah," tolak Sasuke.

Dia mulai makan bersama Naruto. Mereka makan dengan tenang.

Oh, sebenarnya hanya Sasuke yang makan dengan tenang. Karena bukannya langsung makan, Naruto justru sibuk memperhatikan setiap gerak-gerik si Uchiha terakhir. 

Sasuke yang melihat Naruto hanya diam dengan pandangan terarah padanya, melotot pada Naruto. Jadi si pirang sambil menyuap bubur secara perlahan ke mulutnya, juga sambil tetap memperhatikan suami kecilnya. Ini terlalu indah untuk dilewatkan!

#........#

Eheheheee, gomen gomen, Lin kemaren lupa up😅😅

Vote and comment please 💗

Please, Stay With Me Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang