18. Naruto's Room

3K 218 17
                                        

Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..

So, let's reading...

#…………….#

Sepeninggal Naruto, Sasuke masih tetap bertahan dalam posisi yang sama selama hampir satu setengah jam. Dia asyik sendiri dengan pemandangan pohon besar yang berada tepat sepuluh meter jaraknya dari jendela. Manik segelap malam pemuda Uchiha terakhir itu bisa melihat beberapa burung berwarna biru yang entah apa namanya, dia juga tak tau, pun ada dua ekor merpati putih yang bertengger manis pada salah satu ranting dari cabang besar pohon itu. Ada juga dua ekor tupai kecoklatan sedang sibuk berebut sebuah biji kenari, hingga keduanya terguling jatuh ke tanah.

Saat kedua burung merpati putih terbang menjauh, dan burung tersebut adalah hewan terakhir yang dia lihat masih sibuk di pohon itu, Sasuke ikut beranjak, sedikit terasa bosan karena si pemuda yang kini bermarga Uzumaki baru sadar kalau sejak pagi ternyata ia belum juga keluar dari tempatnya berhibernasi.

Sasuke melangkahkan kakinya ke arah pintu, keluar dari kamar. Tak tau sadar atau tidak, langkah kakinya langsung mengarah ke kamar si pemuda pirang, yang pintunya memang tak tertutup. Mungkin lelaki itu lupa atau justru terburu-buru. Yang pasti, kamar tersebut nampak gelap bahkan dari luar, membuat rasa penasaran Sasuke membuncah.

Jari-jari Sasuke yang nampak seindah wajah pemiliknya menelusuri dinding ruangan tanpa cahaya tersebut, tonjolan kecil di dinding dia tekan lembut, membuat lampu yang ada di langit-langit ruangan segera saja mengeluarkan cahaya putih. Kamar tersebut jadi terang dan terlihat jelas.

Ini adalah kali pertama Sasuke masuk ke kamar Naruto. Bukan karena apa-apa, hanya disebabkan dia terlalu malas keluar kamar nya sendiri jika tak ada hal penting. Sama seperti Naruto yang jarang memasuki kamarnya, Sasuke juga jarang keluar dari kamarnya.

Kelereng kembar sewarna tinta milik Sasuke menelusuri kamar dengan dinding yang dicat warna biru dan langit-langit bernuansa kayu tersebut, hingga pandangannya tertuju pada jendela yang tertutup rapat oleh gorden berwarna putih tulang. Tak ada kesulitan baginya untuk menarik gorden tersebut, hingga cahaya matahari masuk melalui jendela, terpapar di lantai dan menyinari ruangan tersebut dengan cahaya alami.

"Hm, begini lebih baik," gumam Sasuke sambil tersenyum tipis.

Di atas meja nakas samping ranjang, terdapat lembaran-lembaran yang tersusun rapi tapi sedikit acak, menarik minat Sasuke saat lembaran itu masuk ke penglihatannya. Langkahnya mendekat, lalu berhenti tepat di depan meja. 

Sasuke terpaku.

Itu adalah lembaran-lembaran foto yang berisi kegiatan-kegiatan penuh senyum Naruto dan Neji. Dan dibalik setiap foto itu, ada ungkapan cinta yang begitu mendalam, diiringi sebuah tanggal di bawahnya. Ada juga foto-foto yang di belakangnya bertuliskan kesedihan Naruto karena lelaki Hyuuga itu tiada.

Empat buah lembar foto jatuh dari tangan Sasuke, tulisan di belakangnya lah yang membuat kesadaran si pemuda Uchiha seolah terenggut. Dia diam dengan pandangan kosong, untuk kemudian lelaki itu terduduk di atas ranjang, rasa bersalahnya pada Naruto semakin besar.

Itu adalah untaian kata maaf karena tempat yang seharusnya menjadi milik Neji, kini justru diisi oleh orang lain. Dan orang itu adalah dirinya.

Pandangan Sasuke tertunduk menatap lantai, 'maafkan aku Naruto. Kehadiranku bukan hanya membuatmu terbebani, tapi juga tersakiti,' batin Sasuke bergemuruh.

Bukankah artinya, keberadaan dia dalam hidup si pemuda pirang benar-benar hanya membawa beban berat untuk putra Hokage keempat itu? Kalau begitu, akan lebih baik dia mati saja, kan. Jadi Naruto tidak akan mengalami semua ini, lelaki itu tidak akan mengalami rasa bersalah pada kekasihnya yang telah tiada, tidak akan terpaksa hidup bersamanya yang jelas-jelas tidak dicintai. Dan ya, lebih baik Sasuke mati agar dia bisa berkumpul bersama orang tua dan keluarganya yang lain. Daripada tetap menjadi beban.

Saat memikirkan hal-hal tersebut, tatapan Sasuke berubah tajam. Ya, agar Naruto tidak lagi kesulitan dikarenakan dirinya, berarti dia hanya tinggal mati, kan? Dengan pandangan seperti itulah, Sasuke segera menyambar sebuah kunai yang memang tergeletak di ujung meja. Jika diperhatikan lebih jauh, ada lambang Hyuuga diiringi kanji bertuliskan nama Neji dan Naruto pada pegangannya.

Tanpa kesulitan berarti, Sasuke memejamkan mata saat bilah tajam kunai mulai ia gunakan untuk mengiris lehernya. Masih tipis, namun cairan berbau besi berwarna merah segera keluar dari tempat irisan itu. Dia menahan suara ringisan yang hendak keluar dari kedua belah bibir nya.

Sasuke sudah akan semakin memperdalam kunai agar nadi di lehernya teriris, andai saja tidak ada tangan berwarna tan yang melempar kunai itu secara tiba-tiba entah ke mana.

"Na--Naruto," Sasuke tergagap.

Wajah berkumis Naruto terlihat kemerahan, tatapannya nampak tak fokus, tubuh pemuda itu separuh limbung, bau alkohol yang begitu menyengat tercium oleh indra pembau Sasuke. Naruto sepertinya benar-benar mabuk berat.

"Hehe," seringai Naruto terbit kala tatapan liar nya lurus menatap manik legam Sasuke.

"Kau mau mati, he? Mau menyia-nyiakan usahaku, he?" lelaki mabuk itu mencengkeram leher Sasuke, menjilat darahnya, dengan pandangan sayu.

"Shhh, Na--Naru," Sasuke mendesis.

"Hee, kau Sasuke, kan. Kau tau tidak, kau itu mirip sekali dengan Neji, loh. Hmm, hehe, tapi kalian jelas-jelas orang yang berbeda ya kan," Naruto meracau dengan nada khas orang mabuk.

#.......#

Sesi menghujat si Narto akan dimulai 😔

Vote and comment please 💗

Please, Stay With Me Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang