Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#................#
Sasuke masih sibuk dengan sesak di dada nya, tak tau kalau pintu kamar yang dia tempati mulai terbuka sedikit, memunculkan kepala yang nampak mengintip apa yang terjadi.
Sementara Naruto, dia terkejut saat mendapati Sasuke terbaring meringkuk di lantai. Segera saja dia masuk kamar itu dengan terburu-buru, lalu merengkuh bahu Sasuke.
"Sasuke, apa yang terjadi padamu?!" Naruto berseru khawatir.
Lelaki bermanik musim panas itu mengangkat tubuh Sasuke perlahan, membawa pemuda itu agar kembali ke atas ranjang. Dia bisa melihat dengan jelas kalau sang sahabat sibuk mencengkeram erat dadanya sendiri, dengan napas terputus-putus yang terdengar sengau.
"Bernapas lah perlahan, Sasuke. Tenang, oke, tenang. Lihat, ada aku. Tenang lah."
Respon Sasuke adalah sebuah gelengan cepat, seolah menolak saran nya.
"Tenanglah," kembali Naruto menginstruksikan, sambil satu tangan nya bergerak mengusap dada Sasuke perlahan. Satu tangan yang lain beralih menggenggam kedua tangan Sasuke yang hendak memukul dadanya sendiri, menahan agar hal tersebut tidak dilakukan.
Sayangnya Sasuke tetap mengalami hal serupa. Tangannya juga berontak, tetap kukuh memukul dadanya, berniat menghilangkan sesak itu. Ucapan Naruto nampak tak terdengar. Sungguh, Naruto bingung harus bagaimana ini?!
Tiba-tiba dia mengingat satu kisah singkat nya bersama Neji.
Naruto pernah mengalami panick attack yang menyebabkan dia kesulitan bernafas. Dia lupa apa penyebab nya. Tapi yang jelas, dia ingat kalau kekasih nya itu justru menciumnya saat napas nya tak terkendali, memberi ciuman buatan, katanya. Namun ternyata memang berhasil walau itu tidak sepenuhnya selesai. Setidaknya kepanikan yang dia rasa berangsur menghilang, dan napasnya juga perlahan normal.
(Then, nafas yang lagi gak normal kan memicu kepanikan, nah salah satu cara supaya nafas balik normal lagi adalah hilangin dulu rasa paniknya. Because kalau masih panik, maka sesak tetep bakal terasa, gak bakal mendingan, this just info gals)
Tapi jika dia melakukan nya pada Sasuke, bukannya itu berarti dia harus mencium bibir Sasuke?! Tidak tidak!! Sasuke bukan Neji, dan dia bukan orang yang mencium seseorang selain kekasihnya!
'Tapi Naruto, ini bukan waktunya berpikir ke arah sana!!' batinnya menjerit, jelas frustasi dengan keadaan Sasuke yang tak baik-baik saja.
Baiklah, tidak ada pilihan lain. Seperti saat Naruto memutuskan untuk menikah dengan Sasuke agar nyawa lelaki Uchiha terakhir itu selamat, dia juga harus menyelamatkan Sasuke dari semua gangguan seperti ini, kan. Itu tugas seorang suami, ya kan?
Akhirnya dengan membulatkan tekad, Naruto menempelkan bibirnya pada belahan tipis Sasuke, tidak terlalu singkat, tapi dia benar-benar hanya mencium bibir tanpa ada hal lain. Dia hanya berusaha mengalirkan saliva nya dan sedikit udara agar lelaki itu tidak lagi kesulitan bernapas. Dia melakukan hal tersebut beberapa kali, hingga Sasuke tidak lagi tak terkendali. Dalam hatinya dia kembali merapalkan untaian maaf pada si lelaki Hyuuga.
Sasuke sempat terkejut saat Naruto mencium bibirnya.
Walau masih merasa sesak di dada, Sasuke mulai menenangkan diri. Ya, setidaknya kini dia tidak sendiri menghadapi hal seperti ini. Walau dia tau Naruto--
Pemikiran nya terhenti kala dia merasakan pinggang nya direngkuh erat namun lembut, dia dipeluk oleh pemuda pirang itu tanpa halangan.
"Sudah lebih baik??" Naruto bertanya khawatir. Diangguki kecil oleh pemuda bersurai raven itu.
Mata Sasuke terpejam sejenak, berusaha menenangkan diri. Sampai lambat-laun, napasnya yang sejak tadi memburu berangsur normal. Walau begitu, tubuhnya lemas tak terkira.
Wajah Sasuke bersandar lelah pada dinding berurat Naruto, dia kembali memejamkan mata.
"Tidurlah, aku akan menemanimu," ucap Naruto dengan tangan yang membelai halus bahu si pemuda raven.
Sasuke tidak langsung tertidur, tentu saja. Dia bisa benar-benar terlelap sekitar dua jam kemudian, saat dadanya yang sejak tadi sesak dan mulai membaik, tidak lagi terasa nyeri.
Pemuda pirang yang memeluk Sasuke itu hanya tersenyum tipis kala helaan nafas Sasuke terdengar teratur, tanda bahwa lelaki itu telah tiba di alam mimpi. Sempat refleks hendak mengecup kening Sasuke, karena itulah yang dulu biasa dia lakukan dengan Neji saat lelaki Hyuuga itu tidur bersamanya. Tapi sebelum bibirnya mendarat di dahi mulus si lelaki berkulit porselen, dia segera mengingat kalau orang di pelukannya bukan Neji. Jadilah dia hanya memberi sebuah usapan singkat diantara kedua pelipis Sasuke dengan menggunakan ibu jarinya.
'Neji, maafkan aku.'
Lagi dan lagi, Naruto membatin kan ucapan maaf. Bagaimana pun juga, dia telah mengkhianati kesetiaan yang mereka berdua junjung tinggi sejak berpacaran.
Tatapannya mengarah pada jendela yang tak tertutup gorden. Hm, jika ini adalah kamarnya, maka jangan harap dia akan mendapat jendela tak tertutup. Matanya terpaku pada bulan yang ada dibalik bayang-bayang sebuah pohon, menghalangi pandangan. Langit malam nampak gelap sekali. Maklum saja, nampaknya langit masih ingin menangis setelah sejak kemarin sore mengguyur desa dengan kelebatan hujan nya.
Kemudian Naruto melihat seekor kelelawar masuk ke dalam kamar, masuk melewati sebuah celah kecil yang terbuka. Dengan mode Sennin yang memang bisa dia aktifkan kapan saja selagi masih memiliki banyak chakra, Naruto melempar mini kelelawar itu kembali terbang ke arah yang lebih jauh.
Dia menatap puncak kepala Sasuke dalam diam. Entah kenapa, seakan Neji lah yang ada di hadapannya.
'Neji, maafkan aku.'
#......#
Vote and comment please 💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
FanfictionSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
