49. It's not your fault

2.7K 204 13
                                        

Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..

So, let's reading...

#…………….#

"Jadi, ada keperluan apa sampai kau repot mencari ku?"

Hyuuga Hiashi sang kepala klan, bertanya dengan nada kaku nya pada Naruto dan Sasuke yang kini duduk berhadapan dengannya, hanya dihalangi oleh sebuah meja kayu yang diatas nya terdapat sebuah teko putih berisi air minum dan beberapa gelas kecil yang ditata rapi disamping teko tersebut.

"Saya hanya ingin menyerahkan barang-barang milik Neji," Naruto langsung bicara pada intinya, lagian dia tidak tau harus basa-basi seperti apa pada lelaki kaku nan galak tersebut. Salah-salah yang ada dia terkena pukulan delapan tigram 64 telapak tangan nya. Sedikit bergidik saat mengingat nya, karena dia pernah merasakan hal itu dari si Hyuuga berambut cokelat yang marah.

"Neji?"

Hiashi berseru heran, dia tidak tau kalau keponakan nya sedekat itu dengan si vessel kyuubi hingga meninggalkan barang-barang yang jelas miliknya pada si pirang. Naruto mengangguk, lalu membuka segel pada gulungan di tangannya, hingga keluarlah beberapa barang.

"Ini semua milik Neji?"

"Ha'ik, itu benar."

"Hmm, lalu bagaimana bisa ada di tanganmu?"

"Tentu bisa, karena sebelum perang berlangsung di adalah kekasihku," jawab Naruto lugas.

Hiashi jelas terkejut, itu adalah sesuatu yang tak pernah ia duga.

Wajah Sasuke tertunduk menatap lantai kayu, rasa bergemuruh tak nyaman menyentil hatinya, kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Namun ia lantas mendapati tangan Naruto yang ikut diletakkan di atas genggaman, ikut menggenggam tangannya bahkan hingga percakapan itu selesai.

Genggaman yang tidak Naruto lepas bahkan saat mereka berdua telah berada di luar kompleks Hyuuga.

"Tidak perlu banyak berpikir, Sasu," ucap Naruto sambil menarik Sasuke ke dekapan. Sasuke tidak menyahut, meski begitu dia membalas pelukan Naruto.

Si pirang ber-shunshin ke tujuan terakhir gulungan di tangan nya. Tentu sembari tetap memeluk kekasihnya. Pohon tua yang hampir kering lah tujuannya. Di pertengahan pohon tersebut terdapat goresan panjang vertikal seperti irisan, yang goresan itu berada di sekitar tinggi remaja di atas permukaan akar. Goresan yang dibuat Iruka untuk menyemangati cita-cita nya sebagai Hokage.

Pohon ini selalu spesial untuknya.

"Untuk apa kita ke sini? Mau belajar teori ninja lagi?" Sasuke bertanya saat dia melihat sekeliling ternyata dekat dengan akademi, walau bukan tepat di akademi nya langsung.

Naruto tertawa, "tentu saja tidak, sayang."

Naruto berjongkok di dekat akar yang menyembul. Tanpa diminta, Sasuke mengikuti gerakan Naruto yang lalu mengeluarkan sekop kecil.

"Mau apa, sih?"

"Mengubur foto-foto," jawab Naruto.

Dia mulai menggali tanah, dan baru berhenti saat sudah galian yang ia buat mencapai kedalaman 30 cm. Gulungan kecil yang tersisa dibuka, hingga keluarlah lembaran-lembaran foto.

"Mau membantu ku menguburkan nya?" tawar Naruto yang melihat pandangan Sasuke terpaku pada lembaran foto tersebut.

Sasuke menggeleng setelah terdiam beberapa saat.

Foto telah dipendam, tanahnya juga telah diratakan, tapi Sasuke masih fokus tak terganggu. Sepertinya dia melamun. Ketika Naruto menoleh, dia terkejut karena yang ia dapati adalah onyx kelam itu berurai air mata.

"Sasu, ada apa, hmm?" tanya Naruto seraya mengangkat dagu Sasuke.

Helaian rambut Sasuke ia singkirkan ke samping, hingga mata basah itu bertemu tatap dengan netra biru miliknya. Jemari Naruto mengusap aliran air mata di pipi sang submissive.

"Kenapa? Apa yang membuatmu menangis, sayang?" tanya Naruto lagi.

"A--aku--"

"Seharusnya dia yang bersamamu, bukan aku," ucap Sasuke lirih, dia kembali merasa bersalah saat untaian kata dalam foto yang pernah ia baca kembali terngiang. "Harusnya aku--"

Entah apa yang akan diucapkan Sasuke, karena sebelum ucapan itu terselesaikan, dia lebih dulu dibungkam oleh sebuah ciuman. Sasuke memejamkan mata. Ciuman lembut Naruto menenangkan pikiran nya yang terasa serba salah. Sungguh, meski dia memang mencintai pemuda disampingnya ini, bukannya kejam untuk merebut Naruto dari hati yang lain?

Lagipula, dia adalah seorang Uchiha. Uchiha yang perasaan adalah segalanya. Jadi rasa bersalah itu mutlak, selalu ada. Meskipun dia memang sempat sakit hati pada Naruto, tetap saja, dia lah yang masuk ke dalam hidup Naruto hanya untuk nyawanya yang tak berharga.

Terlepas dari ucapan semua orang kalau klan nya adalah klan yang hanya bisa menebar kebencian, dia tau dengan pasti kalau itu salah. Uchiha akan menyayangi sesuatu atau seseorang yang ia anggap berharga dengan sepenuh hati.

Dan Naruto adalah seseorang yang berharga baginya, sangat. Karena itulah saat dia mengetahui bahwa Naruto benar-benar tak bahagia bersama nya, yang dia rasakan adalah penyesalan dan rasa bersalah.

"Jangan menangis, sayang. Kamu tau, air mata mu terlalu berharga untuk sesuatu yang tak seharusnya kamu sesali. Bukan salahmu kamu menempati posisi nya, bukan salahmu kalau aku mencintaimu dan menempatkan namamu lebih tinggi dari nya, semua bukan salahmu. Ini adalah takdir rumit yang menyatukan kita, takdir rumit yang harus kita lewati agar mencapai bahagia bersama. Jadi jangan terlalu berpikir, bahwa ini adalah kesalahanmu. Tidak, kamu tidak salah. Yang salah adalah aku yang sebelumnya justru terjebak pada masa lalu. Ya, sayang."

Naruto mengecup ujung pelipis Sasuke yang tak menjawab, namun pelukannya terasa dieratkan.

#......#

Vote and comment please 💗

Eh, Lin mo tanya dung, ada yang sama gak kek Lin? Kalo udah dari kamar mandi tuh tangan sama kaki lamaaaa banget buat balik anget lagi. Lin gitu Mulu soalnya. Kalo subuh nih, Lin mandi jam 4 atau ½4, nah nanti itu tangan gak bakal anget kalo belum jam 8, kalo mau lebih cepet anget ya di akalin. Bahkan kalau cuma wudhu aja juga sama😫😫

Please, Stay With Me Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang