Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#…………….#
"Kamu masih takut padaku, Sasu??"
Ragu-ragu Sasuke mengangguk. Sulit menghilangkan perasaan kalut itu. Bahkan saat ini pun, dia mati-matian mencoba mengendalikan diri.
"Maaf telah membuatmu begitu takut,"
"Naru, maafmu mungkin, belum bisa ku terima," lirih Sasuke, matanya ia pejamkan. Setidaknya walau dia takut, pelukan hangat Naruto sedikit menenangkan.
"Tak apa, itu pantas untukku. Sekarang, ayo naik ke ranjang. Kamu bisa kedinginan kalau diam di lantai seperti ini."
"Ti--tidak perlu," seru Sasuke dengan gelengan pelan.
Sebuah cengkraman pada bahu justru diterima Naruto. Nafas Sasuke sedikit terengah, jangan-jangan sesak nya kambuh?
Pemuda pirang itu menghela nafas. Baiklah, dia tidak akan memaksa. Si pirang belum sadar kalau ada sesuatu yang salah pada Sasuke. cengkraman di bahu dia asumsikan karena Sasuke menahan rasa takut, ingatkan kalau Sasuke masih tak bisa menahan rasa takut nya saat melakukan kontak fisik dengan Naruto.
Dia justru membawa Sasuke ke pangkuan nya. Lengan Sasuke ia lepas perlahan dari bahu, lalu dia bawa untuk digenggam. Saat itulah Naruto menyadari nya. Sebab genggaman Sasuke begitu kuat.
"Sasu??" Naruto memanggil pelan.
Tak ada jawaban dari Sasuke, si raven malah kembali tersengal. Naruto akhirnya tau kalau ternyata sesak nafas yang seringkali dialami itu kembali kumat.
"Sasu, tenang. Oke, tenang. Jangan panik. Tarik nafas pelan-pelan, baru kemudian hembuskan."
Kata penenang keluar dari mulut Naruto, diikuti usapan pelan dan konstan di dada Sasuke dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya bergerak meraih satu bantal di atas ranjang, yang lalu dia letakkan di pinggir tubuh Sasuke, untuk kemudian kembali dia dekap.
"Na--Naru, sesak, haa--h, Na--"
Ucapan Sasuke terbungkam, bibirnya dipagut lembut. Hanya sebentar, tapi Sasuke bisa merasakan sebuah aliran chakra masuk ke dalam tubuhnya.
Naruto mencium sudut mata Sasuke yang berair, dagu lancip si raven pun bersandar di pundaknya, juga tangan yang terkulai tak bertenaga. Sasuke memejamkan mata, dia lelah. Sungguh, kapan napasnya kembali normal? Kenapa sesak itu tak juga hilang?
"Kamu mau tidur lagi, Sasu?? Chakra mu terasa sangat tipis."
"Ti--tidak," tolak Sasuke.
Begitu mendengar ucapan singkat Sasuke, Naruto hanya mengangguk lalu bangkit perlahan. Dengan posisi seperti tadi, itu mempermudah Naruto untuk menggendong suami kecilnya ala koala. Lantas kakinya berjalan keluar dari kamar, tujuan langkah lelaki itu adalah halaman belakang kediaman.
Sebuah pohon apel rindang yang nampak berbuah lebat, berdiri kokoh di samping kanan taman belakang kediaman yang ukuran nya tak terlalu besar tapi juga tak kecil. Ada dua petak tanah kosong di sebelah kiri, sebelumnya di sana terdapat tanaman-tanaman kecil untuk memasak. Sayuran. Jelas bukan si pirang yang menanam. Rumput-rumput Jepang yang lembut kala kaki berjejak di atasnya, memenuhi sepertiga bagian halaman di daerah sekitar pohon apel.
Naruto duduk bersandar pada batang pohon, dedaunan rimbunnya menaungi sehingga sinar terik dari lampu terang di langit sana tidak langsung terkena kulit. Sasuke bersandar di pangkuannya dengan mata terpejam. Sementara pada salah satu cabang pohon di atas sana, seekor rubah berbentuk chibi sedang asyik mengunyah apel segar yang langsung dipetik dari pohonnya. Kesembilan ekor rubah mungil itu melambai-lambai seolah tertiup angin.
Pemilik wajah yang iris indah nya tak terlihat karena matanya memejam, Naruto perhatikan tanpa kedip. Seperti apa yang dia ucapkan, penyesalan itu selalu terlihat. Hal tersebut akan menjadi sesuatu yang akan terus dia ingat. Sembari membatin dalam hati, berjanji pada diri sendiri agar tidak lagi menyakiti lelaki dalam dekapannya ini di masa depan.
Rambut gagak si suami kecil Naruto mainkan. Lembut, nyaman, wangi vanilla.
Dia hirup dalam-dalam aroma menenangkan itu. Tatapan penuh kewaspadaan masih sering Naruto lihat dari bola mata gelap Sasuke, tapi syukurlah Sasuke tidak melarikan diri darinya. Justru malah dia yang dengan bodoh berkali-kali melarikan diri dari Sasuke. Bertindak pengecut karena tak kuasa mendapati tatapan menyayat hati dari si pemilik hati.
Ya, Sasuke sudah menjadi pemilik hati nya. Bukan lagi Neji. Meski Naruto sendiri mengetahui kalau dia tak akan pernah bisa benar-benar melupakan Neji, dia sadar Sasuke sudah masuk lebih jauh ke kedalaman hatinya yang sempat terkunci.
Tiba-tiba Sasuke menggeliat, wajah yang tadi tersembunyi di dadanya kini terlihat. Satu senyum gemas muncul dari belahan bibir Naruto.
Bagaimana tidak gemas??
Sebelah pipi Sasuke tergencet hingga hidungnya terlihat sedikit miring, pipi yang sebelah lagi berwarna kemerahan efek tadi, bulu matanya begitu lentik, lalu bibir yang sedikit terbuka karena posisi pipinya.
Astaga!!
'Ini sangat menggemaskan!!' batin Naruto.
Sungguh indah wajah yang dulu hanya terlihat datar sedatar triplek disetrika tersebut. Memang benar ya, orang tsundere itu kalau sudah bertingkah manis, auranya berkali-kali lipat melebihi orang lain.
Sedang asyik-asyiknya terpesona, Naruto mengaduh karena ada yang jatuh ke kepalanya. Wajah si pirang seketika berubah masam saat mendapati bekas apel yang dagingnya telah habis ada dekat kakinya, jelas benda itulah tadi yang menjadi meteor tak terduga dan hinggap di kepalanya dengan tanpa perasaan.
Dia menatap ke atas. Dan yang dia lihat adalah seringai menjengkelkan dari si rubah chibi.
# ......#
Vote and comment please 💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
FanfictionSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
