50. In the park

2.7K 188 10
                                        

Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..

So, let's reading...

#…………….#

Si pirang mendudukkan diri di bawah pohon, memposisikan Sasuke agar lebih baik dan nyaman. Rambut bersurai gagak itu ia mainkan menggunakan jari, pun kembali memberi ciuman-ciuman lembut di seluruh bagian wajah yang bisa ia capai. Dia tidak mau Sasuke terlarut dalam pikiran jelek nya.

Yah, kalaupun ada yang harus disalahkan, itu bukan Sasuke. Itu adalah dirinya. Dia yang membawa Sasuke dalam hidup nya, dan dia juga yang malah menyakiti lelaki itu karena terus terlarut dalam masa lalu yang jelas tak akan bisa ia gapai kembali.

"Sudah tenang?" tanya Naruto lima belas menit kemudian.

Sasuke hanya mengangguk singkat, menyembunyikan wajah di ceruk leher suami pirang nya. "Tapi jangan dulu pulang, tetap di sini, ya," pinta Sasuke, suaranya terdengar serak.

"Aku tau tempat yang mungkin akan lebih baik untuk kita duduk bersama sekarang ini, mau ke sana?"

"Hng? Terserah, asal jangan pulang," Sasuke mengeratkan kedua lengan nya di leher Naruto.

"Baiklah," sahut Naruto sambil bangkit berdiri.

Tak lama setelah Naruto berdiri, tempatnya berpijak segera dihiasi pusaran angin, dan keduanya telah hilang. Naruto ber-shunshin pergi agar lebih cepat sampai.

Naruto berhenti ber-shunshin di taman kecil yang kebetulan sepi. Hanya ada tiga ekor bocah bermain pasir di ujung sana. Dia menuntun Sasuke ke ayunan yang berdiri kokoh di tengah-tengah taman, berniat hendak mendudukkan Sasuke di sana, dia malah mendapati kursi bergoyang itu terlihat agak kotor dan lembab. Mungkin sisa hujan gerimis semalam yang memang sempat mengguyur desa.

Dia menurunkan Sasuke yang segera berdiri di atas tanah. Ayunan berbentuk kursi panjang tersebut dibersihkan dulu oleh Naruto dengan menggunakan kaus tipis yang baru saja diambilnya dari fūin penyimpanan di pangkal lengan. Setelah yakin ayunan tersebut tidak lagi kotor, baru lah Naruto meminta Sasuke duduk di sana terlebih dulu, kemudian dia ikut mendudukkan diri di samping kekasih pemilik mata Rinnegan-nya itu.

Naruto mengerjap, Sasuke yang sudah duduk tiba-tiba bangkit berdiri, lalu pindah posisi dan duduk di pangkuan nya, bersandar dengan kedua tangan memeluk lehernya.

"Kenapa, hm?"

Naruto bertanya heran, namun tak ayal dia juga mengelus pipi Sasuke yang kini tidak lagi terlalu tirus. Toh dia senang kalau Sasuke manja begini pada nya. Sasuke hanya menjawab pertanyaan Naruto dengan sebuah gelengan singkat.

Tidak mau pria berwajah manis itu jatuh, Naruto merengkuh pinggang si submissive sementara dia sendiri bersandar ke punggung kursi ayunan sambil ikut menumpukan dagu di bahu sang kekasih.

"Sasu, sebentar lagi tanggal kelahiran mu. Kamu mau hadiah apa dari ku?"

"Kenapa bertanya?"

"Yah, kamu kan tau sendiri, aku ini bodoh kalau soal hal seperti itu. Makanya aku bertanya dulu, daripada hadiah yang kuberikan padamu nanti tidak berguna, kan," Naruto mengangkat bahu nya pelan. Dia memang tidak ahli soal beri-memberi hadiah.

"Apa saja, yang kau berikan akan ku gunakan," sahut Sasuke singkat, "dan lagi, itu masih sekitar dua bulan ke depan, darimana nya yang sebentar lagi?" lanjut nya sedikit bingung.

"Bagiku itu sebentar lagi, kamu tau. Tapi betulan apapun? Kalau ku berikan anaknya Gamakichi bagaimana?"

"Ya setidaknya kau pikirkan saja, Dobe! Buat apa memberi anak kodok pada ku? Mau ku berikan pada Aoda?!" Sasuke berseru ketus, kesal pada pertanyaan nyeleneh suami pirang nya.

Naruto terkekeh. Dia hanya bercanda. Tidak mungkin juga dia berikan anak kodok betulan pada Sasuke, yang jelas-jelas punya pemanggilan ular, musuh para kodok. Yang ada nanti dia di sleding Gamabunta. Kalau lebih sial, yang turun tangan Ma atau Pa. Apalagi Gamakichi si kodok kecil yang dulu imut, sejak jadi boss kodok baru malah galak.

"Tidak perlu marah, sayang. Kamu malah semakin imut kalau marah," goda Naruto sambil mencolek dagu lancip Sasuke.

Plak!

"Siapa yang kau panggil imut, hah?!" Sasuke menggeplak kepala Naruto keras, semakin sebal. Wajah nya memerah, entah kesal atau malu. Mungkin dua-duanya, karena dia merasa wajahnya panas akibat ucapan Naruto.

"Aduh, sakit, sayang.." rengek Naruto, mengusap kepalanya yang kena geplak, "aku kan bicara jujur, kamu kalau marah makin imut, makin cantik," lanjut nya yang kembali mendapat geplakan sayang yang lebih kencang dari tadi.

"Ittai, Sasuuuuu. Duuh, lama-lama kamu semakin mirip Sakura saja, suka sekali menganiaya lelaki lemah lembut nan baik hati juga tampan dan rajin menabung ini."

"Berisik lagi ku pukul lagi kau!!"

"Ehehe, gomennee, habis wajah mu lucu."

"Dobe!!"

"Iya iyaaaaa, pemarah sekali kucing hitam ku ini. Shut, jangan marah lagi."

Sasuke yang ingin kembali berseru kesal karena Naruto terus saja menggoda nya, tidak jadi bersuara karena bibir Naruto telah lebih dulu membungkam nya. Wajah nya yang sudah seperti tomat matang, semakin merah.

Ayunan bergerak pelan, angin berhembus lembut, daun dari pepohonan yang ada di sekitar juga ikut bergoyang mengikuti gerakan searah mata angin. Cahaya matahari yang seharusnya terik karena waktu kini ada di puncak tertinggi nya, justru tak terlalu terasa di kulit, disebabkan sinar panasnya dihalangi oleh gumpalan awan putih yang sibuk berkeliaran di atas sana. Membuat mereka berdua akhirnya begitu nyaman dan tenang.

Tanpa sadar, keduanya tertidur dengan saling bersandar.

#.......#

Vote and comment please 💗

Kadang Lin bingung, ini story udah romantis gak sih😫

Please, Stay With Me Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang