Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#…………….#
"Tadaima," seru Naruto sambil masuk rumah lalu bergegas ke kamar Sasuke.
"Sasuke??" panggil Naruto yang tak mendapat jawaban.
Dia masuk ke dalam kamar Sasuke, namun ketika ia telah berada di dalam ruangan rapih yang menjadi tempat si Uchiha terakhir tertidur tersebut, tidak ada Sasuke di sana.
Kening Naruto berkerut, jelas-jelas chakra pemuda Raven itu ada di dalam rumah. Tapi di mana??
Akhirnya Naruto berjalan keluar kamar, dia akan mencari Sasuke.
Ternyata Sasuke berada di dapur, berdiri di depan wastafel dengan tatapan kosong nan hampa. Dengan kedua telapak tangan terjulur ke air yang mengalir dari keran, sikunya bertumpu di pinggiran wastafel. Wajahnya nampak tanpa rona, begitu pucat seperti tidak dialiri darah.
"Sasuke," Naruto kembali memanggil, memutar bahu Sasuke hingga keduanya berhadapan.
Pandangan Sasuke masih tetap fokus ke satu titik, dengan kesan tak ada kehidupan disana. Jelas tatapan itu membuat Naruto meringis.
Dia mengusap kelopak mata suami kecilnya itu, barulah si Raven berkedip pelan, lantas mundur sejengkal dengan tatapan yang kembali meliar.
Lagi, penyesalan yang akan dia ingat seumur hidup itu kembali terasa. Dadanya berdenyut nyeri karena hal itu. Kesalahan fatal tersebut membuat rasa takut yang besar tumbuh dari lelaki yang harusnya selalu dia lindungi.
Tapi Naruto tidak mau lari lagi, ucapan Iruka benar. Dia tidak boleh lepas tanggung jawab. Bukankah Sasuke begini karena dirinya??
Jadi ia mengulurkan kedua tangan, meraih pinggang Sasuke yang baru disadarinya begitu pas dalam rengkuhan. Tidak Naruto biarkan Sasuke kembali mundur. Dia mengelus pelan pundak hingga rusuk Sasuke, yang lalu ia dekap.
Helaian rambut hitam Sasuke bergerak pelan, lelaki berperawakan tinggi namun kalah tinggi oleh si pirang penyuka warna oranye itu ingin menjauh dari pelukan Naruto. Tapi satu tangan Naruto yang bertengger di pinggang nya menahan pergerakan.
"Sasu, hey, tenang oke. Tenang, aku tidak akan melakukan apapun."
Bisikan demi bisikan penenang berkali-kali Naruto lontarkan, hingga tubuh Sasuke yang semula kaku mulai melemas, wajah pucat nya bersandar di dada bidang Naruto, matanya terpejam. Rasa takut yang menggelegak itu menghabiskan tenaga nya yang memang hanya sedikit.
Dengan gerakan halus, Naruto menyelipkan satu tangannya di sendi lutut Sasuke, membawa Sasuke ke kamar dalam gendongan ala bridal.
"Sasuke," panggil Naruto lagi saat Sasuke telah ia baringkan, tapi Sasuke masih diam.
Hingga Naruto memanggil Sasuke untuk yang ketiga kalinya dengan lebih khawatir. Apa saja Sasuke pingsan? Sebab, tidak ada respon sejak tadi, matanya juga masih terpejam.
"Hnn," dehem Sasuke lirih.
Naruto bernafas lega, dia lantas duduk bersimpuh di lantai samping ranjang, telapak tangan Sasuke yang tadi ada di aliran air entah berapa lama, Naruto genggam agar suhu hangat dari tangan nya sendiri bisa mengurangi dingin pada Sasuke.
"Maafkan aku Sasuke, sungguh maafkan sikap brengsek ku yang menyakitimu sejak awal," ucap Naruto lirih, "kau tau, penyesalan terbesarku bukan lagi karena tidak bisa bersamanya, tapi karena kamu yang terus tersakiti dikarenakan diriku sendiri, padahal seharusnya aku menjagamu sepenuh hati. Sungguh, maafkan aku yang malah menyakiti sosok seberharga dirimu," bisik Naruto yang bisa didengar Sasuke tanpa Naruto tahu.
~~
Sasuke tidak mengerti dirinya sendiri.
Ketika tau kalau dia harus menikah dengan Naruto, pemuda yang berbaring sambil menatap langit-langit kamar itu merasa kalau sedikit kebahagiaan ada untuknya. Sebab, si lelaki pirang memang adalah orang yang dia cintai sejak lama, walau dalam diam.
Namun saat dirinya menyadari, kalau Naruto menikahi dia benar-benar hanya karena terpaksa, juga dengan kondisi yang tidak bisa apapun selain membuat suaminya kerepotan, dia sangat merasa kalau dirinya hanya menjadi beban. Kehadiran nya hanya membuat Naruto kewalahan.
Hingga kala dia tau bahwa pernikahan mereka berdua justru membuat Naruto gamang, si lelaki Raven tak bisa berpikir jauh.
Benar, kan??
Karena dia Naruto tersiksa, karena dia Naruto harus mengalami dilema, karena keberadaannya yang sebenarnya bisa saja dibiarkan Naruto harus mengalami hal tak terduga. Dia juga tak tau harus bagaimana. Apa memang dia lebih pantas tidak lagi ada di dunia?
Lalu saat-saat menyakitkan sewaktu Naruto pulang dalam keadaan mabuk, perilaku kasar si pirang yang menyakiti fisiknya, nama yang disebut, semua semakin menabur garam di atas luka. Dia hanya sebuah bayang dari sosok lelaki yang telah tiada, membuat nya merasa menjadi sosok tak berguna yang bahkan diakhir pun hanya menjadi masalah.
Sasuke telah berniat menjauh, tapi karena ucapan-ucapan Sakura, tambahkan Naruto yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, dia kembali berpikir ulang.
Akhirnya, keputusan sebelumnya dia ralat. Dan lagi tanpa bisa dipungkiri, setiap malam rasa rindunya justru semakin membuncah. Dia tak bisa membohongi hatinya yang ingin tetap tinggal. Bahkan walau sudah ada luka dan trauma pada dirinya.
Namun kala netra nya mendapati keberadaan si pirang, rasa takut yang telah coba dia tekan malah kembali datang. Dia takut dengan kekasaran Naruto saat menjamahnya, di sayat dengan ribuan pedang sepertinya lebih baik daripada saat-saat dimana dia merasa bahwa kau hanyalah sebuah pelampiasan dan bayang-bayang dalam kesakitan si pirang.
#.......#
Hehehehe...
Ada kah yang waiting this story??
Gomen Lin baru update, huehe, kemaren lagi males soalnya
Vote and comment please 💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
FanfictionSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
